Medianusantara.site, JOGJA — Tingkat hunian hotel di Yogyakarta melonjak signifikan selama long weekend peringatan Hari Buruh awal Mei 2026. Rata-rata okupansi kamar mencapai 90%, bahkan sejumlah hotel di kawasan strategis mencatatkan tingkat hunian hingga penuh.
Lonjakan ini mencerminkan pergerakan wisatawan yang mulai kembali menggeliat, meski dengan pola yang semakin dinamis dan sulit diprediksi.
Wakil Sekretaris BPD PHRI DIY, Wahyu Wikan Trispatiwi, mengungkapkan peningkatan okupansi paling terasa pada Sabtu, saat permintaan kamar melonjak dalam waktu singkat.
“Peningkatan paling terasa terjadi pada hari Sabtu. Ada hotel yang sampai penuh, terutama yang berada di lokasi strategis. Pola pemesanan juga banyak yang dilakukan secara last minute,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, tren pemesanan mendadak tersebut membuat tingkat hunian sulit diproyeksikan sejak awal. Pada Kamis (30/4/2026), okupansi masih berada di bawah 60%, namun melonjak tajam menjelang puncak liburan.
“Market sekarang sangat berubah, serba last minute. Kami tetap optimistis, tetapi tidak berani membuat prediksi pasti,” katanya.
Tren Last Minute dan Pola Libur yang Berubah
Menurutnya, pola okupansi hotel di Jogja pada long weekend kali ini berbeda dibandingkan periode libur lainnya. Kehadiran cuti bersama tidak sepenuhnya dinikmati pekerja swasta, sehingga pola perjalanan wisatawan menjadi lebih fleksibel dan tidak menentu.
Kondisi ini membuat pelaku industri perhotelan harus lebih adaptif dalam membaca pergerakan pasar.
PHRI DIY berharap momentum libur Iduladha mendatang dapat kembali mendorong tingkat hunian hotel. Namun, ada pula kemungkinan wisatawan lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dibandingkan bepergian.
Dari sisi tarif, hotel di DIY masih mempertahankan harga normal akhir pekan tanpa kenaikan signifikan. Meski demikian, tekanan biaya operasional mulai terasa, terutama pada bahan makanan yang terdampak kenaikan harga energi seperti gas.
Untuk menyiasati hal tersebut, manajemen hotel menerapkan berbagai strategi efisiensi, khususnya di sektor dapur. Salah satunya melalui subsidi silang menu serta pengaturan porsi, tanpa mengorbankan kualitas layanan kepada tamu.
“Teman-teman hotel sangat selektif dalam menyiasati harga makanan. Strateginya dengan subsidi di kitchen dan pengaturan porsi, tetapi kualitas tetap dijaga,” jelasnya.
Di tengah dinamika tersebut, PHRI DIY memilih tidak terburu-buru menaikkan tarif kamar. Pelaku usaha masih mempertimbangkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, sembari terus mencermati perkembangan sektor pariwisata dalam waktu dekat.

Leave a Reply