Medianusantara.site, SEMARANG — Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY) menyoroti maraknya kecelakaan yang melibatkan truk di turunan Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Jalur di Jalan Prof. Hamka tersebut selama ini dikenal rawan kecelakaan, terutama karena tingginya aktivitas truk bermuatan besar yang melintas.
Wakil Ketua DPD Aptrindo Jateng-DIY, Dedy Untoro Harli, mengatakan keberadaan truk di jalur tersebut tidak lepas dari kebutuhan distribusi barang menuju dan dari kawasan industri di sekitarnya, seperti BSB Industrial Park.
“Truk melintas karena memang ada kebutuhan distribusi. Di sana terdapat kawasan industri, sehingga aktivitas logistik tidak bisa dihindari,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan truk menjadi pilihan utama karena lebih efisien dari sisi biaya dibandingkan kendaraan kecil, terutama untuk pengangkutan material dalam jumlah besar seperti bahan bangunan.
Menurut Dedy, jika kawasan industri di sekitar Silayur ditutup, maka lalu lintas truk otomatis akan berkurang. Namun, kebijakan tersebut dinilai akan berdampak luas terhadap sektor lain yang bergantung pada distribusi barang.
Terkait isu over dimension over load (ODOL), Dedy menyatakan pihaknya siap mengikuti aturan. Namun, ia menekankan perlunya penyesuaian ongkos angkut serta penegakan aturan yang juga menyasar pemilik barang, bukan hanya pengangkut.
“Selama ini yang ditekan hanya pengangkut, sementara pemilik barang jarang diimbau,” katanya.
Di sisi lain, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memberikan sejumlah rekomendasi terkait tingginya angka kecelakaan di jalur tersebut.
Meski demikian, Dedy menilai sebagian besar kecelakaan justru disebabkan faktor human error, seperti kelalaian pengemudi, penggunaan ponsel saat berkendara, hingga kurangnya pengalaman melintasi jalur curam.
“Untuk jalur ekstrem seperti turunan, dibutuhkan pengemudi berpengalaman. Jika tidak, risiko kesalahan pengoperasian akan meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerusakan sistem pengereman pada truk umumnya bukan terjadi sejak awal perjalanan, melainkan akibat kesalahan penggunaan saat di jalan.
Aptrindo menegaskan perawatan kendaraan secara rutin telah dilakukan oleh para pengusaha truk. Namun, peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya pengemudi, dinilai menjadi kunci untuk menekan angka kecelakaan di jalur rawan seperti Silayur.

Leave a Reply