Medianusantara.site, JAKARTA — Film arahan sutradara Bernardus Raka berjudul Nobody Loves Kay bisa menjadi pilihan bagi yang ingin mencari inspirasi bagaimana mengejar dan mewujudkan mimpi.
Film drama coming-of-age ini memotret realitas tajam tentang harga sebuah pilihan, dan bagaimana rasanya berdiri tegak di tengah keraguan banyak orang.
Cuplikan (trailer) yang baru saja dirilis menyisakan satu pertanyaan besar: “Saat semua orang berbalik membelakanginya dan dunia tidak lagi mendukungnya, jalan manakah yang akan dipilih oleh Kay?”
Apakah ia tetap bertahan di arena demi membuktikan diri pada mereka yang selama ini menyepelekannya, ataukah ia justru kehilangan dirinya sendiri demi kemenangan yang kesepian?
Jawaban atas pertaruhan hidup Kay tersebut akan terungkap saat Nobody Loves Kay tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026.
Dilansir Antara, Senin (11/5/2026), drama inspiratif ini menyajikan kisah tentang pemain profesional (pro player) Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dari tim ONIC, Kairi atau Kay, yang memperjuangkan mimpi yang bagi banyak orang sangat tidak mungkin.
Berawal dari film pendek berjudul The Dream Chaser (Pengejar Mimpi) pada 2024, Raka menyajikan kedalaman nuansa (tone) yang berbeda pada versi layar lebar di film Nobody Loves Kay.
“Alasan perubahan judul tersebut akan terjawab saat menonton filmnya nanti. Secara garis besar yang bisa aku jelaskan di sini adalah ketika kamu mengejar sesuatu dengan sangat kuat, kamu tentu akan bergesekan dengan orang di sekitar kamu, dan itu konsekuensinya, nah, ‘somehow’ judul ini merepresentasikan itu,” kata Raka seusai konferensi pers peluncuran poster dan cuplikan (trailer) Nobody Loves Kay di Jakarta, Senin.
Narasi film ini menyentuh sisi emosional personal (personal things) tentang upaya seorang pemuda membuktikan jati diri di tengah tekanan besar. Pemeran tokoh utamanya, Bima Azriel, mengatakan film ini tidak terbatas untuk komunitas pemain gim (gamers), tetapi juga dapat dinikmati khalayak luas karena mengangkat nilai universal tentang keluarga dan persahabatan.
“Aku rasa film ini menyajikan banyak perspektif bagi penontonnya, seperti memahami kalau harapan orang tua tuh sebenarnya memang baik. Namun, film ini juga memberikan perspektif bahwa anak sebaiknya tidak terlalu dikekang agar mampu memunculkan potensi aslinya di bidang yang mereka sukai,” kata Bima.
Libatkan Musisi
Pemeran karakter Ido, Rey Bong, menambahkan film ini menunjukkan mimpi menjadi pro player MLBB bukan diraih dengan bermain gim berlebihan sampai lupa waktu, namun harus melewati tahapan yang benar untuk bisa mencapai prestasi itu.
“Melihat generasi sekarang yang marak sekali dengan game-game yang dimainkan, balik lagi tujuannya tuh apa dulu, gitu. Kalau memang dia mau jadi atlet esport, ya ada tahapannya, ada aturannya juga, semuanya, bukan hanya kecanduan main game sampai pagi gitu,” kata Rey.
Mantan anggota grup idola JKT48 Nurhayati atau Ayastrophile, pemeran tokoh bernama BB yang bekerja sebagai perekrut kandidat pemain gim yang potensial mengatakan kehadiran tokoh BB menjadi pemicu munculnya konflik di antara tiga sahabat yang diperankan oleh Bima Azriel sebagai Kay, Rey Bong sebagai Ido, dan Joshia Frederico sebagai Aurelio.
Meskipun baru di dunia film, Aya merasa sangat terbantu oleh sambutan hangat dari para pemeran lainnya. “Mereka benar-benar ngebantu banget dan kayak merangkul. Mereka bilang, ‘Udah enggak apa-apa, lakuin aja, enggak usah enggak enakan gitu jadi orang’,” ujar Aya.
Produksi ONIC, Folago Pictures, Migunani Cinema Cult, dan Qun Films, bekerja sama dengan Visinema Pictures itu juga memiliki pemeran dari kalangan seniman lintas disiplin seperti koreografer Elly D Lutan hingga penyanyi rap kelahiran Medan, Sumatra Utara, Baskara ‘Basboi’.
Basboi menceritakan pengalaman debutnya di jagat seni peran melalui film layar lebar Nobody Loves Kay. “Rasanya kayak, ‘eh demi apa gue main film?’,” gitu sih. Itu ekspresi paling ringan untuk mengungkapkannya,” ujar Basboi.
Meski belum memiliki pengalaman akting di film, Basboi tetap berupaya menunjukkan performa terbaik versi dirinya. “Kita nyemplung aja lah, cobain (berusaha) yang terbaik,” kata Basboi.
Basboi pun mengungkapkan perbedaan ketika dia berakting di lokasi syuting serta tampil sebagai musisi di atas panggung. “Kali ini Basboi hadir di set justru jangan jadi Basboi, tapi jadi Tomo,” tutur Basboi.
Tomo adalah karakter anak yang tumbuh dengan pola asuh bermasalah hingga ia selalu bebas dari konsekuensi meski menyalahi aturan. Dengan berperan sebagai Tomo, Basboi memahami sisi gelap yang dirasakan karakter seorang perundung dan itu tidak mudah untuk orang-orang yang menjadi objek cemooh.

Leave a Reply