Wisata Ramai, Hotel di Jateng Sepi? Okupansi Lebaran Tak Sesuai Harapan

Wisata Ramai, Hotel di Jateng Sepi? Okupansi Lebaran Tak Sesuai Harapan
Foto Ilustrasi Hotel Loji MaxOne di Boyolali, Kamis (8/1/2026). (Daerah/Ni'matul Faizah)

Medianusantara.site, SEMARANGLibur Lebaran 2026 membawa gelombang wisatawan ke berbagai destinasi di Jawa Tengah. Namun di balik ramainya objek wisata, tingkat hunian hotel justru belum sepenuhnya menggembirakan.

Data dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mencatat, sebanyak 475.597 wisatawan mengunjungi berbagai destinasi di 35 kabupaten/kota selama periode arus mudik hingga arus balik Lebaran. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, kondisi tersebut belum berbanding lurus dengan okupansi hotel.

Ketua DPD Indonesia Hotel General Manager (IHGM) Jawa Tengah, M Soleh, menyebut tingkat hunian hotel sempat naik saat hari H Lebaran. “Rata-rata segitu di Jateng. Tetapi hari Selasa, sudah mulai turun lagi, 60-70% okupansinya,” kata Soleh kepada Espos, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan, okupansi hotel mulai meningkat pada Sabtu (21/3/2026) di kisaran 70–80%. Puncaknya terjadi pada Minggu hingga Senin (22–23/3/2026) yang menembus 90%. Namun setelah itu, tren kembali menurun.

Bagi pelaku industri perhotelan, capaian tersebut belum memenuhi ekspektasi.

“Berharapnya sejak liburan Nyepi sudah meningkat, tapi ternyata tidak. Terus Lebaran tahun 2025 itu sampai H+3 masih bagus. Jadi tahun ini ya masih seperti suasana Ramadan pada umumnya, belum berasa liburan,” ucapnya yang juga menjadi GM di Hotel Candi Indah Semarang.

Daya Beli dan Tren Menginap Berubah

Soleh menilai kondisi ini tak lepas dari faktor ekonomi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. “Sehingga pada akhirnya, sepertinya banyak pemudik atau wisatawan yang menginap di kerabat dibanding di hotel,” nilainya.

Karena itu, IHGM Jateng berharap ada sinergi lebih kuat dengan pemerintah daerah, terutama dalam menghadirkan event dan aktivitas wisata yang mampu mendorong okupansi hotel di masa libur mendatang.

“Kemudian kepada pelaku usaha hotel, semoga bisa bersiap dengan kondisi terburuk juga, khususnya terkait krisis energi, karena biaya operasional pasti akan meningkat,” pesannya.

Hal senada disampaikan Director of Sales & Marketing PO Hotel Semarang, Mohamad Sofyan Amin. Ia mengakui tingkat hunian di hotelnya belum sesuai target.

“Kalau angka tahun ini, belum sesuai ekspektasi karena mungkin ada beberapa faktor seperti ekonomi dan juga isu global, dan juga tren yg sekarang lebih last minute,” kata Sofyan.

Meski begitu, kondisi berbeda terjadi di Aston Inn Pandanaran Semarang. Hotel yang berada di Jalan Pandanaran ini justru mencatat okupansi tinggi.

“Dari tanggal 21-23 itu 98%. Terus di tanggal 24 87%, sesuai ekspetasi,” kata Marketing Komunikasi (Markom) Aston Inn Pandanaran Semarang, Mr. Almatea.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, menyebut lonjakan wisatawan memang baru terasa setelah hari H Lebaran.

“Dari H-7 sampai H+2, total ada 475.597 wisatawan berkunjung ke wisata Jateng. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 12,43% dibanding periode yang sama [423.010 wisatawan] pada 2025,” kata Hanung.

Ia memperkirakan, jika setiap wisatawan membelanjakan minimal Rp100.000 per hari, maka perputaran ekonomi selama periode tersebut mencapai sekitar Rp47,5 miliar. “Kalau minimal [Rp100.000] per orang, ya bisa,” ucapnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku wisatawan. Destinasi ramai, namun tidak selalu diikuti dengan peningkatan lama tinggal—yang selama ini menjadi penopang utama industri perhotelan.

Leave a Reply