Menilik Rencana Penataan Kawasan Sriwedari Solo Senilai Rp200 Miliar

Menilik Rencana Penataan Kawasan Sriwedari Solo Senilai Rp200 Miliar
Pengunjung memberi pakan rusa di Taman Sriwedari, Solo, Selasa (12/5/2026). Pemkot Solo mengusulkan anggaran senilai Rp200 miliar kepada Kementerian PU untuk penataan kawasan tersebut yang mencakup revitalisasi taman hingga fasilitas publik lainnya. (Daerah/J. Howi Widodo).

Medianusantara.site, SOLO — Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tengah serius menggarap rencana penataan kawasan cagar budaya Sriwedari dengan total usulan anggaran mencapai Rp200 miliar kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Langkah strategis ini mendapat dukungan penuh dari Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah melalui pendampingan hukum serta fasilitasi anggaran. Penataan ini bertujuan menghidupkan kembali memori kolektif warga sekaligus mengintegrasikan berbagai fungsi ruang publik secara lebih modern dan inklusif.

Berdasarkan dokumen perencanaan, porsi anggaran terbesar dialokasikan untuk penyelesaian pembangunan Masjid Taman Sriwedari yang membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Selain itu, kawasan legendaris seperti kios buku Sriwedari atau Busri dan deretan kios pigura ikonik juga akan mendapat suntikan dana revitalisasi mencapai miliaran rupiah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan para pelaku ekonomi mikro yang selama ini menjadi ciri khas Sriwedari tetap mendapatkan tempat yang layak dan tertata.

Salah satu gebrakan dalam rencana ini adalah pembangunan Gedung Tourism Information Center (TIC) serta Sensory Garden atau taman khusus difabel untuk mendukung aspek inklusivitas. Pemkot juga merencanakan pembangunan gedung parkir dan area kuliner guna meningkatkan kenyamanan pengunjung. Meski penataan dilakukan secara masif, aktivitas publik seperti warga yang memberi pakan rusa atau pengendara yang melintas di sekitar masjid tetap berjalan normal sebagai bagian dari denyut nadi kawasan tersebut.

Kepala DPUPR Solo, Nur Basuki, menegaskan bahwa penataan ini akan dilakukan secara terbuka dan komunikatif kepada semua pihak yang terdampak. Proses revitalisasi ini diharapkan tidak hanya mempercantik lanskap kota, tetapi juga menjadikan Sriwedari sebagai pusat kegiatan olah rasa, olah raga, dan olah ekonomi yang berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah pusat, kawasan seluas belasan hektare di jantung Kota Bengawan ini diproyeksikan menjadi ikon wisata baru yang lebih representatif.

Leave a Reply