Medianusantara.site, SOLO — Perjalanan mudik jarak jauh kerap membuat pengemudi mengandalkan kopi atau minuman energi untuk menjaga stamina. Rasa kantuk yang muncul akibat perjalanan panjang, kemacetan, hingga waktu tempuh berjam-jam memang menjadi tantangan tersendiri.
Namun di balik sensasi segar yang ditawarkan, konsumsi berlebihan minuman berkafein justru dapat menimbulkan risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan.
Dokter di RS JIH Solo, Arrina Esthesia Karim, menjelaskan kopi dan minuman energi pada dasarnya sama-sama mengandung kafein yang bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.
“Kafein memang bisa meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk. Itu sebabnya banyak orang merasa lebih segar setelah minum kopi,” ujarnya.
Menurutnya, dalam jumlah wajar, kafein relatif aman dikonsumsi oleh orang dewasa sehat. Ia menyebut batas aman konsumsi kafein sekitar 400 miligram per hari.
“Itu setara kurang lebih tiga sampai empat cangkir kopi, tergantung kekentalannya. Tapi perlu diingat, setiap orang punya toleransi yang berbeda terhadap kafein,” jelasnya.
Arrina menambahkan, kandungan kafein tidak hanya terdapat dalam kopi, tetapi juga pada teh, cokelat, minuman bersoda, hingga minuman energi. Tanpa disadari, akumulasi konsumsi dari berbagai sumber bisa membuat asupan kafein melebihi batas aman.
“Sering kali orang merasa hanya minum dua cangkir kopi, tetapi sebelumnya sudah minum teh atau minuman energi. Total kafeinnya jadi tinggi,” paparnya.

Ia mengingatkan bahwa kelompok tertentu perlu lebih berhati-hati. Penderita hipertensi, gangguan jantung, gangguan ginjal, diabetes, maupun mereka yang memiliki gangguan lambung sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi kafein dalam jumlah besar.
“Pada pasien dengan tekanan darah tinggi atau gangguan irama jantung, kafein bisa memperberat gejala. Begitu juga pada penderita asam lambung, konsumsi kopi berlebihan dapat memicu keluhan nyeri ulu hati dan rasa perih,” katanya.
Konsumsi kafein berlebihan, lanjut Arrina, dapat memicu jantung berdebar, peningkatan tekanan darah, gelisah, tremor, sulit tidur, hingga gangguan lambung. Selain itu, kafein juga memiliki efek diuretik.
“Efek diuretik kafein membuat tubuh lebih sering buang air kecil. Kalau tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, bisa terjadi dehidrasi ringan. Dalam perjalanan jauh, ini tentu tidak ideal,” jelasnya.
Minuman energi, menurutnya, perlu mendapat perhatian lebih. Selain kafein, minuman ini umumnya mengandung taurin, gula dalam kadar tinggi, serta bahan tambahan lain yang memberi efek stimulan cepat.
“Lonjakan energinya memang terasa cepat, tetapi efeknya sementara. Setelah itu bisa terjadi penurunan energi secara mendadak atau yang sering disebut crash energy,” ujarnya.
Fenomena crash energy ini berisiko saat seseorang sedang menyetir dalam waktu lama. Rasa kantuk bisa datang lebih berat dibanding sebelumnya.
“Setelah efeknya habis, tubuh bisa drop mendadak dan rasa kantuk datang lebih kuat. Ini berbahaya jika terjadi saat mengemudi di jalan tol atau dalam kondisi lalu lintas padat,” katanya.
Arrina menegaskan bahwa kafein bukan solusi utama untuk mengatasi kelelahan. Tubuh tetap memiliki batas kemampuan.
“Tubuh punya batas. Kalau dipaksa terus dengan stimulan, pada akhirnya tetap butuh istirahat. Jangan sampai merasa kuat karena minum kopi, padahal sebenarnya tubuh sudah sangat lelah,” tegasnya.
Ia menyarankan pengemudi untuk menerapkan pola istirahat yang teratur saat mudik, misalnya berhenti setiap dua hingga empat jam untuk meregangkan otot dan beristirahat sejenak. Tidur singkat selama 15–20 menit dinilai lebih efektif mengembalikan konsentrasi dibanding menambah konsumsi kopi.
“Kalau lelah, solusi terbaik tetap istirahat. Jangan hanya mengandalkan kopi sebagai pengganti tidur,” ujarnya.
Bagi yang tetap ingin mengonsumsi kopi, ia menyarankan agar tidak diminum sekaligus dalam jumlah besar dan tetap memperhatikan asupan cairan.
“Imbangi dengan air putih yang cukup dan hindari minum berlebihan dalam waktu singkat. Kalau sudah terbiasa minum kopi banyak setiap hari, sebaiknya lakukan pengurangan secara bertahap,” jelasnya.
Pada akhirnya, keselamatan selama mudik tidak hanya ditentukan oleh kondisi kendaraan, tetapi juga kesiapan fisik pengemudi. Mengatur waktu istirahat, menjaga hidrasi, serta mengonsumsi kafein secara bijak menjadi kunci agar perjalanan tetap aman dan nyaman sampai tujuan.

Leave a Reply