Medianusantara.site, TEHERAN – Iran telah menyiapkan senjata presisi yang lebih dahsyat jika kembali terjadi permusuhan di kawasan Timur Tengah, kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Mohebi pada Kamis.
“Jika perang kembali pecah, senjata yang kami gunakan tentu akan berbeda, baik dari segi generasi hulu ledak, tingkat presisi, jangkauan rudal, maupun parameter lainnya,” kata Mohebi, seperti dikutip kantor berita Iran Defa Press.
Pejabat senior militer Iran itu menambahkan bahwa Teheran terus meningkatkan seluruh persenjataannya dengan mengembangkan senjata yang lebih presisi, lebih destruktif, dan lebih maju secara teknologi.
Mengutip pejabat AS, CNN sebelumnya melaporkan bahwa Washington beralih ke strategi “pencekikan” ekonomi secara bertahap terhadap Iran daripada mengambil tindakan militer.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan operasi ekonomi terhadap Iran dan menyebutnya sebagai upaya isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta mendesak negara-negara sekutu untuk bergabung.
Militer Amerika Serikat (AS) secara diam-diam membantu kapal tanker minyak berlayar melintasi Selat Hormuz, menurut laporan Axios pada Rabu, mengutip dua pejabat AS.
Operasi yang telah berlangsung selama beberapa minggu itu memungkinkan pergerakan rahasia hingga 20 kapal untuk masuk dan keluar dari Teluk Persia serta menyusuri jalur aman di sepanjang pantai Oman, menurut laporan tersebut.
Berdasarkan skema tersebut, sekitar 10 juta barel minyak diangkut setiap hari melalui jalur perairan itu.
Laporan tersebut menambahkan bahwa meski arus energi yang keluar dari selat itu kini hanya sekitar setengah dari volume sebelum perang, terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pasokan energi ke pasar dunia.
Rencana tersebut diawasi oleh Markas Besar Angkatan Darat AS di Fort Bragg, North Carolina, bersama para mitra AS di kawasan Teluk.
Menurut laporan tersebut, daftar harian kapal yang keluar menuju Laut Arab serta kapal tanker minyak kosong yang disewa dan memasuki kawasan Teluk dari arah laut kini disusun secara berkala.
Laporan itu menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut berlayar setiap malam sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan.
Pada malam sebelum 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani sebuah memorandum untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Namun, pada 8 Juli, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata tidak lagi berlaku. Sejak saat itu, pasukan AS telah melancarkan beberapa rangkaian serangan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan, pasukan Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Ditutup Sejak 12 Juli
Pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS mengakhiri campur tangannya di kawasan tersebut. Pengumuman itu disampaikan setelah kembali terjadi gelombang saling serang antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Sehari kemudian, Trump mengatakan bahwa AS akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Ia juga kembali memberlakukan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Teheran mengapresiasi tawaran Moskow untuk memfasilitasi dialog dengan negara-negara Teluk Persia dan siap bekerja sama, kata Duta Besar Iran untuk Rusia Kazem Jalali dalam wawancaranya dengan RIA Novosti.
Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Alimov mengatakan kepada surat kabar Izvestia bahwa Rusia siap memfasilitasi penyelesaian antara Iran dan negara-negara Arab serta bersedia menyediakan wadah untuk dialog bagi kedua pihak. Namun, Rusia tidak berniat memaksakan diri dalam proses tersebut.
“Tentu kami sangat menghargai peran dan upaya Rusia dalam memperbaiki hubungan kami dengan negara-negara tetangga dan memandang positif hal tersebut,” kata Duta Besar Iran tersebut.
“Kami menyambut baik peran apa pun yang dimainkan oleh sahabat-sahabat kami di Rusia dalam upaya meningkatkan hubungan antara Iran dan negara-negara tetangganya, dan kami siap bekerja sama dalam hal ini,” imbuhnya.
Jalali mengatakan Iran menganggap Rusia sebagai sahabat sejati di tengah masa-masa sulit yang dihadapi Teheran dan tidak meragukan iktikad baik Moskow.
Hubungan Iran dengan negara-negara Arab tetangganya di kawasan Teluk memburuk sejak dimulainya konflik dengan AS dan Israel yang dimulai pada akhir Februari.
Iran merespons serangan AS dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di sejumlah negara tersebut.

Leave a Reply