Mengenal Omah Leo Boyolali, Ndalem Pronosastran Milik Anak Bupati Zaman Kolonial

Mengenal Omah Leo Boyolali, Ndalem Pronosastran Milik Anak Bupati Zaman Kolonial
Omah Leo atau Ndalem Pronosastran di Jalan Merbabu Boyolali, Minggu (12/7/2026). (Daerah/Ni'matul Faizah)

Medianusantara.site, BOYOLALI — Bangunan tua ala Eropa yang dinamai Omah Leo berdiri kokoh di Jl Merbabu Nomor 73 di Kecamatan/Kabupaten Boyolali. Dibanding rumah lain di sekitarnya, rumah tersebut mencolok karena terdapat patung manusia yang bergulat dengan singa di halamannya yang cukup luas.

Halaman bangunan itu terlihat bersih dengan sejumlah pohon nangka berdiri tegak menghias dan membuat suasana rindang. Saat Espos berkunjung ke lokasi itu pada Minggu (12/7/2026), terlihat bangunan gaya Eropa didominasi warna putih bersih terawat.

Di belakang terdapat beberapa kamar terpisah dari bangunan utama. Dapur menghubungkan antara kamar-kamar tersebut dengan ruang utama. Kolam tua tanpa air dengan patung anjing dan bangau terlihat di sisi timur rumah. Sedangkan di sisi belakang rumah terdapat beberapa kamar berjejer.

Sejarawan Boyolali, Muhammad Faiz, mengatakan belum menemukan dokumen soal kapan bangunan Omah Leo tersebut dibangun. Namun, dari bentuknya dan gayanya ia memperkirakan dibangun pada 1900-an awal.

“Kalau lihat gayanya, seperti gaya Art Nouveau ditemukan di bagian pintu bagian dalam. Jadi dia bukan neoklasik, tapi lebih ke gaya baru bangunan saat itu. Kalau Omah Leo itu masih menggunakan elemen gavel Belanda,” kata dia kepada Espos, Minggu.

Ia mengatakan rumah tersebut adalah milik anak Bupati Boyolali KRT Suranegara yang menjabat pada masa kolonial tepatnya pada 1922-1940. Rumah tersebut diberikan kepada anak perempuan dan menantunya, Paramasastra. Sehingga, rumah tersebut juga dikenal sebagai Ndalem (Rumah) Pronosastran.

“Dikenal sebagai Omah Leo karena ada patung singa atau leo di depan rumahnya. Masyarakat juga mengenal rumah kurcaci, karena digosipkan dulu tempat tinggal kurcaci. Ternyata ini milik anak Bupati Boyolali zaman kolonial,” jelas dia.

Ia mengatakan sempat ada warga setempat yang mengatakan rumah tersebut milik orang dari etnis Tionghoa sebelum akhirnya dibeli oleh Suranegara untuk anaknya. Faiz mengatakan hal tersebut sangat mungkin karena saat itu orang etnis Tionghoa sudah kaya dan mengadopsi budaya Belanda.

“Jadi mereka enggak kayak generasi sebelumnya yang diatur oleh Belanda untuk budaya China. Tapi setelah 1900-an, banyak orang etnis Tionghoa yang sudah berpakaian seperti orang Eropa,” kata dia.

Ia mencontohkan seorang etnis Tionghoa yang menyukai dan membangun rumah gaya Belanda yaitu juragan gula dari Semarang, Oei Tiong Ham. Faiz mengatakan di kebun belakang rumah terdapat miniatur kastil di sisi timur lalu di sisi barat terdapat miniatur gaya Eropa.

Hal tersebut tidak bisa diartikan secara khusus tanpa ada dokumen pendukung. “Ada suatu masa orang Eropa menyukai pernik-pernik Tionghoa, tapi juga bisa jadi itu hanya tambahan pada masa selanjutnya,” kata dia.

Tidak Dihuni

Soal ornamen patung Singa, ia mengatakan singa adalah lambang heraldik dari Belanda. Akan tetapi, keunikan dari Omah Leo Boyolali yakni patungnya berwujud pria yang mencengkeram singa.

“Untuk rumah Belanda dengan patung singa itu beberapa kali ketemu, cuma untuk orang yang melawan singa baru ketemu di Omah Leo Boyolali,” jelas alumnus SOAS University of London itu.

Menurut warga sekitar yang enggan disebut namanya, sepeninggal Paramasastra, Rumah Leo Boyolali atau Ndalem Pronosastran dimiliki salah satu cucu Pronosastra yang tinggal di Surabaya. Sebelumnya, rumah tersebut sempat berpindah-pindah kepemilikan di antara anak-anak Pronosastran.

“Pernah ada begitu orang Tionghoa datang ke rumah saya, mengatakan kalau dulu sebelum dibeli Suranegara untuk Pronosastran, rumah tersebut milik keluarganya yang etnis Tionghoa,” kata dia.

Rumah tersebut kini tidak ditinggali secara permanen, akan tetapi ada orang yang membersihkan dan dipasrahi untuk menjaganya. Ia mengatakan terdapat patung perempuan nona Belanda di kolam, akan tetapi patung tersebut rusak gegara tertimpa pohon roboh.

“Cucunya yang di Surabaya juga kalau di sini pasti menginap di Omah Leo Boyolali. Cuma menginapnya di kamar belakang,” kata dia.

Di dalam rumah tersebut terdapat dua kamar dengan ruang tamu. Kemudian, di depan terdapat teras yang mengarah ke Jl Merbabu dan bisa melihat sisi belakang patung leo yang bertarung dengan gladiator. Ruangan berisi meja makan menghubungkan bangunan utama dengan deretan kamar.

Omah Leo Boyolali atau Ndalem Pronosastran masih terlihat berdiri megah di Jl Merbabu Boyolali. Pintu pagar terkunci. Salah satu warga Boyolali, Varellia Zahra, mengatakan sejak kecil hingga usia 26 tahun ini ia sering lewat di Jl Merbabu Boyolali dan melihat Omah Leo.

“Soalnya rumahnya itu nyentrik sendiri, ada patungnya. Terus halamannya luas begitu. Penasaran siapa yang punya dan isinya. Saya kira dulu ini bangunan milik Pemkab, ternyata bukan, milik pribadi. Cuma milik siapa, saya kurang tahu,” kata dia. 

Leave a Reply