Medianusantara.site, WONOGIRI — Jalur kereta api yang menghubungkan Solo dengan wilayah selatan Wonogiri pernah dirancang hingga Pacitan, Jawa Timur. Namun, rencana pemerintah kolonial Belanda tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Jalur yang dibangun akhirnya hanya sampai Kakap atau wilayah Giriwoyo, Wonogiri.
Meski tak pernah mencapai Pacitan, jalur kereta api itu sempat menjadi urat nadi perekonomian Wonogiri selatan. Kereta digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan, seperti kopi, tebu, dan gamping atau batu kapur, menuju pusat perdagangan.
Ketua Tim Cagar Budaya Wonogiri sekaligus pengajar Ilmu Sejarah Universitas Jambi, Dennys Pradita, menjelaskan gagasan pembangunan jalur tersebut mulai muncul pada 1899. Pemerintah kolonial Belanda ingin membuka akses transportasi menuju Pacitan yang saat itu relatif terisolasi. Pada saat bersamaan, Pura Mangkunegaran tengah mengembangkan perkebunan di wilayah selatan Wonogiri.
“Rencana pembukaan jalur kereta api atau trem ini bermula pada 1899 ketika NISM. Pemerintah kolonial ingin membuka akses Pacitan, sementara di sisi lain Mangkunegaran sedang mengembangkan perkebunan di wilayah selatan Wonogiri,” kata Dennys saat diwawancarai Espos, Jumat (30/10/2026).
Pembangunan jalur tersebut melibatkan perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan Pura Mangkunegaran. Namun, rencana hingga Pacitan tidak berlanjut karena NISM mempertimbangkan sejumlah aspek bisnis, mulai dari biaya pembangunan, jumlah penduduk, jarak, hingga kondisi geografis wilayah yang dilalui.
Setelah melalui proses negosiasi, pembangunan jalur disepakati hingga Kakap atau Giriwoyo. Jalur tersebut juga sempat menghadapi persoalan pembiayaan ketika diperpanjang menuju Baturetno karena biaya pembangunan melampaui perkiraan awal.
“Tujuan utamanya sebenarnya untuk pengangkutan barang. Di wilayah Wonogiri selatan saat itu sedang banyak perkebunan yang dibuka, mulai dari kopi, tebu, hingga komoditas gamping untuk proses pemutihan gula. Namun, jalur tersebut juga digunakan untuk mengangkut penumpang,” jelasnya.
Bantu Angkut Hasil Perkebunan
Jalur kereta api Solo-Baturetno akhirnya diresmikan pada 27 Maret 1922. Keberadaannya membantu mengangkut hasil perkebunan yang sebelumnya sulit dipasarkan akibat keterbatasan akses transportasi. Sejumlah wilayah seperti Baturetno, Betal di Nguntoronadi, dan Somoulun pun berkembang menjadi kawasan yang ramai.
Salah satu infrastruktur penting yang dibangun untuk mendukung jalur tersebut adalah jembatan di Somoulun. Berdasarkan penelusuran Dennys melalui laporan sejarah, pembangunan jembatan itu menghabiskan biaya sekitar 220.000 gulden.
“Di Somoulun itu ada satu jembatan yang biayanya paling besar sepanjang jalur tersebut. Dalam laporan disebutkan sekitar 220.000 gulden. Sungai yang dilalui juga cukup besar karena merupakan pertemuan beberapa aliran sungai,” ungkapnya.
Keberadaan jalur kereta api tersebut berakhir ketika pemerintah membangun Waduk Gajah Mungkur pada masa Orde Baru. Sejumlah kawasan rendah, termasuk jalur transportasi lama, harus ditenggelamkan. Jalur kereta api menuju Baturetno hingga Giriwoyo pun tidak lagi dapat digunakan. Operasional perjalanan akhirnya hanya menyisakan jalur Purwosari-Wonogiri.
Dennys mengatakan penutupan jalur tersebut bukan semata-mata karena kereta api kehilangan peminat. Setelah Indonesia merdeka, kereta memang mulai menghadapi persaingan dengan moda transportasi darat lainnya. Namun, di Wonogiri, kereta api masih menjadi salah satu pilihan utama masyarakat hingga awal 1970-an.
“Untuk jalur Wonogiri sampai Baturetno sebenarnya masih menjadi salah satu pilihan masyarakat. Perusahaan otobus pada awal 1970-an juga belum begitu banyak. Baru pada akhir 1970-an jumlahnya semakin bertambah,” jelasnya.
Kini, ketika kemarau berkepanjangan membuat permukaan Waduk Gajah Mungkur menyusut, sejumlah bekas bangunan peninggalan jalur kereta api yang dahulu terendam kembali terlihat. Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa jalur yang pernah dirancang untuk membuka akses hingga Pacitan itu memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi Wonogiri selatan.

Leave a Reply