Kedubes Iran Gelar Doa Bersama, Kenang 175 Siswi Korban Serangan di Minab

Kedubes Iran Gelar Doa Bersama, Kenang 175 Siswi Korban Serangan di Minab
Bendera Iran. (Bisnis.com)

Medianusantara.site, JAKARTA — Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Islam Iran menggelar acara doa bersama dan peringatan untuk mengenang 175 siswi yang disebut menjadi korban serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran.

Berdasarkan siaran pers Kedutaan Besar Republik Islam Iran yang diterima Espos, acara doa bersama tersebut digelar di kediaman Duta Besar Iran di Jakarta pada Sabtu (14/3/2026) dan dihadiri oleh anak-anak Indonesia.

Kehadiran anak-anak Indonesia dalam kegiatan tersebut disebut sebagai simbol solidaritas kemanusiaan dan pesan empati bangsa-bangsa terhadap para korban yang tidak bersalah.

Menurut Kedubes Iran, ketika anak-anak dari berbagai bangsa berdiri bersama untuk mengenang para korban, hal itu menjadi suara hati nurani dunia yang menyatakan bahwa penderitaan anak-anak di mana pun merupakan penderitaan seluruh umat manusia.

Kedubes Iran Sampaikan Pernyataan Kecaman

Dalam siaran pers yang sama, Kedutaan Besar Republik Islam Iran menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam apa yang disebut sebagai serangan agresif Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap wilayah Republik Islam Iran yang menyebabkan 175 siswi meninggal dunia serta melukai lebih dari 95 anak lainnya di Sekolah Dasar “Shajareh Tayyebeh” di Kota Minab, Provinsi Hormozgan.

“Anak-anak tak berdaya ini, yang hanya hadir di kelas untuk belajar dan membangun masa depan yang cerah, menjadi korban kekerasan akibat serangan rudal yang tidak sejalan baik dengan hati nurani kemanusiaan maupun dengan prinsip-prinsip yang diakui dalam hukum internasional,” demikian isi pernyataan Kedubes Iran dalam siaran pers tersebut.

Kedubes Iran menyatakan serangan tersebut terjadi pada saat Republik Islam Iran sedang menempuh jalur diplomasi, dialog, dan perundingan, sementara para perwakilan negara tersebut berada di meja perundingan untuk mencapai solusi damai serta memperkuat stabilitas kawasan.

Dalam kondisi tersebut, penargetan wilayah Iran serta serangan terhadap kawasan sipil dinilai tidak hanya melanggar kedaulatan nasional sebuah negara merdeka, tetapi juga merupakan pukulan terhadap prinsip penyelesaian damai sengketa dalam sistem internasional.

Iran Sebut Serangan Langgar Hukum Humaniter

Kedubes Iran menilai penargetan sebuah sekolah dan jatuhnya korban dari kalangan anak-anak merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional serta kewajiban yang berasal dari berbagai instrumen internasional, termasuk Konvensi Jenewa dan aturan perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata.

Menurut Kedubes Iran, warga sipil, terutama anak-anak, serta fasilitas pendidikan seharusnya sepenuhnya terlindungi dari serangan militer.

Serangan terhadap sekolah dasar dan jatuhnya korban dari kalangan anak-anak tersebut juga disebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip pembedaan antara sasaran militer dan nonmiliter serta dinilai sebagai contoh nyata kejahatan perang.

Kedubes Iran juga menyebut para pejabat Amerika Serikat telah mengakui bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pihak mereka. Pengakuan itu dinilai menunjukkan tanggung jawab langsung para pelaku dan menegaskan pentingnya pertanggungjawaban hukum melalui mekanisme internasional.

Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan sejumlah peristiwa dalam sejarah yang disebut sebagai contoh jatuhnya korban warga sipil akibat tindakan militer, di antaranya penembakan pesawat penumpang Iran pada 1988 oleh kapal perang Amerika Serikat yang menyebabkan 290 orang meninggal dunia, termasuk puluhan anak-anak.

Selain itu, Kedubes Iran juga menyinggung serangan berulang yang dilakukan rezim Zionis terhadap kawasan permukiman di Gaza yang disebut telah berkali-kali menimbulkan korban warga sipil, termasuk anak-anak.

Menurut Kedubes Iran, berbagai peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pengabaian terhadap prinsip-prinsip hukum internasional sering kali menjadikan masyarakat sipil, khususnya anak-anak, sebagai korban pertama dalam konflik bersenjata.

Kedubes Iran juga menyerukan kepada organisasi-organisasi Islam, lembaga hak asasi manusia internasional, serta organisasi perlindungan anak agar tidak berdiam diri terhadap peristiwa tersebut serta mendorong pengungkapan kebenaran dan pertanggungjawaban para pelaku.

Kedubes Iran berharap kenangan terhadap anak-anak yang menjadi korban dapat membangunkan hati nurani dunia dan menjadi inspirasi bagi upaya bersama untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, serta perlindungan kehidupan anak-anak di seluruh dunia.

Leave a Reply