Asale Gandekan Jebres Solo, Tempat Tinggal Penyambung Lidah Raja dengan Rakyat

Asale Gandekan Jebres Solo, Tempat Tinggal Penyambung Lidah Raja dengan Rakyat
Kantor Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo. (Dok Daerah)

Medianusantara.site, SOLO — Setiap area, setiap tempat di Kota Solo memiliki sejarah dan asal-usul sendiri. Sebagian bisa ditelusuri hingga masa Mataram Islam berpusat di Kota Bengawan. Salah satunya Gandekan yang kini secara administratif masuk wilayah Kecamatan Jebres.

Wilayah kelurahan ini berbatasan dengan Kelurahan Purwodiningratan, Kelurahan Sangkrah, Kelurahan Sudiroprajan, dan Kelurahan Sewu. Nama Gandekan berasal dari kata abdi dalem Gandek Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Abdi dalem Gandek bertugas menjadi penyambung lidah rakyat dengan Raja Keraton Kasunanan Surakarta.

“Kampung Gandekan berasal dari nama tempat tinggal Abdi Dalem Gandek, yaitu abdi dalem yang menjadi perantara bagi raja untuk berkomunikasi dengan bawahan maupun para pejabat di bawah raja untuk berkomunikasi dengan raja. Jadi zaman dulu ada semacam penyambung lidah,” tutur pemerhati sejarah dari Solo Societeit, Dani Saptoni, Jumat (6/3/2026) siang.

Dia menjelaskan ketika itu orang tidak bisa berbicara langsung dengan raja. Tetapi semua yang akan disampaikan kepada raja, harus disampaikan melalui Abdi Dalem Gandek.

“Di Kota Solo sendiri ada dua nama kampung Gandekan, yaitu Gandekan Kiwo dan Gandekan Tengen. Kalau di kelurahan di Kecamatan jebres itu yang dibicarakan ini termasuk Gandekan Tengen. Kalau Gandekan Kiwo itu di Kali Larangan, selatan Singosaren. Rumah dari Abdi Dalem Gandek itu masih bisa ditemukan, sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan dihuni oleh kerabatnya,” ungkap dia.

Dani menguraikan Gandekan Tengen disebut demikian karena berada di sebelah kanan dari pusat kerajaan. Sedangkan dinamakan Gandekan Kiwo karena letaknya di sebelah kiri Keraton Solo. Kampung ini berada di bawah otoritas Reh Parentah Pepatih Dalem/Patih Keraton.

Abdi Dalem Terdekat Raja

Gandekan Tengen di bawah Reh Parentah Pepatih Lebet (dalam). Sedangkan Gandekan Kiwo di bawah Reh Parentah Pepatih Njawi (luar). Hal tersebut berlangsung sampai kemerdekaan Republik Indonesia (RI) diproklamasikan. 

“Ketika memasuki zaman kemerdekaan, Gandekan Kiwo masuk menjadi Wilayah Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan. Sedangkan Kampung Gandekan Tengen menjadi wilayah Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Kota Solo,” urai dia.

Lebih lanjut, Dani menguraikan Gandek juga merujuk sebutan bagi abdi dalem terdekat raja. Dalam pasewakan atau pertemuan, abdi dalem gandek bertugas membawa benda-benda upacara atau ampilan dalem.

Abdi dalem gandek terdiri dari abdi dalem pria dan wanita. Kepala kesatuan abdi dalem ini memiliki pangkat Lurah, dengan sebutan Nyai Lurah untuk perempuan dan Kyai Lurah untuk pria.

Berbeda dengan abdi dalem yang lain, bahasa yang digunakan oleh Gandek ketika berkomunikasi dengan raja menggunakan bahasa berirama seperti yang dipakai dalam pewayangan.

Dalam beberapa catatan, Gandek memiliki tugas multifungsi, bukan hanya sebagai perantara raja dengan bawahan tapi juga sebagai pelindung keamanan diri raja. Keberadaan Gandek yang masih bisa kita runut di Kelurahan Gandekan adalah abdi dalem gandek di era Paku Buwono X bernama Citraduta. Rumah tinggal yang hingga sekarang masih terawat dan dihuni anak turunnya masih bisa disaksikan.

Leave a Reply