Lebih dari Sekadar Sedih, Pahami Gejala dan Dampak Depresi bagi Kesehatan Mental

Lebih dari Sekadar Sedih, Pahami Gejala dan Dampak Depresi bagi Kesehatan Mental
Ilustrasi remaja depresi. (Freepik)

Medianusantara.site, SOLO — Depresi kerap disalahpahami sebagai sekadar perasaan sedih, kurang kuat, atau tidak mampu menghadapi tekanan hidup. Padahal, depresi merupakan kondisi kesehatan mental yang nyata dan dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, bekerja, belajar, serta menjalani hubungan sosial.

Bahkan tak jarang depresi menjadi alasan orang mengakhiri hidup. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan depresi sebagai gangguan mental umum yang ditandai suasana hati tertekan atau hilangnya minat dan kesenangan dalam jangka waktu lama.

Berbeda dari perubahan suasana hati sehari-hari, depresi dapat berlangsung hampir setiap hari, setidaknya selama dua pekan, dan mengganggu fungsi hidup seseorang.

WHO memperkirakan sekitar 332 juta orang di dunia mengalami depresi. Angka itu setara dengan sekitar 4 persen populasi dunia, termasuk 5,7 persen orang dewasa. WHO juga mencatat depresi lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki.

Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia atau SKI 2023 menunjukkan prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen. Kelompok usia 15–24 tahun menjadi kelompok dengan prevalensi tertinggi, yakni 2 persen. Namun, hanya 10,4 persen anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan.

Data tersebut menunjukkan persoalan depresi bukan hanya berkaitan dengan jumlah kasus. Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya keberanian dan akses untuk mencari bantuan. Salah satu penyebabnya adalah stigma. Sebagian orang masih khawatir dianggap lemah, berlebihan, mencari perhatian, atau tidak cukup bersyukur ketika mengakui gejala depresi.

Akibatnya, kondisi yang sebenarnya membutuhkan pertolongan kerap disembunyikan. Depresi juga tidak selalu tampak seperti gambaran yang sering muncul di masyarakat.

Jangan sampai Keliru Menilai

Seseorang yang mengalami depresi tidak selalu terlihat murung sepanjang waktu. Sebagian orang masih bisa bekerja, kuliah, bercanda, dan menjalani aktivitas harian, tetapi pada saat yang sama mengalami kehilangan minat, kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, perasaan tidak berharga, atau kehilangan harapan.

Karena gejalanya tidak selalu terlihat dari luar, orang di sekitar sering keliru menilai. Kalimat seperti “jangan banyak pikiran”, “coba lebih kuat”, atau “semua orang juga punya masalah” sering disampaikan dengan niat baik, tetapi dapat membuat orang dengan gejala depresi merasa semakin sendirian.

Kajian yang diterbitkan dalam BMC Nursing pada 2024 menunjukkan self-stigma pada pasien dewasa dengan gangguan depresi berkaitan dengan penurunan kualitas hidup, harga diri, dan rasa berharga. Self-stigma juga dapat membuat seseorang menyalahkan diri sendiri atau menyembunyikan kondisi yang dialami.

Sementara itu, penelitian dalam BMC Psychiatry pada 2025 menjelaskan banyak orang dengan gejala depresi tidak mencari bantuan atau menunda pengobatan. Stigma menjadi salah satu hambatan penting dalam perilaku mencari bantuan psikologis.

Karena itu, depresi tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kekuatan pribadi atau moral. Menyederhanakan depresi sebagai kelemahan justru dapat memperkuat rasa bersalah dan membuat seseorang semakin enggan mencari pertolongan.

Respons lingkungan menjadi penting. Ketika seseorang menunjukkan tanda depresi, respons yang lebih aman bukan menghakimi, melainkan mendengarkan dan memberi ruang. Kalimat sederhana seperti “kalau kamu ingin cerita, aku dengar” bisa lebih membantu daripada nasihat yang terburu-buru.

Depresi masih kerap disalahpahami karena banyak orang hanya melihatnya dari luar. Padahal, seseorang yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar baik. Memahami depresi berarti berhenti melihatnya sebagai kelemahan, lalu mulai memandangnya sebagai kondisi kesehatan yang nyata dan dapat ditangani.

Leave a Reply