Dari Pinggiran Klaten, Leo Sukses Tapaki Panggung Bulu Tangkis Dunia

Dari Pinggiran Klaten, Leo Sukses Tapaki Panggung Bulu Tangkis Dunia
Samudra, kakak Leo Rolly Carnando. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Medianusantara.site, KLATEN – Leo Rolly Carnando, salah satu pebulu tangkis yang tergabung dalam skuad beregu putra peraih emas Asian Games 2026 di Jepang. Leo tampil pada nomor ganda putra berpasangan dengan Daniel Marthin turut memberikan andil penting pada laga final.

Masa kecil Leo tinggal Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Rumahnya berada di tepi Jl. Kyai Penjalin, salah satu jalan di wilayah pinggiran Klaten yang berbatasan dengan Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo.

Rumah itu ditempati dua orang yakni Trio Efendi, ayah Leo, dan kakaknya, Samudra. Setahun terakhir, keluarga Leo membuka toko olahraga kecil-kecilan bernama Leo Sport di rumah tersebut.

Berbagai peralatan terutama bulu tangkis ada di toko tersebut dari berbagai kelas. Koleksi jersey bertandatangan berbagai pemain top Indonesia menjadi hiasan dinding dalam toko.

Ada nama Bagus Maulana, Daniel Marthin, Markus Fernaldi Gideon, Muhammad Riyan Ardhianto, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Rian Angung Saputro hingga Jonatan Christie.

Toko tersebut dikelola Samudra, kakak Leo yang fasih menjelaskan kepada setiap pembeli yang konsultasi terkait peralatan olahraga. Maklum, Samudra sejatinya juga pebulu tangkis dan pernah merantau selama beberapa tahun bergabung dengan klub bulu tangkis di Kalimantan.

Rumah, berbagai koleksi jersey hingga toko menjadi bagian dari sejarah perjuangan panjang seorang Leo. Seorang anak kampung di pinggiran Klaten yang sukses menapaki panggung bulu tangkis dunia.

Masa Kecil Leo dihabiskan di rumah tersebut bersama ayah, ibu dan Samudra. Tak ada darah atlet dari orang tua. Ayah Leo, Trio Efendi yang akrab disapa Pak Bey merupakan seorang wiraswasta yang menjalankan usaha perlengkapan pesta pernikahan.

Berlatih Sejak Belia

Ketertarikan Leo pada dunia bulu tangkis sudah tumbuh sejak belia sekitar umur 1,5 tahun. Semua berawal dari kebiasaan Leo yang diajak menemani kakaknya bernama Samudra berlatih bulu tangkis di salah satu klub di Kota Solo.

“Sebenarnya saya dulu inginnya ke sepakbola. Tetapi, enggak dibolehin sama almarhumah ibu karena risikonya gede, ya cidera. Kemudian dianjurkan ke bulu tangkis,” kata Samudra saat ditemui Espos di rumahnya, Sabtu (26/9/2026).

Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)
Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Samudra masih mengingat betul awal-awal adiknya tertarik dunia bulu tangkis. Ketika itu, ukuran raket jauh lebih tinggi dibandingkan tinggi Leo. Namun, semangat bocah tersebut sangat tinggi untuk bermain bulu tangkis.

Melihat ketertarikan Leo tersebut, Pak Bey lantas memotong raket agar sesuai dengan ukuran Leo yang masih balita. Saking gandrungnya dengan bulu tangkis, Leo kecil terbiasa tidur dengan raket kesukaannya. “Iya, setiap hari itu pasti tidur bawa raket,” jelas Samudra.

Memasuki jenjang kelas 1 SD, Pak Bey lantas memasukkan putra keduanya ke klub bulu tangkis PB Golden Star Solo. Sempat pindah latihan di Karanganyar, Leo bergabung dengan PB PMS. Leo juga diikutkan latihan bulu tangkis secara private.

Tak cukup latihan di klub, Pak Bey  juga melatih sendiri putranya Samudra dan Leo. Saban pagi sebelum berangkat sekolah, Samudra dan Leo sarapan latihan. Keduanya menikmati menu latihan pagi bersama Pak Bey.

Meski tak bisa bermain bulu tangkis, Pak Bey belajar secara autodidak tentang teknik-tekniknya. Setiap putra-putranya latihan, Pak Bey setia duduk di pinggir lapangan.

