Puasa saat Lebaran

Puasa saat Lebaran
Rudi Hartono (Daerah/Istimewa)

Medianusantara.site, SOLO– Mudik atau pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga dan bertemu dengan kerabat menjadi momentum yang dinanti setiap Lebaran. Tak heran, orang rela menempuh perjalanan sangat jauh agar bisa bertemu orang tua dan saudara.

Setiap tahun, lebih dari 100 juta orang pulang kampung melalui jalur darat, udara, dan air. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 154,62 juta orang mudik dari daerah perantauan ke daerah kampung halaman pada momentum Lebaran 2025 lalu. Angka ini setara dengan 54,89% dari total penduduk di Indonesia. Pada Lebaran tahun ini, pemerintah memprediksi akan ada 143,9 juta masyarakat yang mudik.

Fenomena-fenomena ini membuat Ramadan dan Lebaran menjadi peristiwa sosial terbesar di Tanah Air. Dalam ruang sosial yang besar itulah berbagai ekspresi muncul. Orang menyambut Lebaran dengan cara masing-masing.

Ada yang menyiapkan rumah agar terlihat lebih rapi dan nyaman bagi tamu. Ada yang membeli pakaian baru. Ada pula yang menyiapkan hidangan terbaik untuk menyambut keluarga yang datang dari jauh. Bahkan, tak sedikit yang membeli sepeda motor, mobil, HP, perhiasan, dan barang lainnya sebagai ekspresi suka cita.

Sebagian orang berbelanja di mal. Ada yang berbelanja di pasar tradisional. Sebagian lainnya berbelanja melalui loka pasar atau belanja online. Tak heran kendaraan kurir semakin sering melintas di jalan desa atau perkampungan. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadhan dan Lebaran 2026 berpotensi menembus Rp190 triliun atau lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang senilai Rp160 triliun.

Berada di kampung halaman tentu sangat menggembirakan. Namun dalam beberapa situasi, kegembiraan itu bisa berubah menjadi kompetisi yang tak kasatmata. Dalam perubahan sosial yang terjadi saat ini, Lebaran tidak lagi sekadar perayaan kebersamaan, tetapi juga menjadi ruang simbolik untuk menunjukkan pencapaian hidup. Kendaraan baru yang dibawa pulang saat mudik, rumah yang dipoles agar tampak lebih megah, atau cerita tentang pekerjaan yang tampak menjanjikan sering kali menjadi penanda status sosial yang diam-diam diperbandingkan.

Fenomena sosial ini bisa menjadi tekanan bagi sebagian orang untuk terlihat sukses. Akibatnya, pada momentum Lebaran justru tipe orang tertentu berupaya bagaimana caranya agar tampak sukses. Kita tentu tidak bisa menghakimi fenomena itu sepenuhnya negatif. Kita juga perlu berpikir positif hal tersebut mungkin saja hanya sebagai bentuk ekspresi syukur.

Pada sisi lain, dalam masyarakat yang kuat dengan nilai kekeluargaan seperti Indonesia, percakapan tentang kehidupan pribadi juga dianggap wajar. Pertanyaan tentang kapan menikah, tentang pekerjaan, mengapa belum memiliki keturunan, atau rencana masa depan sering dipahami sebagai bentuk perhatian. Namun di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan itu juga dapat menjadi tekanan sosial yang tidak selalu disadari.

Tidak semua orang berada dalam fase kehidupan yang sama. Sebagian mungkin masih mencari jalan hidupnya. Sebagian lain sedang menghadapi kesulitan yang tidak mudah diceritakan kepada siapa pun. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang tampak sederhana dapat berubah menjadi pengingat yang menyakitkan tentang hal-hal yang belum tercapai. Bisa saja orang yang ditanyai stres alih-alih gembira lantaran berkumpul bersama sanak saudara.

Misalnya saja pertanyaan kapan menikah. Pertanyaan yang menggambarkan ekspektasi sosial itu sering kali memicu kondisi psikologis yang dikenal sebagai quarter life crisis, khususnya pada individu dewasa muda yang belum menikah.

