Medianusantara.site, SOLO — Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB saat satu per satu karyawan Daerah Media Group (SMG) mulai berdatangan ke kantor di Jalan Adi Sucipto Nomor 190 Karangasem, Laweyan, Solo. 29 Tahun SMG: Bertahan di Tengah Disrupsi, Bergerak dari Hilir ke Hulu
Mereka tidak mengenakan seragam rutin, melainkan kaos olahraga berbagai jenis. Ada yang mengenakan baju pemain anggar, baju pencak silat, taekwondo, badminton, dan lain-lain.
Ada juga yang mengenakan baju olahragawan tinju lengkap dengan glove-nya. Para pegawai SMG tersebut berkumpul dan membentuk beberapa barisan panjang di halaman kantor mereka.
Seorang instruktur senam zumba, Zinli Liska, berdiri tegak mengambil posisi di depan memimpin barisan. Dia memberikan contoh gerakan senam zumba yang diikuti oleh para karyawan SGM.
Awalnya beberapa orang masih malu-malu mengikuti gerakan instruktur. Tapi lama kelamaan mereka larut dalam setiap gerakan senam zumba yang menyesuaikan irama musik.
“Zumba ini memang olahraga yang menyenangkan, enjoy saja moving-nya. Tidak terasa badan ikut bergerak dan bernyanyi mengikuti irama musik atau lagu yang dimainkan,” ujar Zinli.

Walau kebanyakan tampak kaku saat mengikuti gerakan senam zumba, mereka tampak begitu menikmati momen kebersamaan pagi itu. Apalagi para petinggi SMG ikut membaur.
Seperti Komisaris SMG, Lulu Terianto dan CEO SMG, Arif Budisusilo. HUT ke-29 SMG hari itu benar-benar menjadi momentum kebersamaan antara para karyawan dengan bosnya.
Setelah bersenam bersama sekitar 25 menit, acara dilanjutkan aneka games di Radya Litera Griya Daerah. Aneka permainan antar karyawan SMG itu berlangsung cukup kompetitif.
Bukan soal hadiah bagi siapa yang menang, melainkan urusan gengsi sebagai sesama karyawan. Sekitar pukul 10.00 WIB acara dilanjutkan silaturahmi bersama jajaran komisaris SMG.
Hadir dalam sesi itu Presiden Komisaris SMG, Dr Ir Hariyadi B.S. Sukamdani, Komisaris Dorothea Samola dan Lulu Terianto. Acara berlangsung serius namun santai membicarakan dinamika media.
Dalam kesempatan itu Hariyadi merasa lega melihat tren kinerja SMG. Walau personel SMG semakin ramping, namun dari aspek kinerja terus menunjukkan tren positif dari waktu ke waktu.
“Walaupun jumlah timnya lebih ramping, kinerjanya alhamdulillah menunjukkan titik-titik perbaikan. Dari seluruh kinerja terus terjadi perubahan. Dan yang menarik juga, yang bisnis murni dari media justru terus menyusut ya, saat ini tinggal 30 persen saja,” ungkap dia.

Hariyadi mengatakan model bisnis media saat ini telah jauh berubah. “Bisnis modelnya sudah berubah. Yang tadinya orang membaca orang media berbayar, sekarang orang kan baca media kan tidak berbayar, gratis. Sehingga otomatis bisnis media ini turun,” tutur dia.
Agar SMG bisa bertahan di tengah disrupsi media, Hariyadi mengatakan, disepakati untuk melakukan hulunisasi. SMG harus memahami apa yang saat ini dibutuhkan oleh customer. Dengan begitu SMG bisa merumuskan strategi bisnis yang tetap relevan.
“Sekarang, yang hulunya tadi, yang kasih order ke kita, itu sudah berubah, preferensinya. Mereka berpikir ngapain mesti beriklan di media konvensional yang mana dia tahu, tim-timnya dia, produknya dia, baik barang atau jasa tidak akan kena ke masyarakat,” urai dia.
Hariyadi menyatakan harus ada perubahan yang sangat struktural agar media mampu bertahan. “Ini terus terang saya mengapresiasi SMG yang telah berani melakukan langkah-langkah yang unkonvensional. Alhamdulillah kita melihat progresnya memang terlihat,” tutur dia.
Hariyadi berpesan kepada keluarga besar karyawan SMG untuk tidak menyerah walaupun lelah. “Jangan pernah menyerah karena lelah, sampai tiba takdir Allah. Nah itu sesantinya Pak Hariyadi tuh. Kita tidak akan pernah menyerah karena lelah, sampai tiba takdir Tuhan.Ssampai apapun titik darah penghabisan lah, kita harus berupaya,” pesan dia.
Hariyadi mengingatkan berbagai tantangan dan gelombang perubahan menanti SMG di depan. “Kita akan menghadapi berbagai gelombang perubahan ke depan. Melihat bisnis media ini seumur saya bekerja, saya tidak pernah menghadapi situasi yang ada seperti di bisnis media. Di bisnis ini lengkap, ada problem dari landscape bisnis berubah, ada problem internal menyangkut SDM, juga problem eksternal. Tiga gelombang yang membuat kita selalu dinamis,” terang dia.
Pernyataan senada disampaikan CEO SMG, Arif Budisusilo. “Tidak terasa sudah 29 tahun SMG. Ini bukan waktu yang singkat, ini merupakan sebuah journey atau perjalanan yang sudah sangat panjang dengan segala macam dinamika yang kita alami, dan kita tetap berdiri tegak sampai hari ini. SMG mengalami era kejayaan koran, era mulai menggeliat di online, lalu semuanya berubah sampai hari ini,” tutur dia.

Arif mengatakan SMG harus bisa terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan perubahan perilaku pemangku kepentingan.
“Mensyukuri perjalanan 29 tahun ini, saya ingin mengingatkan kembali bagaimana kita bergerak dari industri news media, yang mengandalkan oplah koran itu sangat menopang, dari iklan yang banyak. Sempat mencapai kejayaan 10 tahun yang lalu revenue SMG di atas Rp50 miliar per tahun. Pokoknya pesta banyak duit. Tapi dalam perjalanan 10 tahun terakhir dari 2015 sampai hari ini karena disrupsi dan lain-lain, turun. Kemudian kita kembangkan online ternyata juga bukan bisnis yang serta merta kemudian menghasilkan,” urai dia.
Arif mengatakan di tengah situasi yang sangat menantang sekarang ini SMG butuh strategi baru. “Bila selama ini kita berada di hilir, sekarang kita mulai pergi ke hulu, hulunisasi. Maka kita dari downstream menjadi upstream. Dari kita distribusi berita, distribusi iklan, kita pergi menjadi perusahaan yang lebih fokus ke strategi komunikasi, strategi brand, merencanakan insight-insight yang bisa dimanfaatkan stakeholder. Dan dari situ kita bisa monetisasi. Tapi ini saja tidak cukup kawan-kawan,” tutur dia.

Menurut dia SMG harus membangun operasional perusahaan yang benar-benar excellent. “Kita membangun budaya baru, cara kerja baru, organisasi baru, untuk supaya organisasi kita yang tidak banyak ini, 140 orang, bisa bekerja dengan targetnya adalah bagaimana achieve goal. Bagaimana menjalankan setiap aktivitas kita itu efektif-efisien,” tegas dia.
Acara ditutup dengan sharing session dengan para pemain film Warga Rusun 609 yaitu David Nurbianto.

Leave a Reply