Medianusantara.site, JAKARTA — Mojtaba Khamenei, putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru setelah kematian ayahnya akibat serangan AS-Israel ke Teheran beberapa waktu silam. Terpilihnya Mojtaba menandai kelanjutan kepemimpinan garis keras Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Republik Islam tersebut.
Pengangkatan ulama berusia 56 tahun itu dilakukan oleh Majelis Ahli Iran, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara. Penunjukan terjadi setelah serangan yang menyebabkan kematian Ali Khamenei serta sejumlah anggota keluarganya. Mojtaba dilaporkan selamat karena tidak berada di lokasi saat serangan berlangsung.
“Majelis Ahli menyerukan seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual dari kalangan seminari dan universitas, untuk bersumpah setia kepada kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan menjaga persatuan nasional,” demikian pernyataan lembaga tersebut, dikutip Al Jazeera, Senin (9/3/2026).
Mojtaba selama puluhan tahun dikenal sebagai tokoh berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan Iran, meskipun hampir tidak pernah tampil di depan publik. Ia tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilihan umum atau mendapatkan mandat melalui pemungutan suara langsung, tetapi memiliki hubungan erat dengan IRGC, kekuatan militer utama negara tersebut.
Latar Belakang dan Perjalanan Hidup
Melansir dari Britannica, Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, dari keluarga ulama yang berpengaruh dalam Revolusi Islam 1979. Ayahnya, Ali Khamenei, merupakan tokoh penting yang mendukung penggulingan Shah Mohammad Reza Pahlavi dan kemudian menjadi presiden Iran sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada 1987, Mojtaba bergabung dengan IRGC dan bertugas pada akhir perang Iran-Irak (1980–1988). Setelah perang, ia menempuh pendidikan agama dan pada akhir 1990-an belajar di seminari Qom di bawah bimbingan ulama konservatif. Mojtaba kemudian mengajar di seminari dan membangun jaringan kuat dengan kalangan ulama serta aparat keamanan Iran.
Selama masa kepemimpinan ayahnya, Mojtaba memainkan peran penting di Kantor Pemimpin Tertinggi, menjadi penghubung kekuasaan yang memiliki pengaruh terhadap lembaga militer maupun ulama, meskipun tetap berada di balik layar. Perhatian publik terhadapnya meningkat pada pemilihan presiden Iran 2005 ketika kandidat konservatif Mahmoud Ahmadinejad menang, dan kontroversi serupa muncul pada pemilu 2009, memicu tuduhan intervensi pemilu serta koordinasi penindasan demonstran.
Peran Politik dan Status Keagamaan
Status keagamaan Mojtaba menjadi perdebatan. Ia berstatus hojatoleslam, ulama tingkat menengah, bukan ayatollah yang memiliki otoritas religius lebih tinggi. Namun ayahnya juga belum menyandang gelar ayatollah saat pertama kali diangkat sebagai pemimpin tertinggi pada 1989. Pada tahun 2022, media terkait seminari Qom mulai menyebut Mojtaba sebagai ayatollah, memicu spekulasi persiapan penggantian ayahnya.
Media Barat mengaitkan Mojtaba dengan jaringan kekayaan besar yang diduga tersebar di berbagai negara melalui sekutu politik dan ekonomi. Al Jazeera melaporkan berbagai laporan menyebut miliaran dolar aset dipindahkan melalui jaringan internal yang berafiliasi dengan elit kekuasaan Iran, meskipun tuduhan tersebut belum dikomentari langsung oleh Mojtaba Khamenei.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran yang Ditentang Trump“.
Leave a Reply