Medianusantara.site, JAKARTA — Thomas Sugiarto Oentoro menerima estafet kepemimpinan sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di tengah proses transformasi maskapai nasional yang masih berlanjut. Setelah melewati restrukturisasi dan berbagai tekanan bisnis, Garuda mulai menunjukkan perbaikan kinerja. Namun, penguatan kesehatan keuangan, pemulihan kapasitas armada, dan peningkatan daya saing masih menjadi pekerjaan yang harus dilanjutkan.
Thomas meneruskan kepemimpinan Glenny H. Kairupan yang kini beralih dari posisi Direktur Utama menjadi Komisaris Utama. Sementara itu, Fadjar Prasetyo mengakhiri masa tugasnya sebagai Komisaris Utama setelah lebih dari dua tahun menjabat.
Bagi Thomas, pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar perubahan susunan pengurus perusahaan. Ada fondasi penyehatan dan pemulihan yang harus dijaga kesinambungannya agar berbagai agenda transformasi dapat memberikan hasil yang lebih berkelanjutan.
Sebelum dipercaya menjadi Direktur Utama, Thomas menjabat Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia sejak Oktober 2025. Dalam posisi tersebut, ia bekerja bersama Glenny yang saat itu memimpin jajaran direksi untuk menjalankan agenda stabilisasi bisnis dan pemulihan operasional maskapai.
Pengalaman mendampingi Glenny menjadi salah satu bagian dari perjalanan Thomas sebelum menerima tanggung jawab baru. Tantangan yang dihadapinya kini adalah meneruskan pembenahan fundamental perusahaan sekaligus memperkuat kinerja bisnis Garuda Indonesia.
Melalui unggahan Instagram pribadinya pada Jumat (9/10/2026), Thomas menyampaikan penghormatan terhadap Glenny yang dinilainya memandang Garuda Indonesia melampaui kepentingan bisnis semata.
Menurut Thomas, bekerja mendampingi Glenny memberinya kesempatan untuk memahami keteguhan seorang pemimpin sekaligus belajar dari pandangan seorang negarawan yang melihat Garuda sebagai representasi martabat bangsa dan kepercayaan masyarakat.
Thomas juga menyadari bahwa melanjutkan kepemimpinan di tengah transformasi bukanlah tugas ringan. Masih terdapat berbagai pembenahan fundamental, keputusan strategis yang kompleks, serta kebutuhan menjaga kesinambungan pemulihan perusahaan.
Dalam pernyataannya, Thomas menekankan bahwa estafet kepemimpinan tersebut bukan tentang memulai kembali dari awal, melainkan meneruskan fondasi yang telah dibangun untuk membawa Garuda Indonesia melangkah lebih jauh.
Melanjutkan Pemulihan Garuda Indonesia
Tantangan yang dihadapi Thomas tidak terlepas dari kondisi perusahaan setelah melewati fase restrukturisasi dan penyehatan. Penguatan struktur keuangan, pemulihan armada, serta peningkatan produktivitas operasional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis maskapai nasional tersebut.
Sepanjang semester I 2026, Garuda Indonesia Group mencatatkan pendapatan USD1,80 miliar, tumbuh 16 persen secara tahunan. Laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT meningkat 12,7 persen menjadi USD74 juta, sementara rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi USD113 juta.
Perbaikan tersebut berlangsung di tengah tekanan biaya avtur yang meningkat 43,6 persen secara tahunan. Kondisi ini memperlihatkan kemajuan proses stabilisasi bisnis, meskipun perusahaan masih menghadapi tantangan untuk mengembalikan profitabilitas secara berkelanjutan.
Di tengah kondisi tersebut, pemulihan kesiapan armada menjadi salah satu prasyarat penting untuk memperbaiki produktivitas, menjaga keandalan penerbangan, serta mengoptimalkan potensi pendapatan perusahaan.
Sebelum Thomas menerima mandat sebagai Direktur Utama, Glenny memimpin fase stabilisasi bisnis dan operasional sejak dipercaya menjabat pada Oktober 2025. Di tengah keterbatasan kapasitas armada, tekanan biaya operasional, serta kebutuhan menjaga kualitas layanan, Glenny bersama jajaran manajemen memprioritaskan percepatan pemulihan pesawat, penguatan disiplin operasional, dan peningkatan produktivitas perusahaan.
