Aku selalu menghindari Bapak ketika dia memanggilku, minta ditemani bercerita dalam sekali duduk. Aku bosan jika harus mendengarkannya bercerita dengan cerita yang sudah ribuan kali diceritakannya di beranda rumah. Mendengarnya membuatku mual—mau muntah.
Oleh sebab itu, aku beralasan akan pergi dengan temanku-temanku ke pantai. Mendengar ucapanku, wajah Bapak langsung layu setengah mati. Seakan ia tak bersemangat lagi untuk melanjutkan hari Minggunya.
Tapi, memang, demikianlah Bapak selalu merasa kesepian dan sendiri sejak Ibu tak ada. Dan, agaknya, hari itu, ia sudah muak untuk mengingatkan aku jika pulang nanti; jangan sampai larut malam.
Di pantai, aku dan Agung, juga tiga temanku lainnya, sambil minum tuak kami saling berbagi cerita—mau apa dan ke mana setelah lulus sekolah? Tapi angin dari timur membawa malam begitu cepat, menembus tulang rusuk, dan memaksa kami harus bergeser ke rumah Agung sebelum jam 8 malam tiba.
Di sana, kami melanjutkan cerita sambil membakar umbi singkong. Bapaknya Agung sedang panen raya singkong di bulan ini, Desember. Kami diberi singkong dengan jumlah banyak hingga puas hati membakarnya.
Ada yang matang pas di perapian. Ada yang terbakar menjadi abu. Kami tertawa lepas ketika melihat singkong lebih banyak yang gosong ketimbang yang matang. Aldi, teman kami wajahnya sampai belepotan hitam arang. Ia seperti baru pertama kali melahap singkong bakar.
Malam itu, Aldi memang terlihat kelaparan dan capai sejak di pantai. Dia bercerita akan pergi ke Jepang untuk bekerja menjadi petani. Sementara temanku yang lain akan pergi ke Jakarta melanjutkan kuliah. Sedangkan aku? Masih belum tahu aku mau ke mana. Bingung.
Setibanya tengah malam, kami menyudahi pertemuan itu dengan pulang ke rumah masing-masing. Aldi, Ubed dan Hasim, pulang sambil terhuyung-huyung dengan cara tumpuk tiga alias tuti. Rumah mereka saling berdekatan. Sehingga, tidak khawatir motornya akan terjungkal dengan luka serius di tubuh mereka.
Sementara Agung tidak mabuk, ia mengantarku pulang meski harus melewati tiga desa dan dua taman kematian. Sesampai di rumahku, Agung melihat Bapak masih duduk-duduk di beranda. Lantas ia berpamit membunyikan klakson, tapi Bapak diam saja.
Tangan Bapak dingin ketika aku sentuh.
“Sudah malam, Pak,” kataku. “Sebaiknya istirahat.”
Bapak juga diam saja padaku.
Aku tahu Bapak sedang malas kepadaku, mungkin juga marah. Air mukanya dingin ketika ia berbalik menatapku, dan berpaling begitu cepat setelah aku pergi masuk ke dalam rumah.
Di jendela kamar, aku mengintip Bapak masih tetap duduk di beranda. Aku tak tahu, mengapa bapak begitu rela tubuhnya dihantam angin malam, hanya untuk melamun. Aku khawatir ia akan sakit jika terlalu sering begadang, ngopi, dan merokok, juga melamun tanpa sebab.
Dua jam setelahnya, barulah Bapak masuk ke kamar. Bapak lalu mengaji Surah Yasin yang membuat jantungku berdebar tidak biasa. Aku mengingat sesuatu yang lain tentang surah itu. Ya, kematian Ibu lima tahun yang lalu, waktu terakhir Bapak mengaji.
***
Dari Desember empat bulan berlalu, Bapak masih setia dengan gaya duduknya di beranda rumah. Apalagi ketika satu daun terjatuh dipetik angin dan berhenti melayang di depannya; ingatan Bapak seakan pergi pada momen lima tahun terakhir bersama Ibu, membuat bapak merasa yakin atas kesetiaannya dengan pagi-pagi ngopi, adalah cinta. Merokok dan membaca koran, adalah cinta yang akan membuat ibu tersenyum di atas langit. Sebagaimana sewaktu Ibu masih ada, demikianlah aktivitas bapak ditemani ibu; baca koran.
Di koran-koran itu ada cerpen dan puisi. Bapak senang membaca keduanya. Keduanya diarsipkan dengan cara dikliping. Lalu disimpannya di lemari rapat-rapat. Koran-koran itu menumpuk hingga melewati batas; bertumpuk-tumpuk di atas lemari—meluber hingga ke kasur.
