Konflik AS dan Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Mulai Naik

Konflik AS dan Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Mulai Naik
Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perdagangan global yang vital ini mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat pada awal Februari. ANTARA/Shady Alassar - Anadolu Agency / pri.

Medianusantara.site, JAKARTA — Memenasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran berdampak pada melambatnya lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz. Akibatnya harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan.

Minyak mentah Brent naik sekitar 3,5 persen menjadi sekitar 79 dolar AS per barel atau naik sekitar 9 persen di atas sebelum konflik pada Minggu (12/7/2026). Kpler mencatat hanya ada 22 kapal melintasi Selat Hormuz pada Kamis lalu.

Menurut perusahaan data maritim Kpler,  sebelum konflik pecah, lebih dari 130 kapal per hari melintasi Selat Hormuz.

Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat menyerang sekitar 140 sasaran di Iran menyusul serangan Teheran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.

Iran menyatakan pihaknya telah membalas serangan tersebut dengan menyerang posisi Amerika Serikat di kawasan.

Kepala Riset Timur Tengah Kpler, Amena Bakr, mengatakan serangan terbaru menghilangkan kepercayaan perusahaan pelayaran komersial, ungkap laporan The New York Times.

“Kepercayaan itu terkikis sangat, sangat cepat. Kami kembali ke titik awal dalam situasi ini,” kata Bakr yang dikutip dari Antara.

Badan Energi Internasional (IEA), dalam laporannya pada Jumat, menyatakan pemulihan ekspor minyak Teluk setelah gencatan senjata awal Amerika Serikat-Iran bulan lalu sempat meningkatkan pasokan global.

Namun, IEA memperingatkan pemulihan yang lebih luas tetap bergantung pada meredanya kembali konflik dalam waktu cepat.

Bakr mengatakan pasar energi mulai terbiasa dengan ketegangan yang terus berulang di kawasan tersebut.

“Pasar telah menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru. Pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya maupun tingkat risiko geopolitik,” ujarnya.

Leave a Reply