Tradisi Nyiwer Warnai Demo Tolak Pabrik Semen di Jateng, Ini Maknanya

Tradisi Nyiwer Warnai Demo Tolak Pabrik Semen di Jateng, Ini Maknanya
Suasana saat massa aksi menggunakan kostum Punokawan di depan kantor Gubernur Ahmad Luthfi, Rabu (22/7/2026). (Daerah/Adhik Kurniawan).

Medianusantara.site, SEMARANG — Aksi buruh, petani, dan pegiat lingkungan yang tergabung dalam Jateng Guyub di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026), tak hanya diwarnai penyampaian tuntutan penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Massa juga menggelar tradisi Jawa Nyiwer sebagai simbol tolak bala sekaligus harapan agar pemerintahan berpihak kepada rakyat.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi yang mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencabut izin proyek pabrik semen yang dinilai berpotensi merusak lingkungan serta mengancam mata pencaharian masyarakat.

Prosesi Nyiwer berlangsung khidmat. Massa berjalan perlahan mengelilingi kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah. Di barisan terdepan, sebuah tumpeng berisi aneka hasil bumi diusung sembari diiringi kepulan asap dupa.

Lantunan selawat turut mengiringi langkah peserta aksi. Rombongan kemudian berhenti di setiap gerbang kompleks kantor gubernur yang berjumlah enam titik.

Di sudut-sudut gerbang, peserta aksi menaburkan bunga lalu menyapu bagian pintu menggunakan sapu lidi sebagai bagian dari rangkaian tradisi tersebut.

Simbol Tolak Bala dan Pengingat bagi Pemerintah

Koordinator Jateng Guyub, Joko Prianto, menjelaskan Nyiwer merupakan tradisi Jawa yang sarat makna spiritual.

“Nyiwer iku [itu] tradisi Jawa. Bentuk spiritual tolak bala, agar orang-orang buruk di pemerintahan hilang,” kata Koordinator Jateng Guyub, Joko Prianto seusai tradisi, Rabu.

Menurut Joko, prosesi menyapu sudut gerbang melambangkan upaya membersihkan berbagai keburukan di lingkungan pemerintahan. Sementara itu, tumpeng berisi hasil bumi menjadi simbol bahwa Jawa Tengah merupakan lumbung pangan yang harus dijaga kelestarian lingkungannya.

Sing elek-elek disaponi, ben rakyat ora sengsoro [yang jelek-jelek dibersihkan, biar rakyat tidak sengsara]. Nyiwer yo kanggo ngilingke pemerintah sing bandel, angil kandanane [Nyiwer untuk mengingatkan kepada pemerintah yang bandel dan susah diberi masukan], lewat berserah kepada alam,” terangnya.

Tumpeng yang dibawa massa Jateng Guyub sejatinya ingin diserahkan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Namun, gubernur tidak menemui massa aksi.

“Jadi diserahkan ke Satpol PP, karena mereka yang mau menerima,” ucapnya.

Selain menggelar tradisi Nyiwer, sejumlah peserta aksi juga mengenakan kostum Punokawan di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah. Tokoh pewayangan tersebut dipilih sebagai simbol rakyat kecil yang selalu mengingatkan para pemimpin agar berpihak kepada masyarakat.

“Punokawan simbol rakyat biasa, selalu ada sosok Semar yang bijak, ngomong semuanya, masyarakat, pejabat yang ngomong sak karepe dewe [bicara seenaknya]. Hadir buat mengingatkan itu,” imbuhnya.

Leave a Reply