Sangkar Burung dari Pipa Paralon Bekas Solo Tembus Pasar Luar Negeri

Sangkar Burung dari Pipa Paralon Bekas Solo Tembus Pasar Luar Negeri
Perajin menyelesaikan pembuatan sangkar burung berbahan utama pipa paralon bekas di Kampung Debegan, Mojosongo, Solo, Rabu (1/7/2026). Menurut perajin, sangkar burung tersebut dijual mulai Rp500.000 hingga sekitar Rp3 juta per unit, bergantung pada ukuran. Produk itu dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia serta diekspor ke Taiwan, Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia karena dinilai lebih kuat, tidak mudah patah, serta tahan terhadap air dan hama. (Daerah/Joseph Howi Widodo)

Medianusantara.site, SOLO — Perajin menyelesaikan pembuatan sangkar burung berbahan utama pipa paralon bekas di Kampung Debegan, Mojosongo, Solo, Rabu (1/7/2026). Kerajinan hasil daur ulang tersebut menjadi salah satu produk unggulan yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara di Asia Tenggara.

Sangkar burung tersebut dijual mulai Rp500.000 hingga sekitar Rp3 juta per unit, bergantung pada ukuran. Selain memenuhi permintaan pasar dalam negeri, produk itu juga dipasarkan ke Taiwan, Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Pemanfaatan pipa paralon bekas sebagai bahan baku menjadi nilai tambah tersendiri. Selain mengurangi limbah, material tersebut menghasilkan sangkar burung yang lebih kuat, tidak mudah patah, serta tahan terhadap air dan hama dibandingkan bahan konvensional.

Keunggulan tersebut membuat produk kerajinan asal Kampung Debegan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Inovasi memanfaatkan bahan daur ulang juga menjadi strategi untuk meningkatkan nilai jual sekaligus memperluas peluang usaha bagi perajin lokal.

Kerajinan sangkar burung berbahan pipa paralon bekas menjadi bukti bahwa kreativitas dapat mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Inovasi itu sekaligus memperkuat daya saing UMKM Solo di pasar nasional maupun internasional.

Leave a Reply