Medianusantara.site, SOLO — Polemik sterilisasi Jalan Mentawai di RW 013 Kampung Rejosari, Gilingan, Kecamatan Banjarsari, membuat sejumlah anggota DPRD Solo turun tangan untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.
Di satu sisi, Pemkot Solo ingin mensterilkan Jalan Mentawai sisi barat dari aktivitas parkir. Di sisi lain, warga menolak sterilisasi dan ingin tetap mengelola parkir di kawasan tersebut.
Pada Rabu (30/9/2026) malam, giliran Wakil Ketua DPRD Solo asal Gilingan, Ardianto Kuswinarno, yang menemui perwakilan warga RT 013, Lanyono dan Erludu. Wakil rakyat dari Partai Gerindra itu berdiskusi dengan warga untuk mencari jalan tengah atas persoalan tersebut.
Pertemuan berlangsung sekitar 1,5 jam di sebuah warung makan di pinggir Jalan Mentawai. Salah satu opsi yang dibahas adalah menyediakan lahan parkir baru bagi petugas parkir RW 013 Rejosari di luar kawasan Masjid Sheikh Zayed.
“Saya sampaikan, saya akan coba mencarikan solusi lahan parkir di luar wilayah Masjid Zayed. Jadi mereka bisa tetap bekerja mendapatkan nafkah, berangkat kerja, pulang dapat uang. Tapi di daerah mana, akan saya diskusikan dengan Kepala Dishub dan Mas Wali Kota,” ujar Ardianto.
Ardianto berpendapat program sterilisasi Jalan Mentawai sisi barat tetap harus berjalan karena jalan tersebut merupakan fasilitas umum. “Pendapat saya tetap harus jalan karena ini fasum ya, milik umum. Dan dari masjid sudah menyediakan tempat parkir,” sambung dia.
Namun, Ardianto menegaskan sterilisasi Jalan Mentawai sisi barat bukan untuk mematikan mata pencaharian petugas parkir di kawasan tersebut. Dia menyebut ada sejumlah opsi yang dapat dibahas untuk memberikan solusi bagi para petugas parkir.
“Saya sampaikan, kita tidak ingin membunuh pekerjaan saudara-saudara RW 013. Saya akan carikan solusi lahan parkir di luar wilayah RW 013,” tutur dia.
Minta Spanduk Aspirasi Diturunkan
Ardianto juga meminta Paguyuban Bersama RW 013 Rejosari menurunkan sejumlah spanduk aspirasi yang dipasang warga beberapa hari terakhir.
“Saya menyarankan, hari ini supaya diturunkan. Karena ini kan wisata religi. Kalau ini tetap dibiarkan kan kasihan orang dari luar, mengiranya di Solo ini ada konflik terkait religi. Padahal tidak,” ungkap dia.
Ardianto berharap wisatawan yang berkunjung ke Solo, khususnya ke Masjid Sheikh Zayed, dapat merasa aman dan nyaman. Dia pun telah menyampaikan permintaan tersebut kepada Lanyono agar spanduk-spanduk itu diturunkan.
“Saya sampaikan ke Mas Lanyono supaya ini dilepas agar masyarakat yang berkunjung merasa aman, nyaman. Saya tetap sarankan untuk diturunkan, katanya akan didiskusikan dengan paguyuban,” urai dia.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Bersama RW 013 Rejosari sekaligus Ketua RT 004/RW 013 Rejosari, Lanyono, mengonfirmasi adanya permintaan Ardianto agar atribut atau spanduk aspirasi yang dipasang warga beberapa hari terakhir diturunkan.
“Kata Pak Ardianto, spanduk-spanduk itu nanti takutnya para pengunjung takut, Masjid Zayed dipandang kok tidak kondusif, tidak nyaman. Padahal itu kan aspirasi warga yang taat hukum. Pajak kami juga bayar kan. Dan itu kita warga murni, itu bentuk aspirasi,” ungkap dia.
Namun, Lanyono menyatakan warga tidak akan mencopot atau menurunkan spanduk-spanduk tersebut apabila belum ada solusi yang jelas atas persoalan parkir.
“Kami bilang kalau belum ada solusi yang jelas, tidak akan mencopotnya. Apalagi kalau hanya teori yang disampaikan,” urai dia.

Leave a Reply