Medianusantara.site, BOYOLALI — Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Jawa Tengah mengecek stupa yang ditemukan warga di Dukuh/Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Jumat (29/5/2026). Dari pengecekan, mereka menemukan ornamen dengan motif sulur pada stupa tersebut.
Sebelumnya, warga Nepen, Teras, Sopan Prasetyo, menemukan batu prasada pada 8 April 2026, sedangkan stupa ditemukan pada 14 Mei 2026 ketika akan membuat jalan menuju kandang sapi. Sopan kemudian menyatukan keduanya.
Pamong Budaya Ahli Muda BP Kebudayaan Jawa Tengah, Wardiyah, mengatakan batuan yang ditemukan di Dukuh/Desa Nepen tersebut benar stupa. Hal tersebut teridentifikasi dari bagian yaitu prasada, anda, harmika, dan yasti.
Stupa bisa menjadi bagian suatu bangunan ataupun berdiri sendiri seperti candi perwara. Namun, ia belum bisa memastikan apakah stupa di Nepen, Boyolali, itu bagian bangunan atau berdiri sendiri karena membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Ia mengatakan di Desa Nepen, BPK telah menemukan lima stupa. Dari lima stupa itu dua di antaranya masih cukup utuh dan ditemukan di makam sekitar Dukuh Kestalan dan Dukuh Nepen. Tiga stupa lainnya masih berupa bentuk prasada atau dasaran stupa yang tersebar di makam, di samping temuan terakhir, dan di rumah warga. Empat stupa telah tercatat, dan satu stupa baru dikunjungi pada Jumat.
Wardiyah menyebut stupa terakhir secara arsitektur berbeda dibandingkan stupa di empat tempat lainnya karena telah memiliki ragam hias lengkap pada bagian sabuk anda. Namun, ornamen hias pada harmika belum selesai ditatah.
“Untuk ornamennya, kami lihat motifnya lebih ke sulur-suluran. Di bagian harmika sudah dihias dengan antefiks yang sebagian sudah dihias dengan ragam sulur-suluran, flora ya. Secara bentuk, secara estetika, itu memang paling bagus di antara lima stupa yang kami temukan. Di antara lima temuan, ini paling luar biasa,” kata dia kepada wartawan, Jumat.
Ditanya dari abad keberapa stupa-stupa tersebut, ia mengatakan sulit untuk menentukan angka pastinya karena belum ditemukan bukti tertulis. Namun, ia memperkirakan dari masa klasik abad ke-8 hingga 10 Masehi. Dengan sejumlah temuan benda ragam Buddha itu, Wardiyah berasumsi di seputaran Nepen sudah ada pendukung budaya Buddha.
“Soal masyarakatnya seperti apa, kami belum tahu. Namun, yang pasti mereka diwarnai dengan latar budaya agama Buddha. Itu berkembang di Desa Nepen karena kami menemukan lima objek,” kata dia.
Soal perbandingan stupa di Dukuh Nepen dan Dukuh Kestalan, ia belum menemukan keduanya sampai yasti. Untuk temuan terakhir masih ditemukan prasada, anda, dan harmika. Sedang bagian yasti stupa belum ketemu. Bagian prasada dan lainnya terpisah.
Beda dengan Candi Borobudur
Stupa di makam wilayah Dukuh Kestalan ditemukan prasada, anda, harmika, dan yasti yang terpangkas dalam satu batu. Kemudian, ia mengatakan stupa Nepen berbeda dengan stupa di Candi Borobudur. Bentuk stupa Borobudur seperti lonceng lebar sedangkan stupa Nepen mirip genta Candi dengan bentuk lebih langsing atau kecil.
Ia menyebut sebaran objek diduga cagar budaya (ODCB) di Nepen luar biasa. Arsitektur dan ragam hias temuan terakhir lebih kaya dibanding empat temuan lain. “Kami bisa menyatakan daerah ini kaya, jadi ketika masyarakat sedang mengolah tanah lalu menemukan batuan, segera laporkan. Baru nongol batunya sedikit saja, langsung melaporkan ke dinas terkait,” kata dia.
Penemuan itu terjadi di lahan milik warga bernama Sopan Prasetyo yang sedang membuka akses jalan menuju area pekarangan untuk kandang sapi dan kambing di Dukuh Nepen. Sopan mengatakan sekitar April 2026 ia menemukan bagian yang diduga fondasi atau landasan batu saat meratakan tanah.
“Penemuan pertama sekitar April, saya menemukan fondasi atau landasannya. Kemudian saya angkat dan tanahnya mau diratakan untuk jalan. Saat saya keruk lagi, ternyata ditemukan batu yang diduga stupa pada 14 Mei 2026. Lokasinya sama, hanya beda kedalaman sekitar satu meter,” ujar Sopan saat dihubungi Espos, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, Pegawai Staf Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali sekaligus Tim Ahli Registrasi Pendaftaran Cagar Budaya, Farid Burhanuddin, mengatakan kedua batu ditemukan di lokasi yang sama tetapi pada waktu dan kedalaman yang berbeda.
“Awalnya masyarakat ingin melakukan pelebaran jalan di lokasi penemuan pertama. Saat alat berat menggali sekitar kedalaman 80 sentimeter, ditemukan struktur batu yang diduga merupakan prasada,” kata Farid.
Berdasarkan pengukuran sementara, batu yang diduga stupa memiliki tinggi sekitar 1,25 meter dengan diameter 1,3 meter. Sementara batu yang diduga prasada memiliki tinggi sekitar 20 sentimeter dengan diameter 1,8 meter. Meski bentuk keduanya terlihat saling sesuai, Disdikbud belum dapat memastikan apakah keduanya berasal dari satu struktur bangunan yang sama.

Leave a Reply