Pendekatan kepemimpinan Glenny turut disorot dalam publikasi Danantara Diaries: Rebuilding Garuda, One Minute at a Time, yang mengulas keterlibatannya dalam memantau langsung proses perbaikan tiga mesin pesawat di fasilitas GMF AeroAsia, Cengkareng, sebagai bagian dari upaya pemulihan kesiapan operasional armada.
Publikasi tersebut juga menyoroti perhatian Glenny terhadap kontribusi insan perusahaan. Dalam sebuah syukuran sederhana setelah pesawat kembali beroperasi, ia memilih memberikan penghormatan kepada teknisi senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade.
Pendekatan tersebut mencerminkan perhatian terhadap penguatan disiplin dan keterlibatan karyawan sebagai bagian penting dari proses transformasi, ketika pemulihan operasional membutuhkan kontribusi seluruh lini organisasi.
Sementara itu, Fadjar Prasetyo turut mengawal penguatan tata kelola dan kesinambungan penyehatan perusahaan selama menjabat Komisaris Utama sejak Mei 2024. Fadjar memiliki pengalaman panjang sebagai penerbang militer hingga menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Udara periode 2020–2024.
Kepercayaan tersebut datang ketika Garuda Indonesia masih menghadapi fase krusial pascarestrukturisasi. Meskipun restrukturisasi utang telah ditempuh sebelumnya, perusahaan masih membutuhkan pembenahan fundamental untuk menjaga kelangsungan usaha, memperkuat struktur keuangan, serta memulihkan kapasitas operasional.
Dalam periode tersebut, peran Dewan Komisaris menjadi penting untuk memastikan langkah penyehatan dan dukungan permodalan berjalan dengan disiplin tata kelola, pengelolaan risiko, serta orientasi keberlanjutan bisnis.
Bagi Fadjar, pengabdian di lingkungan korporasi merupakan kelanjutan tanggung jawab terhadap kepentingan bangsa. Terlebih, Garuda Indonesia memiliki dua mandat yang harus berjalan beriringan, yakni sebagai entitas bisnis yang dituntut sehat secara komersial dan sebagai flag carrier yang merepresentasikan Indonesia di dunia.
“Bagi saya, komisaris adalah penjaga arah, integritas, dan keberlanjutan perusahaan,” ungkap Fadjar dalam keterangannya mengenai peran ideal komisaris BUMN.
Sepanjang periode pengawasannya, Garuda melanjutkan sejumlah agenda strategis penyehatan perusahaan, termasuk penguatan struktur permodalan melalui dukungan BPI Danantara Indonesia dengan keseluruhan program penyehatan senilai Rp23,67 triliun. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menopang pemulihan armada, penguatan operasional, serta kesinambungan transformasi perusahaan.
Fadjar berpandangan bahwa fungsi pengawasan tidak hanya memastikan kepatuhan, tetapi juga menguji kualitas keputusan strategis agar perusahaan mampu bergerak secara terukur di tengah tekanan bisnis.
“Jabatan komisaris bukanlah puncak karier. Jabatan tersebut adalah puncak tanggung jawab,” tegasnya.
Bagi Thomas, berbagai agenda yang telah dijalankan tersebut menjadi bagian dari fondasi yang perlu diteruskan. Perubahan kepemimpinan tidak serta-merta mengakhiri tantangan yang dihadapi perusahaan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pemulihan operasional, kesehatan keuangan, dan kualitas layanan.
Dengan Glenny melanjutkan perannya di Dewan Komisaris dan Thomas memimpin jajaran direksi, tantangan berikutnya adalah memastikan fondasi yang telah dibangun mampu menopang pertumbuhan yang lebih sehat, produktivitas armada yang semakin optimal, serta kualitas layanan yang konsisten.
Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menandai babak berikutnya dalam perjalanan transformasi Garuda Indonesia. Setelah pengawalan penyehatan perusahaan pada periode Fadjar dan stabilisasi operasional di bawah Glenny, Thomas kini menghadapi tugas untuk melanjutkan pembenahan serta memperkuat daya saing maskapai.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh sebuah perusahaan mampu bangkit dari tekanan, tetapi juga seberapa kuat kemajuan tersebut dapat dijaga dan diteruskan oleh kepemimpinan berikutnya.

Leave a Reply