Medianusantara.site, KLATEN — Kalangan generasi Z atau gen Z di Klaten menggelar tradisi wiwitan di area persawahan Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Rabu (1/4/2026). Tradisi itu digelar untuk mengawali panen padi di sawah yang sebelumnya menganggur selama lebih dari dua tahun.
Tradisi wiwitan digelar bersama petani di desa setempat. Setelah rangkaian tradisi, panen dilakukan menggunakan combine. Penggarapan lahan berkolaborasi dengan Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) milik Philip Avianto, seorang dokter yang kemudian bergelut di dunia pertanian.
Beras hasil panen kemudian digunakan sebagai bahan baku toko kopi Bingah, Mangut Karso, hingga Hoisam Oriental di bawah usaha Gemati Group. Panitia wiwitan sekaligus pemilik Gemati Group, Risca Ayu Maranita, mengungkapkan kegiatan itu digelar terinspirasi dari acara serupa yang digelar Sanggar Rojolele Delanggu Klaten.
Dari kegiatan itu, Risca kemudian terinspirasi menggarap lahan pertanian yang hasil panennya kemudian digunakan untuk tempat usaha kuliner yang dia kembangkan. Gemati Group lantas bekerja sama dengan Puskestan dan Komsah menggarap lahan milik petani yang sebelumnya menganggur.
“Kami akhirnya bertani dan ini mau panen. Dari situ kami kemudian mengadakan wiwitan ini, sekaligus untuk melestarikan budaya Jawa,” ungkap Risca saat ditemui Espos seusai kegiatan Wiwitan.
Rangkaian kegiatan itu menarik minat generasi Z lainnya untuk mengikuti tradisi wiwitan yang merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi. “Saya sangat senang dengan guyubnya dari acara ini. Minimal kegiatan seperti ini akan kami teruskan di sawah-sawah kami ke depan,” kata Risca.
Membangunkan Lahan Tidur
Risca mengungkapkan kegiatan tak terbatas pada tradisi wiwitan. Dia berharap sumber pangan lokal terutama dari Klaten bisa menjadi bahan baku di tempat usaha kuliner yang dia kembangkan.
Dia juga berharap usaha kuliner lainnya bisa mengambil bahan baku dari lokal Klaten. “Kami berharap bisa mengambil local resources, dari sawah Klaten buat makanan-makanan di Klaten,” ungkap Risca.
Pendiri Puskestan, Philip Avianto yang akrab disapa dokter Avi, mengungkapkan lahan yang digarap sebelumnya lahan tidur. Luasnya sekitar 1 ha. Selama lebih dari dua tahun, lahan tersebut tak digarap petani lantaran ketiadaan modal setelah padi yang ditanam diserang hama.
“Jadi memang kami membangunkan lagi lahan yang tidur, kami olah lagi menjadi produktif dan menjelang panen, kami selalu melakukan yang namanya wiwitan,” ungkap Avi.
Avi menjelaskan menggarap kembali lahan tidur menjadi salah satu kegiatan yang digulirkan Puskestan. Seluruh proses didampingi dari Puskestan. “Jadi sebenarnya program On Farm ini adalah program yang justru bagi orang-orang yang ingin menjadi petani. Jadi orang luar kami carikan lahan, kami sewakan, nanti yang invest di On Farm bisa ikut tanam, bisa ikut panen, bisa ikut nyemprot dan seluruh proses kami dampingi,” ungkap Avi.
Salah satu petani penggarap, Probo, mengungkapkan lahan yang digarap seluas 1 hektare (ha). Hasil panen perdana kali ini diperkirakan mencapai 4 ton. “Kalau hasilnya [produktivitas] memang belum bisa maksimal karena bekas lahan tidur dan kemarin masih ada serangan tikus. Tetapi ini sudah lumayan. Ke depan potensinya bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal,” ungkap Probo.
Leave a Reply