Quarter life crisis dapat berlangsung hingga tahap dewasa awal, yaitu pada rentang usia 25 hingga 35 tahun (Jayanti & Masykur, 2015). Pada umumnya, di fase ini individu telah dianggap dewasa oleh lingkungan sekitar berdasarkan usia, sehingga muncul berbagai tuntutan dan harapan yang berkaitan dengan norma serta nilai sosial yang berlaku di masyarakat (Cahyasari & Winta, 2022). 

Meskipun bagi sebagian orang pertanyaan ini mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian,bagi individu lain-terutama yang rentan terhadap penilaian sosial, pertanyaan tersebut dapat memicu stres, kecemasan, bahkan menurunkan minat untuk menikah. Tekanan ini semakin besar ketika lingkungan sekitar, termasuk keluarga dan teman sebaya, menjadikan pernikahan sebagai tolak ukur keberhasilan hidup seseorang.

Di sinilah paradoks Lebaran terasa begitu nyata. Selama bulan Ramadan, umat Islam dilatih untuk menahan diri: menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah, dan menahan kata-kata yang tidak perlu. Puasa bukan hanya soal tidak makan dan minum, tetapi juga latihan untuk mengendalikan diri. 

Namun setelah Ramadan berlalu dan takbir Idulfitri berkumandang, pelajaran tentang menahan diri itu terkadang cepat terlupakan. Lidah yang selama sebulan dilatih untuk berhati-hati, kembali bebas berbicara tanpa banyak pertimbangan. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terasa ringan bagi yang mengucapkan, justru bisa menimbulkan luka kecil bagi yang mendengarnya.

Barangkali di sinilah kita memerlukan satu jenis puasa lain: puasa setelah puasa. Bukan puasa dalam arti menahan lapar atau dahaga, tetapi puasa dalam arti menahan diri dari hal-hal yang berlebihan. Puasa dari dorongan untuk memamerkan keberhasilan hidup. Puasa dari kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Puasa dari komentar atau pertanyaan yang menyentuh wilayah pribadi seseorang.

Dan yang paling penting, puasa dari kata-kata yang mungkin menyakitkan tanpa kita sadari. Terlebih sebagai muslim, kita diajarkan untuk berkata baik kepada orang lain. Dalam HR. Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.

Puasa semacam ini mungkin tidak memiliki jadwal khusus seperti Ramadan. Ia tidak dimulai dengan rukyat hilal dan tidak diakhiri dengan takbir kemenangan. Tetapi justru puasa inilah yang sering kali lebih sulit dijalani. Menahan lapar mungkin berat, tetapi menahan lidah sering kali jauh lebih menantang.

Jika Ramadan mengajarkan kita untuk mengendalikan diri di hadapan Tuhan, maka Lebaran seharusnya menjadi kesempatan untuk mempraktikkan pengendalian diri itu di tengah sesama manusia. Silaturahmi bukan hanya soal saling mengunjungi rumah, tetapi juga tentang menjaga perasaan orang lain yang kita temui.

Mungkin Lebaran akan terasa jauh lebih hangat jika percakapan yang muncul bukan lagi tentang pencapaian hidup atau standar keberhasilan yang sama bagi semua orang. Mungkin Lebaran akan terasa lebih bermakna jika kita lebih banyak bertanya tentang kabar atau cerita kehidupan yang ingin dibagikan dengan tulus.

Ramadan telah melatih kita berpuasa selama sebulan penuh. Namun mungkin ada satu puasa yang masih perlu kita lanjutkan setelah hari raya: puasa dari kata-kata yang berlebihan, dari kebiasaan menghakimi kehidupan orang lain, dan dari dorongan untuk menjadikan Lebaran sebagai panggung pamer keberhasilan.

Sebab pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya tentang kembali suci di hadapan Tuhan. Idulfitri juga tentang menjadi manusia yang lebih lembut dalam memperlakukan sesama.

Leave a Reply