Aku tak bisa membayangkan, mengapa Bapak senang mengumpulkan banyak cerpen dan puisi-puisi itu. Padahal cerpen dan puisi tak memberinya kehidupan sejahtera. Yang paling sia-sia lagi, tidak bisa mengembalikan Ibu ke beranda rumah. Walaupun berkali-kali disebutnya dalam puisi tentang cinta dan hidup, antara tanah dan mati.
Tapi Bapak tampak senang membacanya seakan ibu akan muncul kembali hari esok. Ketika hari Minggu tiba lagi, misalnya, bapak kembali membaca koran yang sama dibacanya di Minggu lalu. Tanpa bosan.
***
Kini Bapak tak lagi berlangganan koran ataupun menulis puisi. Alhasil kliping-kliping lamanya itu dibawa ke beranda rumah untuk dibersihkan dari debu-debu, sekaligus untuk menghibur dirinya tentu saja. Dibaca-baca.
Ketika itulah aku melihat foto Bapak sewaktu muda terpampang jelas di halaman terakhir koran. Rambutnya gondrong. Gagah sebagai penyair. Tertulis tanpa nomor tahun di salah satu kolom puisi miliknya untuk Minarsih, Ibuku.
“…mungkinkah suatu hari//ketika semua yang dianggap berarti dalam hidup//rumah dan identitas//hilang//masihkah kenangan dirasakan sebagai kenangan?//masihkah cinta dirasakan sebagai cinta?” tulis Bapak pada salah satu puisinya yang sebagian masih terbaca, yang sebagian lagi sudah tak terbaca, warnanya sudah purba dan tertutup bercak tanah rumah-rumah rayap, termasuk nomor tahun.
Tapi aku tidak pernah diberi tahu alasan mengapa Bapak mencintai puisi-puisi itu, melebihi cintanya padaku.
“Sebentar lagi aku mau kuliah, Pak.” kataku membuka obrolan.
Tapi Bapak tak berbicara sekalimat pun. Hening. Hanya terdengar kicau burung dan bahasa angin.
Padahal aku lama menunggu Bapak berbicara—menanggapiku, tentang kuliahku nanti bagaimana soal biaya. Sebab, bapak tak lagi bekerja sejak ibu tak ada. Kami hidup hanya mengandalkan hasil panen padi dan sisa-sisa tabungan yang sekarang sudah setipis kain kafan.
Sehingga, jangankan untuk berlangganan koran, ketika bapak mendengar kelulusanku yang sebentar lagi saja, penyakit jantungnya seakan mau kumat. Napasnya memburu dan boros.
Aku berharap Bapak semangat lagi dalam bekerja, seperti dulu menjadi kepala desa atau kades—pergi ke sana ke mari mengerjakan sesuatu. Tidak cukup jika hidup hanya mengandalkan hasil panen padi atau kebun musiman, apalagi mata air kini sudah tak lagi seperti dulu, dan musim tak lagi seperti dulu. Yang sekarang, waktunya panen raya justru gagal. Waktunya musim hujan, justru kemarau.
Bapak sudah semestinya berpikir untuk mencari pekerjaan lain sekarang, agar bisa menambah pemasukan. Pekerjaan apa saja yang penting bekerja, fokus kepadaku anak semata wayangnya. Bukan fokus pada klipingan-klipingan korannya yang sudah lapuk.
Tapi Bapak justru melengos pergi dengan koran-koran bekasnya itu ke kamar. Lalu merapikannya kembali di lemari. Sejak itulah aku tak lagi berjumpa dengan bapak di beranda, setelah orang-orang melihatnya terbujur kaku di tempat tidur, di antara sajak-sajak dan cerita pendek.
***
Kini Bapak dan Ibu tinggal bersama di langit, dalam satu taman kematian tentu saja. Kenyataan itu membuat rumahku kini menjadi sepi dan tak terawat di kemudian hari; setiap tiang dan atapnya sudah keropos dan menunggu waktu untuk ambruk. Akhirnya aku harus menjual tanah dan rumah itu, dan tinggal di rumah paman.
Rumah itu kujual atas desakan pamanku. Katanya, untuk biaya kuliah dan hidupku. Nyaris semua saudaraku, terutama dari pihak Bapak, memang sangat ringan tangan soal jual-menjual sebagaimana makelar tanah. Bahkan sebelum hari kematian bapak genap empat puluh, sawah dan kebun pemberian nenek untuk kami juga dijual paman.
“Untuk biaya tahlilan,” tegas pamanku.
Padahal Bapak paling anti jual-menjual, apalagi soal tanah. Haram baginya menjual sesuatu yang sekarang sudah jarang orang miliki; rumah, sawah dan kebun.
Salah satu tetangga cerita kepadaku soal riwayat Bapak dulu—semasih menjadi kades—banyak orang yang memusuhinya. Karena bapak selalu meyakinkan warga jika sawah dan kebun itu, sangatlah penting untuk masa depan.