Dia memilih fokus mengamati setiap gerakan Leo dan Samudra ketimbang berbincang dengan orang tua lainnya. Dari pengamatan itu lah yang kemudian diterapkan di rumah.

Motor Butut untuk Armada Latihan

Samudra mengingat betul bagaimana perjuangan kedua orang tua yang sangat mendukung ketertarikannya pada bulu tangkis bersama Leo. Sepeda motor bebek menjadi kendaraan pulang-pergi menuju tempat latihan di Kota Solo.

Bukan motor yang kondisinya lengkap. Bagian speedometer berlubang dan berganti fungsi menjadi tempat meletakkan aneka jajanan yang dinikmati saat beristirahat latihan di klub. Sesekali motor itu digunakan untuk berboncengan berempat, bersama almarhumah ibunya.

Saat hujan tiba, Samudra dan Leo berlindung di bawah mantol. Sempat ada kejadian mantol masuk ke gir motor ketika melaju hingga Samudra nyaris terjatuh. “Ada-ada saja kejadian waktu itu,” kata Samudra.

Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)
Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Ditempa latihan secara rutin, kemampuan Leo dan Samudra semakin terasah. Samudra kemudian bergabung dengan klub bulu tangkis di Kalimantan dan mendapatkan beasiswa. Sementara, Leo bergabung dengan PB Djarum pada 2015 setelah berulang kali gagal audisi.

Orang tua Samudra dan Leo sejak kecil menerapkan kedisiplinan serta tanggung jawab kepada putra-putranya. Ketika masih belia, Samudra dan Leo diminta mempertegas pilihan. Jika ingin serius latihan, keduanya diminta benar-benar serius. Jika ingin serius sekolah, pendidikan menjadi nomor satu.

Ikut Gaya Taufik Hidayat

Pak Bey membenarkan dulu setiap hari melatih sendiri putra-putranya sebelum mereka berangkat sekolah. Selepas Subuh, Samudra dan Leo dilatih teknik bulu tangkis hingga fisik dengan berlari dari rumah hingga Tegalgondo.

Pak Bey bersyukur saat itu guru-guru Leo saat menempuh pendidikan di SD yang berlokasi di Desa Duwet memberi kelonggaran karena mengetahui anak tersebut ingin serius menjadi atlet.

Bakat Leo pada dunia bulu tangkis sudah terlihat sejak belia. Leo kecil sudah memegang raket selayaknya pemain profesional. Ketika masih balita, Leo kerap bergaya selayaknya legenda bulu tangis Indonesia, Taufik Hidayat, ketika mengusap keringat. “Saya juga tidak ngerti dari mana dia bisa tahu kalau gayanya seperti itu,” ungkap Pak Bey.

Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)
Suasana toko Leo Sport yang dikembangkan pebulu tangkis Leo Rolly Carnando bersama keluarganya di sebelah rumah pribadi mereka di Dukuh Poko, Desa Duwet, Kecamatan Wonosari. (Daerah/Taufiq Sidik Prakoso)

Pak Bey juga mengungkapkan perjalanan Leo menapaki jalan atlet tak selalu mulus. Leo berulangkali gagal audisi masuk ke PB Djarum serta PB Jaya Raya. Hingga akkhirnya, Leo lolos audisi dan diterima di PB Djarum Jakarta dan tinggal di asrama.

“Total empat audisi gagal, kemudian audisi yang kelima diterima,” kata Pak Bey.

Perjuangan panjang akhirnya membuahkan hasil. Leo sukses meraih berbagai medali pada ajang kejuaraan pada nomor ganda putra.

Berdasarkan catatan Espos, Loe meraih juara dunia junior pada 2018 di nomor ganda campuran berpasangan dengan Indah Cahya Sari Jamil. Juara dunia junior pada 2019 di nomor ganda putra berpasangan dengan Daniel Marthin. Emas beregu pada kejuaraan dunia junior 2019.

Medali emas pada SEA Games 2021 di Vietnam pada nomor ganda putra berpasangan dengan Daniel Marthin.

Selepas menjadi bagian penting meraih emas Asian Games 2026 pada nomor beregu, Leo/Daniel kini masih berjuang di laga nomor ganda putra Asian Games. “Harapan saya, Leo bisa mempertahankan gelarnya, untuk yang perorangan [nomor ganda putra] bisa membawa medali lagi untuk keluarga, untuk bangsa Indonesia,” kata Pak Bey.

Leave a Reply