Harga Pertamax Berpeluang Turun Usai AS dan Iran Berdamai

Harga Pertamax Berpeluang Turun Usai AS dan Iran Berdamai
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Manahan, Solo, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter yang berlaku mulai 10 Juni 2026. (Daerah/J Howi Widodo).

Medianusantara.site, JAKARTA — Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diikuti pembukaan Selat Hormuz berpotensi menjadi kabar baik bagi konsumen bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Meredanya tensi geopolitik dinilai dapat menekan harga minyak dunia dan membuka peluang penurunan harga Pertamax dalam beberapa bulan mendatang.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan perdamaian antara AS dan Iran menjadi sentimen positif bagi pasar energi global karena berpotensi meningkatkan stabilitas pasokan minyak mentah dunia.

Menurut dia, penurunan harga minyak dunia pada akhirnya dapat berdampak terhadap harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax.

“Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu,” kata Yayan kepada Bisnis, Selasa (16/6/2026).

Yayan memperkirakan penurunan harga minyak dunia akan berlangsung secara bertahap. Dalam skenario tersebut, harga minyak dapat terkoreksi sekitar 1% hingga 3% per hari dan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.

Harga Minyak Dunia Masih Jadi Penentu

Meski demikian, arah harga energi global masih sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan keberhasilan implementasi kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Menurut Yayan, pasar juga masih mencermati pergerakan harga minyak Brent yang saat ini menunjukkan tren pelemahan. Harga Brent diperkirakan masih berpotensi turun hingga awal Juli 2026 sebelum kembali menguat pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di negara-negara belahan bumi utara.

“Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yayan menilai pasar minyak global belum akan mencapai keseimbangan harga baru dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) yang diterbitkan Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, pasar masih berada dalam fase transisi menuju keseimbangan baru.

Menurut dia, peningkatan produksi minyak Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari akan menjadi salah satu faktor yang menahan kenaikan harga minyak dunia pascaperdamaian.

Dengan asumsi konflik benar-benar berakhir dan pasokan energi global kembali stabil, Yayan memperkirakan harga minyak dunia bergerak pada kisaran US$80-US$90 per barel hingga akhir tahun.

Selanjutnya, harga minyak berpotensi turun lebih lanjut ke rentang US$75-US$85 per barel pada akhir tahun hingga awal tahun depan.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Harga Pertamax Berpeluang Turun Bertahap Usai AS-Iran Berdamai“.

Leave a Reply