Medianusantara.site, WONOGIRI — Kawasan permukiman di Kelurahan Wonokarto, Kecamatan Wonogiri, kini tidak hanya dikenal sebagai hunian kalangan menengah ke atas. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini berkembang menjadi “gudangnya” kedai kopi di Kabupaten Wonogiri.
Pantauan Espos, sedikitnya terdapat belasan kedai kopi yang tersebar di Wonokarto dan sekitarnya. Menariknya, sebagian besar kedai tersebut tidak berada di tepi jalan utama, melainkan berada di gang-gang permukiman.
Selama ini Wonokarto dikenal sebagai kawasan permukiman elite yang dihuni aparatur sipil negara (ASN), pengusaha, hingga pegawai kantoran. Kondisi tersebut membuat wilayah ini dinilai strategis untuk pengembangan usaha, termasuk bisnis kedai kopi.
Beberapa kedai kopi yang berkembang di kawasan ini antara lain Meetu, D’gram, Majene, Skena, Burger Tentrem, Kopi Pule, Namisae, Ergano, Wonogirich, Kokok, Javaholic, hingga 17 Coffee House. Selain itu, terdapat pula kedai kopi jalanan atau street coffee yang kerap mangkal di kawasan Sport Tourism Center Pringgodani hingga simpang Giriwono.
Pemilik Wonogirich, Yosep Bagus, mengatakan saat ini terdapat sedikitnya 14 kedai kopi di Wonokarto dan sekitarnya. Menurutnya, pertumbuhan kedai kopi di kawasan tersebut mulai meningkat pesat dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
“Kalau sekarang bisa dibilang Wonokarto ini seperti pusatnya kedai kopi di Wonogiri. Bahkan bisa dianalogikan seperti Jalan Slamet Riyadi di Solo yang bisa dibilang pusar kedai kopi,” kata Bagus saat ditemui Espos, Minggu (22/3/2026).
Ia menilai menjamurnya kedai kopi di kawasan tersebut menunjukkan tingginya permintaan masyarakat terhadap minuman kopi. Selain itu, kondisi ekonomi warga yang relatif mapan membuat daya beli terhadap produk kopi tetap tinggi.
Bagus menambahkan tren konsumsi kopi juga mulai bergeser ke arah yang lebih sehat, seperti kopi tanpa gula. Hal ini turut mendorong pertumbuhan usaha kedai kopi di kawasan tersebut.
Meski banyak kedai tidak berada di jalan utama, lokasi Wonokarto tetap dinilai strategis karena berada di pusat kota dan mudah diakses dari jalan protokol maupun jalan lingkar Wonogiri sisi utara.
Punya Konsep Berbeda
Menurut Bagus, setiap kedai kopi di kawasan tersebut memiliki konsep berbeda, mulai dari slow bar, kedai rumahan, hingga kafe dengan konsep restoran. Keberagaman konsep itu menjadikan Wonokarto sebagai pusat alternatif bagi penikmat kopi.
Setiap kedai juga memiliki ciri khas tersendiri, termasuk yang mengangkat kopi lokal Wonogiri sebagai produk unggulan seperti yang dilakukan kedai miliknya.
“Saya kira ke depan akan semakin banyak kedai kopi yang bermunculan di kawasan ini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pemilik 17 Coffee House, Ilham Kurniawan Adi. Ia mengaku tetap optimistis membuka usaha kedai kopi meski persaingan cukup ketat.
Menurutnya, pasar kopi di Wonokarto dan sekitarnya masih terbuka luas karena masing-masing kedai memiliki segmen pelanggan yang berbeda.
“Selain menyalurkan hobi, saya lihat pasar kopi di sini masih besar. Di tempat kami mayoritas anak muda, sementara di tempat lain ada yang menyasar pekerja,” ujarnya.
Dengan perkembangan tersebut, kawasan Wonokarto kini tidak hanya menjadi pusat permukiman, tetapi juga berkembang sebagai salah satu sentra ekonomi kreatif di Wonogiri, khususnya pada sektor kuliner dan kedai kopi. Kawasan ini juga didukung keberadaan sport tourism center satu-satunya di Kabupaten Wonogiri.

Leave a Reply