Medianusantara.site, SOLO — Banyak potensi di sekitar kita yang bisa menjadi peluang usaha. Bahkan sampah yang berserakan di pantai pun bisa diolah menjadi ide bisnis. Hal itulah yang dilakukan salah satu warga Denpasar, Bali, Wayan Sudirta. Dengan ketekunan, kreativitas, serta permodalan yang cukup, dia sukses menciptakan usaha, lapangan kerja, sekaligus lingkungan yang lebih bersih.
Jika kita mengunjungi pantai, terkadang akan melihat potongan-potongan kayu, bambu, tempurung kelapa, atau apa pun yang tergeletak di atas pasir setelah terbawa air laut. Dalam jumlah banyak, tentu hal itu akan mengganggu pemandangan. Kondisi itulah yang Wayan temui di sekitar tempat tinggalnya di Bali.
“Awalnya saya ke pantai. Kemudian saya melihat begitu banyak bahan yang menurut saya bisa dijadikan kerajinan. Dari situ tergerak hati untuk mencoba. Berkat karunia Tuhan, sampailah saya di titik saat ini,” kata dia dalam sebuah wawancara yang disiarkan di YouTube PTPNM Official.
Menurutnya, jika kayu-kayu itu dibiarkan begitu saja, pantai akan terlihat kumuh. Masyarakat sekitar pantai pun mungkin hanya mengumpulkan sampah tersebut untuk dibakar. Baginya, hal itu sangat disayangkan karena material tersebut masih bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Dengan begitu, upaya yang dilakukan diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan ekonomi sekaligus lingkungan. Terlebih, saat ini usahanya juga turut memberdayakan masyarakat sekitar.
Sekilas memang terdengar berbeda. Biasanya kerajinan tangan berbahan kayu dibuat dari kayu pilihan atau limbah mebel. Namun, itulah yang membuat produk Ulu Sari Handicraft yang dikembangkan Wayan berbeda dari yang lain. Setiap produknya juga tidak akan memiliki bentuk yang sama. Itulah yang menjadi keunikan produk Ulu Sari Handicraft.
“Keunikannya adalah kerajinan ini terbuat dari bahan yang natural dan tidak bisa dibuat sama. Semua terbentuk oleh alam. Itulah yang membuat produk dari Ulu Sari Handicraft berbeda dari yang lain,” lanjutnya.
Dalam menjalani usaha, tentu tidak semua berjalan tanpa tantangan. Ada banyak hambatan yang harus dihadapi. Pernah suatu waktu dia mengalami kekurangan pasokan bahan baku karena musim kemarau. Selain itu, dia juga menghadapi tantangan keluarga ketika orang tuanya mengalami masalah kesehatan hingga kondisi kritis. Pengalaman tersebut menjadi momen yang tak terlupakan, terlebih karena berbagai cobaan itu datang bersamaan saat dia pertama kali mendapatkan klien besar.
Saat itu, dia hanya bisa berserah diri kepada Tuhan sambil berupaya memanfaatkan relasi yang dimiliki.
“Saya minta tolong kepada teman-teman yang ada di sekitar pantai untuk mengumpulkan bahan baku, dan minta bantuan teman-teman di sini untuk dilatih mengerjakan produk. Akhirnya jalan keluar itu ada. Jadi ketika Tuhan memberi saya cobaan, Tuhan juga memberi jalan. Akhirnya rezeki saya dapat, biaya dapat, orang tua juga sehat. Itu jadi momen yang tak terlupakan,” kata dia.
Bangkit Menuju Level Usaha Lebih Tinggi
Salah satu tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha adalah masalah permodalan. Ketika pesanan melimpah, dibutuhkan dana lebih besar untuk produksi. Begitu pula ketika ingin mengembangkan usaha, tentu diperlukan tambahan modal. Dalam kondisi itulah Wayan merasa beruntung dipertemukan dengan PNM UlaMM.
“Suatu saat Tuhan mempertemukan saya dengan PNM UlaMM. Mereka memberikan saya modal sehingga kebutuhan permodalan usaha terbantu. Berkat bantuan tersebut, saya bisa menyelesaikan pesanan dari klien sekaligus mengembangkan usaha,” jelasnya.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan setelah memperoleh tambahan modal adalah mengembangkan workshop di wilayah Singaraja, yang merupakan kampung halamannya. Dengan menempatkan workshop di wilayah tersebut, dia dapat membantu saudara-saudaranya yang belum memiliki pekerjaan sekaligus memperlancar dan mengembangkan usaha.
Di sisi lain, dukungan yang diberikan PNM ternyata bukan hanya berupa modal. Sebab, sebulan sekali tim dari PNM UlaMM selalu datang untuk memberikan pendampingan.
“Jadi mereka juga sangat antusias mendukung usaha kami agar bisa berkembang lebih baik,” katanya.
Berkat bantuan yang diberikan PNM, banyak perubahan terjadi pada usahanya. Bahkan, secara omzet tahunan, usahanya mencatatkan peningkatan hingga dua kali lipat. Target pasarnya pun semakin luas. Saat ini bukan hanya pasar lokal yang menjadi sasarannya, melainkan juga pasar ekspor seperti Australia, Selandia Baru, Eropa, dan Amerika.
Salah satu karyawan Ulu Sari Handicraft, Arya, mengaku senang bisa bergabung dengan usaha yang dikembangkan Wayan tersebut. Ia mulai bekerja pada 2019 setelah terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya. Menurutnya, bergabung dengan Ulu Sari Handicraft telah banyak mengubah kehidupannya.
“Banyak perubahan yang saya rasakan. Dari segi pekerjaan lebih stabil, orderan lebih bervariasi, finansial juga lebih lancar. Pekerjaan ini sangat berarti karena menjadi sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga dan memenuhi berbagai kebutuhan. Selain itu, saya juga banyak belajar di sini,” katanya.

Leave a Reply