Tradisi Nublek Kopi di Temanggung, Doa Warga Sambut Panen 2026

Tradisi Nublek Kopi di Temanggung, Doa Warga Sambut Panen 2026
Warga Desa Gunung Gempol di Kabupaten Temanggung melakukan tradisi nublek kopi di Temanggung, Rabu (20/5/2026). ANTARA/Heru Suyitno

Medianusantara.site, TEMANGGUNG — Ratusan warga Desa Gunung Gempol, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi nublek kopi atau wiwit kopi sebagai penanda dimulainya musim panen kopi 2026.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu tidak sekadar menjadi seremoni menyambut panen, tetapi juga simbol rasa syukur masyarakat atas kesuburan tanah dan hasil bumi yang melimpah.

Berdasarkan pantauan di Temanggung, Rabu (20/5/2026), warga mulai berdatangan ke sekitar pendopo desa dengan membawa beragam makanan tradisional, seperti nasi tumpeng megono, jajanan pasar, hingga buah-buahan.

Mereka kemudian berkumpul di sepanjang jalan desa untuk mengikuti rangkaian tradisi adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lereng Temanggung tersebut.

Suasana hangat dan penuh kebersamaan tampak mewarnai jalannya acara. Sambil menunggu seluruh peserta hadir, sejumlah anak-anak desa menampilkan tarian tradisional untuk menghibur warga yang datang.

Setelah seluruh warga berkumpul dan duduk lesehan di atas tikar, acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara.

Tradisi Syukur Sambut Panen Kopi

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi tembung, yakni penyampaian maksud dan tujuan pelaksanaan tradisi nublek kopi.

Sesepuh Desa Gunung Gempol, Saryono, 76, mengatakan tradisi tersebut telah dilaksanakan masyarakat sejak puluhan tahun silam sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang diberikan.

“Tradisi ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanah, melimpahnya sumber air, dan hasil pertanian yang baik. Selain itu juga sebagai doa agar panen kopi tahun ini diberi kelancaran dan hasil yang melimpah,” katanya.

Menurut dia, tradisi tersebut juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Kalau tradisi seperti ini tidak dijaga, generasi muda nanti bisa melupakan budaya desa sendiri. Karena itu kami terus melibatkan anak-anak dan pemuda dalam setiap kegiatan adat,” katanya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin ulama setempat dan diikuti warga dengan penuh khidmat.

Usai berdoa, warga menggelar makanan yang dibawa dari rumah di atas daun pisang untuk disantap bersama. Tradisi makan bersama itu menjadi penutup rangkaian nublek kopi yang sarat makna kebersamaan dan gotong royong warga desa.

Leave a Reply