Medianusantara.site, SOLO-Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta mewisuda 316 lulusan pada Wisuda Periode ke-41 yang digelar di Graha Saba Buana, Solo, Rabu (12/8/2026). Mengusung tema Mewujudkan Lulusan yang Unggul, Berkarakter Islami dan Berdaya Saing Global, wisuda tahun ini menjadi momentum bagi kampus untuk menegaskan komitmennya mencetak sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Rektor IIM Surakarta, Dr. Edy Muslimin, M.S.I., mengatakan wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal pengabdian di tengah masyarakat. Karena itu, ia berpesan kepada para lulusan untuk selalu menjaga integritas, terus belajar mengikuti perkembangan zaman, serta menjadikan ilmu yang dimiliki sebagai sarana memberikan manfaat bagi orang lain.
“Wisuda ini bukan akhir, justru awal dari pengabdian. Semua lulusan harus memiliki tekad kuat untuk terus belajar dan dengan ilmunya bisa memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).
Sebanyak 316 wisudawan yang diwisuda terdiri atas 38 lulusan Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI), 27 lulusan Hukum Keluarga Islam/Ahwal Asy-Syakhshiyyah (HK/AS), empat lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), tiga lulusan Manajemen Dakwah (MD), 225 lulusan Pendidikan Agama Islam (PAI), serta 19 lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Dalam wisuda kali ini, IIM Surakarta juga memberikan penghargaan kepada enam lulusan terbaik dari masing-masing program studi, yakni Fityatul Muharromah (MPAI), Muhammad Fajrul Minan (HK/AS), Haya Sayyidah Khansa (KPI), Fathimah Zahro Al Ghoziyah (MD), Shifa Choirun Nisa (PAI), dan Sheilla Halimatus Shaidah (PGMI).
Edy menjelaskan para lulusan telah dibekali kompetensi akademik dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal itu tercermin dari tingginya tingkat serapan lulusan. Berdasarkan laporan akademik, sebanyak 84,9% wisudawan telah bekerja, bahkan hampir 60% di antaranya memiliki pengalaman kerja lebih dari tiga tahun.
Mayoritas lulusan berkarier di sektor pendidikan dan dakwah sebagai guru maupun ustaz dengan porsi mencapai 62,1%. Selain itu, lulusan juga bekerja sebagai pegawai swasta dan aparatur sipil negara (ASN) masing-masing sebesar 6,7%, wirausaha 5,6%, serta tenaga administrasi 2,6%.
Menurut Edy, lulusan Program Magister Pendidikan Agama Islam banyak berkiprah sebagai pengelola lembaga pendidikan Islam, pengasuh pondok pesantren, hingga ASN di lingkungan Kementerian Agama. Sementara lulusan Hukum Keluarga Islam banyak bekerja di Kantor Urusan Agama (KUA), pengadilan agama, maupun kantor hukum berkat kerja sama kampus dengan Peradi Sukoharjo.
Adapun lulusan PAI dan PGMI sebagian besar terserap di berbagai lembaga pendidikan Islam, madrasah, maupun sekolah dasar. Sementara lulusan KPI banyak meniti karier sebagai jurnalis, pengelola media, reporter lepas, hingga pelaku usaha. Lulusan Manajemen Dakwah juga telah bekerja di lembaga filantropi, biro perjalanan haji dan umrah, bahkan menjadi pengelola biro perjalanan sendiri.
Selain menonjol dalam dunia kerja, para wisudawan juga menunjukkan keseimbangan antara prestasi akademik dan spiritual. Sebanyak 76,9% wisudawan tercatat memiliki hafalan Al-Qur’an minimal satu juz. Bahkan 15,1% di antaranya telah berstatus hafiz dengan hafalan 26 hingga 30 juz. Dari sisi akademik, 60,5% wisudawan telah berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal nasional.
IIM Surakarta juga menunjukkan karakter sebagai kampus yang inklusif dan mendukung pembelajaran sepanjang hayat. Meski hampir separuh wisudawan berusia 21-25 tahun, terdapat pula lulusan yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Para wisudawan berasal dari berbagai daerah, didominasi Kabupaten Sukoharjo (26,2%), Karanganyar (14,2%), Klaten (8,4%), Boyolali (8%), dan Kota Solo (7,1%).
Prestasi mahasiswa juga tidak hanya terbatas pada bidang akademik. Mahasiswa IIM Surakarta berhasil meraih Juara I Kejuaraan Tenis Meja Kapolda Jawa Tengah 2024, Juara III Tenis Meja Piala Bupati 2024, serta berbagai penghargaan di bidang fotografi, videografi, dan desain logo. Untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja, sejumlah wisudawan juga telah mengantongi sertifikat kompetensi resmi dari Lembaga Sertifikasi Profesi Kementerian Sosial RI.
Meski demikian, Edy mengingatkan bahwa lulusan saat ini menghadapi tantangan baru, terutama dampak globalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, teknologi dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat, tetapi juga berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis jika tidak digunakan secara bijak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, IIM Surakarta terus memperkuat kurikulum dan pengembangan keterampilan, termasuk kewirausahaan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing program studi. Selain itu, kampus juga tengah mempercepat transformasi kelembagaan menjadi universitas yang ditargetkan terwujud pada 2028, lebih cepat dari rencana awal pada 2032.
“Dengan menjadi universitas, kami berharap dapat memperluas layanan pendidikan, tidak hanya pada bidang keagamaan tetapi juga ilmu-ilmu umum yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam,” ujarnya. (NA)

Leave a Reply