Medianusantara.site, JAKARTA — Kabar duka datang dari dunia militer Indonesia. Mantan Menteri Pertahanan periode 2014–2019, Ryamizard Ryacudu, meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Kepergian pria kelahiran Palembang, 21 April 1950, itu meninggalkan jejak panjang di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sosok Ryamizard dikenal sebagai perwira dengan pengalaman tempur, operasi kemanusiaan, hingga misi perdamaian internasional yang membentuk reputasinya selama puluhan tahun di dunia militer.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Pertahanan, Ryamizard merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1974 dari kecabangan infanteri dengan pangkat awal Letnan Dua.
Karier militernya ditempa dari level bawah. Pada periode 1974–1995, dia pernah menjabat sebagai Komandan Peleton, Komandan Kompi, Wadanyonif Linud 305/Kostrad, Danyonif Linud 305/Kostrad, hingga Danbrigif Linud 17/Kostrad.
Perjalanan kariernya terus menanjak. Pada 1996–1997, Ryamizard dipercaya menjadi Asisten Operasi Kodam Wirabuana sebelum diangkat sebagai Danrem 044/Gapo Kodam Sriwijaya. Setelah itu, dia mengemban jabatan strategis sebagai Kepala Staf Divisi 2/Kostrad dan Kepala Staf Kodam Sriwijaya.
Pada rentang 1998–2000, sejumlah posisi elite di lingkungan TNI pernah dia duduki, mulai dari Panglima Divisi 2/Kostrad, Kepala Staf Kostrad, Pangdam Brawijaya, Pangdam Jaya, hingga Pangkostrad. Puncak karier militernya datang ketika dipercaya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) pada 2002–2005.
Karier panjang tersebut tidak lepas dari latar pendidikan militer yang dia tempuh, seperti Sussarcab Infanteri, Suslapa, Seskoad, Sesko ABRI, Lemhannas, Kursus Intelijen, Raider, Airborne, dan Free Fall.
Kiprah di Misi Perdamaian dan Tsunami Aceh
Nama Ryamizard tidak hanya dikenal di dalam negeri. Kiprahnya dalam misi internasional turut menjadi catatan penting dalam perjalanan kariernya.
Saat menjadi Komandan Pasukan Perdamaian Garuda di Kamboja pada 1992, Ryamizard berhasil membebaskan sejumlah perwira asing yang disandera kelompok Khmer Merah.
Kala itu, Ryamizard yang masih berpangkat Letkol Inf mendapat tugas melakukan negosiasi setelah berbagai upaya sebelumnya menemui jalan buntu. Di saat bersamaan, strategi operasi militer juga disiapkan apabila jalur diplomasi gagal dilakukan.
Namun, pendekatan diplomasi yang dijalankannya membuahkan hasil. Tujuh perwira Inggris, satu perwira Selandia Baru, dan satu perwira Filipina akhirnya berhasil dibebaskan tanpa operasi tempur.
Atas aksi tersebut, dia sempat diusulkan menerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, usulan itu ditolak Jenderal TNI Try Sutrisno yang kala itu menjabat Panglima ABRI karena tidak ingin dianggap sebagai bentuk kolusi.
Selain dikenal lewat misi perdamaian, nama Ryamizard juga lekat dalam penanganan bencana tsunami Aceh 2004. Saat menjabat KSAD, dia berperan dalam perencanaan sekaligus pelaksanaan operasi kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.
Di bawah koordinasinya, TNI membangun 53 jembatan penghubung antara Banda Aceh dan Meulaboh, selain sekitar 40 jembatan kecil lainnya. TNI juga membuka jalan baru sepanjang 64 kilometer untuk mempercepat distribusi bantuan dan pemulihan wilayah terdampak.
Seluruh pekerjaan tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan.
Selama pengabdiannya, Ryamizard menerima sedikitnya 18 tanda kehormatan dan penghargaan. Beberapa di antaranya ialah Tanda Jasa GOM VIII/Dharma Pala, Dwija Sista, Garuda XII/Canti Dharma, penghargaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Bintang Kartika Eka Paksi Utama, serta Bintang Mahaputera Pratama.
Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Profil Ryamizard Ryacudu: Eks Menhan dan KSAD yang Lihai Bebaskan Sandera Khmer Merah“.

Leave a Reply