Kisah Aming, Juru Bahasa Isyarat yang Awalnya Belajar Demi Cari Jodoh

Kisah Aming, Juru Bahasa Isyarat yang Awalnya Belajar Demi Cari Jodoh
Juru Bahasa Isyarat Stevanus Ming alias Aming (kanan) saat melakukan komunikasi dengan seorang laki-laki tuli. Minggu (1/3/2026) (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Medianusantara.site, SEMARANG — Stevanus Ming atau yang akrab disapa Aming, 44, kerap terlihat di layar televisi atau siaran langsung saat Polda Jawa Tengah (Jateng) merilis kasus kriminal. Dengan gerakan tangan dan mimik yang cepat, ia menerjemahkan percakapan agar masyarakat tuli dapat memahami informasi yang disampaikan.

Selama lima tahun terakhir, pria kelahiran Surabaya itu menekuni profesi sebagai juru bahasa isyarat profesional. Namun, keahlian tersebut bukanlah cita-cita awalnya, melainkan berawal dari perjalanan mencari pasangan hidup.

Aming mengaku pernah bernazar akan melakukan apa saja demi menemukan jodoh. Tanpa diduga, perjalanan itu membawanya bertemu seorang perempuan tuli yang kemudian menjadi istrinya.

“Sejak 2016, saya akhirnya mulai belajar bahasa isyarat langsung dari teman-teman tuli,” ujarnya saat ditemui Espos di depan Balai Kota Semarang belum lama ini.

Menurut Aming, menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa isyarat bukanlah pekerjaan mudah. Bahasa lisan mengikuti struktur bahasa Indonesia, sementara bahasa isyarat memiliki logika tersendiri yang berbasis konsep.

“Bahasa isyarat itu konsepnya berbeda, tidak sesuai dengan urutan bahasa Indonesia. Misalnya, saya makan pisang. Kalau di teman-teman tuli menjadi pisang saya makan,” jelasnya.

Meski sudah berstatus penerjemah profesional, Aming mengaku proses belajar bahasa isyarat tidak pernah berhenti. Ia harus terus memperdalam pemahaman agar pesan yang disampaikan kepada komunitas tuli dapat diterjemahkan secara tepat.

Tidak hanya bertugas di Kota Semarang, Aming juga kerap diundang menjadi penerjemah bahasa isyarat dalam berbagai kegiatan instansi pemerintah pusat di Jakarta.

“Sebenarnya yang perlu dipersiapkan hanya koordinasi dengan panitia. Misalnya dalam sebuah acara, kita harus berada dekat dengan sumber suara agar terjemahan bisa jelas dan tepat,” katanya.

Salah satu tantangan terbesar dalam pekerjaannya adalah ketika pembicara berbicara terlalu cepat. Kondisi tersebut menuntutnya tetap sigap agar setiap informasi dapat diterjemahkan tanpa ada yang terlewat.

Aming juga menyoroti masih terbatasnya jumlah juru bahasa isyarat di Indonesia. Saat ini, jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 200 orang di seluruh Indonesia.

Menurut dia, akses layanan publik bagi penyandang tuli masih perlu terus diperjuangkan, terutama di ruang pelayanan administrasi yang belum semuanya menyediakan penerjemah bahasa isyarat.

“Yang sedang kami perjuangkan adalah akses bagi teman-teman tuli di ruang pelayanan administrasi. Mereka membutuhkan alat seperti signboard jika tidak tersedia juru bahasa isyarat,” pungkasnya.

Leave a Reply