Celengan Tanah Liat, Tradisi Sekaten yang Masih Bertahan di Solo

Celengan Tanah Liat, Tradisi Sekaten yang Masih Bertahan di Solo
Penjual tertidur saat menunggu pembeli celengan khas Sekaten di Alun-Alun Utara Keraton Solo, Sabtu (8/8/2026). Celengan berbahan tanah liat menjadi salah satu ciri khas penyelenggaraan Sekaten di Solo. Pedagang menjual celengan mulai Rp10.000 hingga ratusan ribu rupiah. (Daerah/J Howi Widodo).

Medianusantara.site, SOLO — Seorang penjual tertidur di lapaknya saat menunggu pembeli celengan khas Sekaten di Alun-Alun Utara Keraton Solo, Sabtu (8/8/2026). Di hadapannya, beragam celengan tanah liat tertata menunggu pengunjung yang tertarik membawa pulang salah satu benda yang lekat dengan penyelenggaraan Sekaten di Solo.

Celengan atau tempat menyimpan uang berbahan tanah liat tersebut menjadi salah satu produk yang mudah dijumpai saat Sekaten. Bentuk dan ukurannya beragam, begitu pula harganya. Pedagang menjual celengan mulai dari Rp10.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan produknya.

Bagi sebagian pengunjung, celengan bukan sekadar tempat menyimpan uang. Kehadirannya di tengah perayaan Sekaten membuat benda sederhana berbahan tanah liat itu memiliki nilai tersendiri sebagai bagian dari suasana tradisi yang terus hadir dari tahun ke tahun.

Aktivitas jual beli pun tetap berlangsung di antara lapak-lapak pedagang. Ada penjual yang sibuk menata celengan agar menarik perhatian, sementara pedagang lainnya melayani pembeli yang datang memilih produk. Di sela-sela itu, ada pula pedagang yang harus menunggu ketika belum ada pengunjung yang mampir ke lapaknya.

Menurut pedagang, penjualan celengan pada Sekaten tahun ini berada pada kondisi relatif sedang. Meski demikian, keberadaan celengan tanah liat tetap menjadi bagian dari pemandangan khas Sekaten Solo. Di tengah berbagai produk dan hiburan yang hadir setiap penyelenggaraan Sekaten, benda tradisional ini masih memiliki ruang untuk menyapa pengunjung dan mempertahankan jejak tradisi.

Leave a Reply