Pernah suatu hari, ketika sekelompok orang datang ke rumah hendak menyogok Bapak agar merayu warga mau menjual tanah-tanahnya, bapak justru naik pitam dan mengusir orang-orang itu dengan nada keras. Orang-orang itu pun menggigil takut, lalu pergi tak kembali.
***
Selain keras soal tanah, Bapak juga dikenal murah hati pada mereka yang membutuhkan pertolongannya. Ketika ada salah satu warga yang tidak punya duit untuk berobat ke rumah sakit, misalnya, sebagai kepala desa, Bapak dengan bijak membuatkan surat tidak mampu dan mengantarnya langsung ke rumah sakit, berikut dengan si sakit.
Begitupun dengan warga yang hendak menikah tapi tidak punya duit untuk sebuah perayaan, dengan segera Bapak membuatkan program pernikahan massal, sekaligus dengan sunatan massal.
Sehingga, orang-orang merasa terbantu dengan segala program yang Bapak selenggarakan sesuai kebutuhan warga. Selain itu, bapak juga sering mengadakan sosialisasi pertanian dan berbagi bibit unggul padi, untuk seluruh petani di desa kami secara cuma-cuma, berikut dengan pupuk-pukuknya.
Tetapi baik saja tak cukup sebagai pemimpin. Bapak “dikoyak” oleh Busro—saingan bapak sewaktu nyalon kades dulu—yang bersekutu dengan sekelompok orang yang pernah bapak usir. Mereka menurunkan Bapak dari jabatannya, dengan cara melancarkan fitnah telah menilap dana desa seratus juta.
Banyak warga yang percaya isu itu, dan langsung membenci Bapak. Terkecuali Pak Samsul—tetangga dekat rumah dengan profesinya tukang gali kubur—masih meyakini Bapak sebagai pemimpin yang jujur dan banyak mempermudah urusan warga.
Betul kata Pak Samsul, Bapak memang orang yang jujur. Sebab, tidak ada bukti secara hukum maupun dukun soal fitnah itu. Tetapi Bapak sudah telanjur dikoyak habis oleh warga yang terhasut. Da betul-betul diseret seperti babi oleh warga, dan masuklah babi betulan bernama Busro; menggantikan posisi Bapak sebagai kades.
Setelah Bapak turun dari jabatannya atau enam hari setelah ibu meninggal, banyak warga yang kehilangan sawah dan kebun akibat terbujuk rayuan Busro. Ia menjanjikan warga jika sawah dan kebun dijual atas nama pembangunan, maka segala persoalan urusan dapur masing-masing akan aman, bahkan ngebul setiap waktu. Tapi kenyataannya, tidak. Kenyataannya itu adalah dusta.
Banyak warga pergi merantau mencari pekerjaan ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Karena tak ada lagi tanah yang bisa ditanami, desaku sudah menjadi sebuah kota kecil yang baru. Penuh kerlap-kerlip. Tapi tidak mendatangkan kemudahan selain orang-orang asing yang datang. Sehingga, masih banyak warga untuk sekadar mencari makan dan menabung buat menikah dan sunatan pun; mesti pergi jauh dalam mencari rezeki, termasuk aku.
Ini adalah kesedihanku yang paling lengkap setelah ditinggal Bapak. Hidup seakan menjadi hambar untuk dilanjutkan, sebagaimana dulu bapak merasa tawar dalam hidup setelah Ibu tak ada. Setelah tak lagi punya apa-apa.
Aku mengutuk sumpahi diriku sendiri, yang begitu tega dulu pernah meninggalkan Bapak sendirian, hingga ia melamun karena merasa sendiri. Aku pula merasakan yang lain dari puisi-puisi miliknya sebagai sebuah tragedi, dengan makna-makna berceceran.
***
Son Lomri
Lahir dan besar di Serang, Banten, tinggal di Singaraja, Bali. Menulis cerpen dan puisi serta nyambi jualan buku di Anima Tokobuku. Salah satu cerpennya pernah diteaterkan Komunitas Teater Cibetus dengan judul Mulih pada acara Pesta Rakyat 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Pengumuman Penerimaan Cerpen
Redaksi menerima kiriman cerpen dari para penulis dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Naskah dikirim dalam bentuk file attachment (lampiran), bukan ditulis langsung di badan surel.
2. Kirim ke alamat surel redaksi@daerah.co.id.
3. Panjang naskah 1.200 hingga 1.700 kata.
4. Kirim satu naskah saja dalam satu kali pengiriman. Kami tidak menerima kiriman beberapa cerpen dalam satu kali kiriman lewat surel.
5. Pastikan naskah belum pernah dimuat di media lain.
6. Sertakan data-data sebagai berikut:
-Nama lengkap
-Alamat surel aktif
-Alamat media sosial
-Nomor rekening (beserta nama pemilik rekening) dan NPWP

Leave a Reply