Medianusantara.site, SRAGEN — Ratusan petani dari berbagai wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, berduyun-duyun datang dalam Festival Jagung Hibrida Bangkok 21 yang digelar di Dukuh Jetak, Desa Jono, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Kamis (8/10/2026). Mereka sengaja datang untuk belajar tentang hasil benih unggul produksi PT Benih Citra Asia (Bintang Asia) dan didistribusikan oleh PT Saprotan Utama Nusantara.
Festival tersebut digelar di tengah kebun jagung milik petani seluas 200 hektare yang ada di wilayah Tanon.
Vice President Director PT Benih Citra Asia, Alfasyahri Pane, hadir bersama Direktur Operasional PT Saprotan Utama Nusantara Yuri Wibowo dalam acara tersebut. Para pejabat dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Sragen dan CWS (Coworking Space) Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian di Kabupaten Sragen turut hadir bersama ratusan petani dari berbagai wilayah se-Jawa. Camat dan pimpinan Kecamatan Tanon, Sragen, turut menyemarakan acara dengan hiburan musik dangdut itu.
Alfasyahri Pane saat ditemui Espos, Kamis siang, menyebut wilayah produksi jagung hibrida Bangkok 21 dengan julukan Kampung Bangkok. Dia menyampaikan julukan itu diberikan atas keberhasilan para petani dalam budidaya jagung varietas anyar seluas 200 hektare secara mandiri. Alfa mengajak para petani di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur untuk hadir ke Sragen dan melihat langsung perfoma varietas jagung hibrida Bangkok 21 besutan PT Benih Citra Asia itu.
Menurut dia, Festival Jagung Bangkok 21 di Sragen digelar sebagai bentuk syukur atas keberhasilan panen raya yang berlimpah di Tanon. Dia menyampaikan varietas Bangkok 21 terbukti mampu mendongkrak produktivitas jagung hasil panen petani yang signifikan.
“Jagung Bangkok 21 bisa menjawab keinginan petani tentang hasil yang tinggi per luasan tanam. Rata-rata hasil panen kering kebun yang selama ini mereka dapatkan sekitar 7 ton per hektare, tapi dengan Bangkok 21, hasil panen bisa tembus 9-10 ton per hektare. Ada peningkatan sekitar 2 ton per hektare,” ujar Alfa.
Alfa menjelaskan selain peningkatan tonase, tongkol jagung yang dihasilkan berukuran lebih besar dan berbobot dengan warna bulir oranye cerah yang disukai pasar. Keunggulan lain yang paling dirasakan petani, sebut dia, ketahanannya terhadap cuaca ekstrem, seperti dampak El Nino sekarang.
“Perawatannya mudah, tidak rewel, dan tahan kekeringan. Terbukti dalam beberapa bulan terakhir saat cuaca panas ekstrem dan fenomena El Nino, tanamannya tetap tumbuh bagus di suhu tinggi,” kata Alfa.
Dia menyatakan total benih yang tertanam di Kecamatan Tanon mencapai sekitar 3 ton untuk lahan 200 hektare. Dia mengatakan Sragen menjadi daerah pertama di kawasan Soloraya yang membentuk sentra percontohan dan akan menyusul daerah lain seperti Klaten dan Tegal. PT Benih Citra Asia sendiri saat ini telah memiliki 12 produk jagung hibrida yang dikembangkan melalui riset mandiri berbasis bioteknologi modern.
Sementara itu, Direktur Operasional PT Saprotan Utama Nusantara, Yuri Wibowo, menuturkan respons petani terhadap varietas Bangkok 21 sangat antusias pada tahun kedua pengenalannya di pasar. Yuri tertarik dengan Sragen karena penanaman 200 hektare jagung Bangkok 21 murni inisiatif mandiri dari petani lokal, bukan proyek bantuan pemerintah.
“Petani langsung mengadopsi benih Bangkok 21 karena melihat performanya yang bagus, hasilnya nyata, batangnya kokoh, dan tahan panas. Petani di Tanon menanam sendiri jagung Bangkok 21 pada lahan seluas 200 hektare,” ungkap Yuri.
Yuri menambahkan distribusi jagung Bangkok 21 kini telah merambah pasar nasional, mulai dari sentra-sentra jagung di Pulau Jawa, Sumatera (seperti Lampung dan Medan), hingga Sulawesi. Melalui ajang temu tani di Sragen, Yuri berharap para petani dari luar daerah dapat meniru kesuksesan budidaya Bangkok 21 untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di daerah masing-masing.

Leave a Reply