SOLO — Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kecantikan membuat tenaga medis dituntut untuk terus memperbarui kemampuan. Di sisi lain, kesiapan menghadapi kondisi kegawatdaruratan tetap diperlukan meski kejadian tersebut relatif jarang terjadi di klinik kecantikan.
Hal itu menjadi perhatian Eterniskin melalui Pelatihan Teori dan Simulasi Penanganan Kegawatdaruratan yang digelar pada Rabu (30/9/2026). Pelatihan tersebut diikuti tim medis Eterniskin sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat keamanan pasien.
Salah satu tim dokter spesialis Eterniskin, dr. Irene Andriani Halim, Sp.DVE, mengatakan perkembangan ilmu dan teknologi membuat tim medis harus terus mengikuti pembaruan.
“Ilmu dari waktu ke waktu terus berkembang, teknologi semakin berkembang, tentu saja kita harus selalu update,” kata dr. Irene.
Menurutnya, Eterniskin terus berupaya mengikuti perkembangan tersebut, termasuk dalam memilih metode yang dinilai paling baik, efektif, dan efisien bagi pasien. Kesiapan tersebut, lanjut dr. Irene, diharapkan dapat memberikan rasa aman kepada pasien ketika menjalani perawatan di Eterniskin.
Kesiapan Menghadapi Kegawatdaruratan
Pembicara Pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Eterniskin, dr. Lucky Chrisna Mahenta, Sp.An-TI, mengatakan kemampuan menangani kondisi darurat merupakan salah satu kompetensi yang perlu dimiliki tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif di RSUD Dr. Soekarno Sukoharjo dan RS Kardiologi Emirates Indonesia tersebut menyatakan kondisi pasien tidak selalu dapat diprediksi. Pasien yang datang dalam keadaan baik tetap memiliki kemungkinan mengalami perburukan selama menjalani prosedur.
“Penanganan kegawatdaruratan merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang tenaga medis dan juga tenaga kesehatan. Kita tidak tahu pasien yang kita tangani nantinya semuanya akan baik-baik saja atau justru ada yang mengalami perburukan,” ujar pemilik sertifikasi European Diploma in Anaesthesiology and Intensive Care (EDAIC) Part I itu.
Dalam konteks klinik kecantikan, terdapat sejumlah kondisi yang perlu diantisipasi. Prosedur yang berkaitan dengan injeksi, obat-obatan maupun substansi tertentu dapat memunculkan kondisi yang membutuhkan penanganan.
Selain itu, kondisi pasien juga perlu menjadi perhatian. dr. Lucky menyebut reaksi alergi, panic attack atau kecemasan berlebih hingga penyakit komorbid seperti gangguan jantung sebagai beberapa kondisi yang mungkin terjadi.
Karena itu, pelatihan dilakukan untuk memastikan tim memiliki bekal ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan.
“Kalau misalkan terjadi perburukan, kita sudah siap untuk penanganannya. Itu yang kita harapkan dari pelatihan yang diselenggarakan,” kata dr. Lucky.

Kesempatan Belajar bagi Tim Medis
Budaya belajar tersebut juga menjadi bagian dari keseharian tenaga medis Eterniskin. Dokter Estetik Eterniskin, dr. A. Damaiswari Rahmilia, atau yang akrab disapa dr. Indi, mengatakan workshop dan training bagi dokter serta asisten dokter dilakukan secara rutin, sekitar satu hingga dua bulan sekali.
“Dalam medis dan di luar medis pun kita menganut lifelong learning, jadi kita harus belajar terhadap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada,” ujarnya.
Melalui training dan workshop, tim mendapatkan bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam bidang estetika. Pembelajaran yang diberikan juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan medis.
dr. Indi mengatakan pengembangan tim mencakup berbagai aspek, mulai dari building networking, self-improvement, psikologi, cara bersikap, pelayanan kepada klien hingga leadership.
Menurut dr. Indi, pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Eterniskin menyiapkan tim agar mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan.
Tempat Bertumbuh bagi Tenaga Medis
Dari sisi tim yang menjalankan pelayanan sehari-hari, Asisten Dokter Eterniskin Aldilla Nurhaliza mengatakan dirinya mendapatkan cukup banyak kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang difasilitasi perusahaan.
Menariknya, pelatihan tersebut diberikan tanpa biaya bagi tenaga medis.
“Di Eterniskin ini saya cukup banyak mendapatkan pelatihan-pelatihan karena di Eterniskin memberikan fasilitas untuk tenaga medis, khususnya untuk meningkatkan keterampilan dari diri kita. Untuk pelatihannya kita tanpa biaya, jadi kita free. Semua fasilitasnya dari Eterniskin,” kata Aldilla.
Menurutnya, pelatihan rutin memberikan manfaat langsung dalam pelayanan. Salah satunya membuat tim lebih siap ketika menghadapi tindakan darurat sekaligus meningkatkan kemampuan bekerja sebagai sebuah tim.
“Yang ingin saya pastikan lebih ke patient safety. Keamanan pasien sendiri, pasien harus aman dan juga nyaman,” katanya.
Pengalaman mendapatkan fasilitas dan kesempatan belajar tersebut juga membuat Aldilla melihat Eterniskin bukan hanya sebagai tempat bekerja, tetapi sebagai ruang untuk mengembangkan profesinya.

Pelatihan kegawatdaruratan yang diikutinya, menurut Aldilla, menjadi bekal tambahan apabila suatu saat menghadapi pasien dalam kondisi emergency. Ia pun menggambarkan Eterniskin sebagai bagian dari perjalanan profesionalnya.
“Eterniskin adalah tempat saya untuk bertumbuh dan berkembang menjadi tenaga medis yang lebih profesional,” pungkasnya.

Leave a Reply