Medianusantara.site, KLATEN — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memasang satu sirene early warning system (EWS) di kawasan Kalitalang, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Sirene itu menjadi sistem peringatan dini ketika kondisi kedaruratan terutama berkaitan dengan erupsi Gunung Merapi.
Sirine tersebut dinyalakan saat digelar simulasi evakuasi mandiri di Desa Balerante, Kamis (8/10/2026). Sebelumnya, BPPTKG yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebarkan informasi agar warga tetap tenang dan tidak panik ketika sirene dibunyikan untuk mendukung kegiatan simulasi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan baru satu sirene yang dipasang di lereng Gunung Merapi wilayah Kabupaten Klaten. Secara bertahap, BPPTKG memberikan pemahaman kepada warga yang tinggal di daerah rawan terkait pentingnya sistem peringatan dini secara sistematis tersebut.
“Karena sebelumnya masyarakat memahami dengan kepercayaan bahwa bunyi seperti sirene akan mendatangkan bencana. Jadi, kami mencoba sedikit demi sedikit memberikan kesadaran masyarakat bahwa kita perlu memperkuat mitigasi kita dengan infrastruktur seperti itu,” ungkap Agus.
Sebelumnya, sistem peringatan dini serupa sudah dipasang di wilayah lereng Gunung Merapi di kabupaten lainnya. Paling banyak di wilayah Kabupaten Sleman, DIY. Sistem peringatan dini yang dibangun di Sleman didominasi oleh sistem yang dibangun BPBD setempat.
“Kami hanya beberapa. Kemudian di Boyolali dan Magelang. Semua sirene terintegrasi dalam satu sistem,” kata Agus.
Tak sekadar memasang sistem teknologi, ada standar operasional prosedur (SOP) yang sudah disiapkan untuk membunyikan sirene tersebut. SOP itu menjadi kesepakatan bersama antara BPPTKG dengan pemerintah daerah.
Sistem EWS yang dibangun, lanjut Agus, tidak bisa hanya dibunyikan oleh satu pihak. Artinya, sirene baru bisa menyala ketika dinyalakan bersama-sama pemerintah daerah dari jarak jauh.
Selain itu, juga sudah disiapkan SOP ketika kondisi darurat dan sirene tak bisa dibunyikan dari jarak jauh. Ada mekanisme pengaktifkan secara manual.
“Kalau itu pun enggak jalan, mungkin karena listrik atau apa, warga akan memukul bunyi-bunyian yang keras gitu. Jadi, semua sudah diatur sehingga sistem peringatan dini itu benar-benar bisa diandalkan ketika dibutuhkan,” kata Agus.
Berbagai pihak berharap kondisi tetap aman dan sistem tak perlu diaktifkan. Namun, ada beberapa kondisi. Salah satunya jika status aktivitas Merapi dinaikkan dan ditetapkan ke level awas.
“Kami tidak menginginkan, tapi skenarionya adalah ketika status awas ditetapkan, kemudian daerah tersebut adalah daerah terancam bahaya, maka sirene di tempat tersebut saja yang berbunyi. Jadi, tidak semua sirene kemudian berbunyi ketika awas. Kondisi yang kedua, ini yang lebih tidak kami inginkan adalah ketika terjadi awan panas tanpa ada tanda-tanda.Nah, ini juga akan dibunyikan seperti itu,” jelas Agus.
Sistem peringatan dini itu juga bisa terhubung ke ponsel warga di daerah rawan bahaya melalui aplikasi Smart System for Merapi Alert. Ketika sistem EWS yang diaktifkan, secara otomatis ponsel yang sudah terpasang aplikasi tersebut berbunyi sangat keras.
Disinggung jangkauan suara sirene yang terpasang, Agus mengungkapkan sistem yang dibuat didesain dengan jangkauan yang tak terlampau jauh. Sirene itu akan dibunyikan dan didesain menjangkau daerah-daerah yang benar-benar terancam.
“Jangan sampai ini kemudian terdengar oleh warga yang sebenarnya mereka di daerah aman, sehingga mereka panik,” kata dia.
Jangkauan suara dari sistem-sistem EWS yang sudah terpasang di beberapa wilayah berbeda-beda. Untuk EWS di Kalitalang, jangkauan suara terdengar sekitar 1 km.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, mengungkapkan pemasangan sistem EWS itu sangat membantu dan menjadi peringatan dini bagi warga yang tinggal di daerah rawan.
“Tadi contoh ketika ada simulasi, masyarakat mengetahui terjadinya bencana ketika ada sirene. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM dan kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga sirene ini agar kemudian pada saatnya kalau memang harus dibutuhkan bisa berfungsi,” ungkap Hamenang.

Leave a Reply