Jamasan Pusaka Raden Mas Said Kembali Digelar di Pendapa Bupati Wonogiri

Jamasan Pusaka Raden Mas Said Kembali Digelar di Pendapa Bupati Wonogiri
Jamasan pusaka peninggalan Mangkunegara I di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Minggu (5/7/2026). (Daerah/Muhammad Diky Praditia)

Medianusantara.site, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri kembali menggelar ritual tahunan jamasan pusaka peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I di Pendapa Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Wonogiri, Minggu (6/7/2026). Tradisi yang berlangsung setiap bulan Sura ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus mengenalkan nilai sejarah kepada masyarakat.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang dipusatkan di Kecamatan Selogiri, ritual jamasan kali ini digelar di Pendapa Rumdin Bupati Wonogiri. Prosesi tersebut menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus pengingat akan kuatnya jejak sejarah perjuangan Raden Mas Said di Wonogiri.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Wonogiri, Panggah Triasmara Budhaya, menjelaskan terdapat enam pusaka bersejarah berupa keris dan tombak warisan Mangkunegara I yang dijamas. Selama ini, benda-benda bersejarah tersebut dirawat dan disimpan di Tugu Pusaka Selogiri serta Rumah Tiban di Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto.

“Sehari sebelum prosesi jamasan, pusaka-pusaka ini telah mendapatkan perlakuan dan ritual khusus oleh para juru kunci masing-masing tempat. Selain enam pusaka tersebut, kami juga menyertakan satu perangkat gamelan berupa gong milik Pemkab Wonogiri untuk turut dijamas,” ujar Panggah kepada Espos, Minggu.

Prosesi jamasan dipimpin langsung oleh kerabat dan abdi dalem Pura Mangkunegaran Surakarta yang datang khusus ke Wonogiri. Acara tersebut dibuka oleh Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, dan berlangsung khidmat dengan seluruh peserta mengenakan busana adat Jawa jangkep.

Jamasan Jadi Pengingat Sejarah Perjuangan Raden Mas Said

Panggah menegaskan jamasan bukan sekadar ritual merawat benda pusaka, melainkan bagian penting dari pelestarian budaya daerah. Menurut dia, tradisi ini diharapkan mampu mengingatkan generasi muda bahwa Wonogiri memiliki hubungan historis yang erat dengan perjuangan Raden Mas Said.

Sementara itu, salah seorang peserta jamasan yang juga Camat Manyaran, Toto Tri Mulyarto, menilai pemilihan Pendapa Rumdin Bupati sebagai lokasi kegiatan merupakan langkah tepat. Menurutnya, lokasi tersebut menghidupkan kembali memori masyarakat pada era 1990-an ketika Wonogiri dipimpin Bupati Oemarsono, yang juga merupakan ayah kandung Toto.

Kala itu, kata Toto, ritual jamasan pada bulan Sura selalu dipusatkan di pendapa rumah dinas bupati dan menjadi agenda budaya yang dinantikan masyarakat.

“Dulu konsepnya dikemas khidmat namun sangat meriah. Setelah ritual jamasan di pendapa selesai, pusaka-pusaka tersebut langsung dikirab massal menyusuri jalan kota menuju depan Markas Kodim 0728/Wonogiri, lalu puncaknya dibawa ke kawasan Wisata Waduk Gajah Mungkur. Saking ramainya antusiasme warga waktu itu, jalur utama menuju waduk bahkan sampai macet,” kenang Toto.

Leave a Reply