Trump Tawarkan Project Freedom di Hormuz: Spanyol Menolak, Korsel Mengkaji

Trump Tawarkan Project Freedom di Hormuz: Spanyol Menolak, Korsel Mengkaji
Sebuah kapal tanker terlihat di Selat Hormuz setelah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Anadolu/Shady Alassar/pri. (ANTARA/Anadolu/Shady Alassar/pri.)

Medianusantara.site, JAKARTA – Pemerintah Spanyol dengan tegas menolak segala bentuk partisipasi dalam operasi militer di Selat Hormuz. Sementara itu, otoritas Korea Selatan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Amerika Serikat untuk membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menegaskan menolak partisipasi operasi militer di Selat Hormuz karena tindakan militer apapun dapat memicu eskalasi.

“Kami menolak partisipasi dalam operasi militer dan segala tindakan yang dapat menyebabkan eskalasi. Hal ini harus dihindari dengan segala cara saat ini, karena risiko perang terus ada,” kata Albares dalam wawancara dengan TVE yang ditayangkan pada Senin (4/5/2026).

Dia mengatakan bahwa Madrid tetap yakin konflik tidak dapat diselesaikan melalui cara militer. Saat ini tidak ada kondisi apa pun untuk operasi di bawah naungan PBB.

Albares menambahkan bahwa situasi di sekitar selat berada dalam kondisi “blokade ganda” oleh Iran dan Amerika Serikat, dan status quo saat ini “jelas tidak berkelanjutan.”

“Selat Hormuz harus dibuka, secara bebas, aman, dan tanpa biaya. Tidak boleh ada pungutan,” ucapnya yang dikutip dari Antara.

Madrid terus mendukung proses negosiasi untuk menyelesaikan krisis tersebut, kata Albares, seraya menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran telah menghubunginya untuk memberitahu mengenai perkembangan negosiasi dan menjelaskan posisi Teheran.

Dirinya menambahkan bahwa Pakistan, dengan dukungan penuh dari Spanyol, terus melakukan upaya mediasi antara para pihak yang bersengketa.

Albares juga menambahkan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini, baik bagi Amerika Serikat maupun Iran. Ia mengatakan bahwa sehari sebelum perang dimulai, Washington dan Teheran masih berada di meja perundingan di Oman, dan informasi yang diterima dalam beberapa hari terakhir mengenai kontak tersebut “cukup menggembirakan.”

Korea Selatan Pertimbangkan Tawaran Trump

Sementara itu, Otoritas Korea Selatan sedang mempertimbangkan tawaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk bergabung dalam Project Freedom, di mana AS bermaksud membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz, lapor kantor berita Newsis pada Selasa (5/5/2026).

Pada Senin, Pusat Situasi Komprehensif Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menyatakan bahwa sebuah ledakan dan kebakaran terjadi pada kapal milik perusahaan Korea Selatan HMM di Selat Hormuz, tanpa korban jiwa.

Trump kemudian menyerukan Korea Selatan melalui media sosial Truth Social untuk bergabung dalam Project Freedom.

“Kami mencatat pernyataan Presiden Trump dan saat ini sedang meninjau proposal AS terkait Selat Hormuz, dengan mempertimbangkan kesiapan kami terhadap situasi di Semenanjung Korea, prosedur berdasarkan hukum nasional, serta faktor lainnya,” kata seorang pejabat kepresidenan seperti dikutip Newsis seperti dilansir Antara.

Ia menambahkan bahwa Korea Selatan berupaya untuk menormalkan jalur maritim dengan cepat dan dalam hal ini secara aktif berpartisipasi dalam berbagai upaya internasional. Otoritas juga terus berkomunikasi dengan AS terkait hal ini, termasuk kemungkinan partisipasi dalam Project Freedom.

Korea Selatan saat ini sedang menyelidiki secara rinci penyebab ledakan dan kebakaran pada kapalnya di Selat Hormuz serta menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan, kata pejabat tersebut.

Pada 3 Mei, Trump mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terblokir di Selat Hormuz dan berupaya keluar dari wilayah tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dukungan militernya terhadap inisiatif ini akan mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer. Operasi ini dimulai pada Senin pagi.

Leave a Reply