28 Klub dari Liga 1 hingga Liga 4 Tunggak Gaji Pemain, Total Rp14,8 Miliar

28 Klub dari Liga 1 hingga Liga 4 Tunggak Gaji Pemain, Total Rp14,8 Miliar
Penyerang PSIS Semarang, Rafinha (kedua dari kiri), mendapat pengawalan ketat pemain Persiku Kudus dalam laga lanjutan Liga 2 atau Championship 2025/2026 di Stadion Wergu Wetan, Kudus, Sabtu (11/4/2026) sore. Laga ini berakhir sama kuat dengan skor 3-3. (Espos-MO PSIS Semarang)

Medianusantara.site, JAKARTA — Sebanyak 28 klub sepak bola Indonesia dari Liga 1 hingga Liga 4 tercatat masih menunggak gaji pemain. Bahkan, total tunggakan gaji yang tercatat di Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mencapai sekitar Rp14,8 miliar dan melibatkan 303 pemain.

Legal APPI, Mohammad Agus Riza Hufaida, menjelaskan data tersebut mencakup berbagai kasus tunggakan gaji pemain, mulai dari laporan yang masuk ke APPI hingga perkara yang telah diputus National Dispute Resolution Chamber (NDRC) tetapi belum dijalankan oleh klub.

“Total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian,” kata Legal APPI Mohammad Agus Riza Hufaida pada Arthur pada acara Water Break PSSI Pers “Membawa Liga Naik Kelas” di Kantor I.League, Jakarta, Senin.

Ke-28 klub itu adalah PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena,

Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.

Riza berharap persoalan masalah gaji ini segera dibereskan karena bagaimana pun ini hak pemain sepak bola.

“Dan hak pemain ini, ya kalau ada hadis yang bilang bahwa bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering,” kata dia yang dikutip dari Antara.

Riza sangat berharap permasalahan seperti ini tidak terjadi lagi musim depan, yang akan kick-off akhir pekan ini.

Dia menilai klub yang masih memiliki masalah dengan hak pemain semestinya tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi sebagai bentuk dari sanksi tegas.

“Dan soal bagaimana kemudian tidak ada permasalahan gaji, sebenarnya mungkin beberapa tahun sebelumnya kami sudah berulang kali menyampaikan mitigasi-mitigasinya, termasuk soal zero tolerance terkait dengan klub lisensi tadi,” kata dia.

Riza mengungkapkan bahwa musim lalu, di Super League saja masih ada tiga klub yang menunggak gaji pemain, yakni PSBS Biak, PSM, dan Semen Padang.

Riza khusus menyoroti kasus PSBS yang menurutnya seharusnya diantisipasi lebih awal karena masalah itu telah muncul sekitar empat bulan sebelum kompetisi musim lalu berakhir. 

Dia mengungkapkan hak pemain PSBS hingga kini juga belum dibayarkan.

“Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu, masih menjadi problem,” kata dia. 

“Harusnya sudah kita tinggalkan beberapa tahun lalu. Dan ke depan ini harus sudah harus enggak boleh terjadi, minimal Liga 1, jangan sampai terjadi. Ini yang paling penting,” tutup dia.

Leave a Reply