Bau Blotong PG Mojo Sragen Dikeluhkan Warga, Manajemen Beri Penjelasan

Bau Blotong PG Mojo Sragen Dikeluhkan Warga, Manajemen Beri Penjelasan
Sebuah truk beroperasi mengangkut material blotong dari halaman depan ke halaman belakang di kompleks PG Mojo Sragen, Sabtu (14/3/2026). (Daerah/Tri Rahayu)

Medianusantara.site, SRAGEN — Warga di sekitar Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen mengeluhkan bau tidak sedap yang menyengat dari limbah blotong dalam satu hingga dua pekan terakhir. Manajemen PG Mojo Sragen mengaku telah berupaya meminimalkan dampak tersebut dan menyebut bau kini mulai berkurang sejak dua hari terakhir.

Blotong merupakan limbah padat berupa lumpur hasil penyaringan nira dalam proses produksi tebu di pabrik gula. Limbah ini berwarna gelap dan kaya kandungan organik sehingga sering dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Tokoh masyarakat Mojo Wetan, Kelurahan Sragen Kulon, Puryatno, mengatakan banyak warga di sekitar PG Mojo, khususnya di Mojo Wetan, mengeluhkan bau tidak sedap tersebut. Ia menyebut hingga saat ini belum ada laporan resmi yang disampaikan warga kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen.

“Barangkali sudah ada yang mengadu ke kelurahan. Kebetulan saya sudah purna tugas. Di lingkungan rumah saya juga tercium bau tidak sedap yang menyengat saat angin ke selatan. Sejak dua hari terakhir baunya sudah berkurang. Sebelumnya sekitar sepekan terakhir, atau sejak awal puasa, sudah tercium bau tidak sedap,” ujar Puryatno kepada Espos, Sabtu (14/3/2026).

Puryatno yang juga mantan Lurah Sragen Kulon mengatakan selama bertahun-tahun tinggal di Mojo Wetan, baru kali ini warga merasakan bau blotong yang begitu menyengat. Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya kondisi serupa tidak pernah terjadi.

“Baunya seperti bau tumpukan sampah. Saat proses giling pada 2025 lalu tidak bau, tetapi setelah giling justru baunya menyengat,” katanya.

Ia menambahkan keluhan warga biasanya muncul saat pertemuan warga atau ketika ronda malam di pos kamling. “Mereka hanya bertanya-tanya apakah pemerintah sudah turun tangan atau belum,” ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan warga di Kampung Kuwungsari, Sragen Kulon. Salah satu warga Kuwungsari, Bayu, mengatakan bau limbah tersebut cukup menyengat dan terasa hingga wilayah tempat tinggalnya. Bayu yang juga karyawan Bank Jateng Cabang Sragen mengatakan beberapa rekan kerjanya juga merasakan bau tidak sedap tersebut.

Sisa Produksi Tebu

Sementara itu, Pimpinan Bagian Keuangan dan Umum PG Mojo Sragen, Samuel Mahendra, menjelaskan bau tidak sedap yang dirasakan masyarakat berasal dari timbunan sisa produksi tebu yang dikenal sebagai blotong. Ia mengatakan blotong tersebut merupakan sisa proses giling tebu pada 2025 yang sementara ditampung di halaman PG Mojo.

Menurut Samuel, bau muncul akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir sehingga mengguyur timbunan blotong tersebut.

“Bau tersebut muncul karena intensitas hujan beberapa hari lalu tinggi sehingga mengguyur timbunan blotong yang sementara ditampung di halaman PG Mojo Sragen. Kondisi sekarang cuaca mulai panas, kami baru bisa mengelola dan merelokasi timbunan blotong,” jelas Samuel saat ditemui di kantornya.

Ia menjelaskan saat timbunan blotong diguyur hujan, kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak bau yang kurang menyenangkan bagi masyarakat sekitar. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak pabrik telah merelokasi timbunan blotong ke halaman belakang PG Mojo.

Blotong tersebut kemudian dikelola bersama mitra PG Mojo, yakni Paguyuban Masyarakat Mojo Bersatu, untuk diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi petani, khususnya petani tebu di wilayah utara Bengawan Solo.

Samuel menambahkan relokasi timbunan blotong juga dilakukan sebagai bagian dari penataan area halaman pabrik yang akan digunakan untuk kegiatan tradisi lokal masyarakat Sragen menjelang musim giling tebu, yaitu tradisi cembrengan.

“Yang jelas kami tidak bisa menolak hujan sehingga faktor hujan mengakibatkan sedikit dampak tentang bau yang tidak menyenangkan. Kami sudah berupaya menanganinya saat ini, seperti merelokasi timbunan blotong di halaman belakang dan pengelolaan selanjutnya oleh masyarakat,” kata dia.

Leave a Reply