Medianusantara.site, SOLO — Puluhan warga berdesak-desakan demi mendapatkan air bekas jamasan pusaka dalam prosesi Kirab Malam 1 Sura di depan Pendapa Pura Mangkunegaran, Solo, Selasa (16/6/2026) malam. Sejak sebelum prosesi dimulai, warga sudah diizinkan masuk ke area pendapa.
Di sana mereka menunggu diperbolehkan mengambil air bekas jamasan bertabur bunga tersebut. Sekitar pukul 20.30 WIB, KGPAA Mangkunagoro X menyampaikan sabda dalem atau perintah untuk memberangkatkan peserta kirab. Ribuan orang pun melakukan tapa bisu tanpa bersuara dan melepas alas kaki saat berjalan melintasi rute kirab.
Setelah seluruh peserta keluar dari area dalam pura, warga diberi aba-aba untuk mendekat ke depan pendapa. Suara riuh pun memecah keheningan malam itu. Puluhan warga berlarian sambil membawa wadah berupa botol minum dari rumah. Tidak sampai di situ saja, tangan mereka ikut menciduk air dan langsung diusapkan ke area wajah.
Hanya berselang beberapa menit, air yang diletakkan di meja itu pun ludes tak bersisa. Antusiasme warga tersebut disaksikan langsung oleh Mangkunagoro X.
Salah satu warga yang ikut berebut air bekas jamasan pusaka pada malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran adalah perempuan paruh baya asal Boyolali, Kaminem, 55. Ia membawa satu botol penuh berisi air bekas jamasan.
Berharap Berkah Panen
Ia mengaku sudah rutin mengikuti tradisi ini sejak sebelum masa pandemi Covid-19. Ia berangkat dari rumahnya sejak pukul 15.30 WIB dan tiba di area pura sekitar pukul 16.00 WIB. ”Ya pengin sehat, waras, selamat kalau ada apa-apa. Anak-anak juga dimudahkan mencari rezeki,” katanya ketika berbincang dengan Espos pada Selasa (16/6/2026) malam.
Air tersebut akan ia bawa pulang untuk disimpan. Ia mengaku biasa meminum air tersebut sebagai penawar ketika sedang sakit pilek. Sebagai seorang petani, ia juga menggunakan air bekas jamasan itu untuk disiramkan ke lahan pertanian miliknya demi mengharap berkah panen.
Warga asal Gading, Solo, Tri Wahyuni, 52, juga turut berebut air bekas jamasan pusaka untuk mencari berkah. Ia datang berboncengan sepeda motor bersama temannya selepas magrib. Sebelum merapat ke Mangkunegaran, ia sempat mampir ke Keraton Solo untuk melihat kerbau bule keturunan Kiai Slamet dan mengikuti tradisi bancakan nasi liwet.
Malam itu merupakan kali pertamanya kembali berebut air bekas jamasan pusaka setelah tujuh tahun lalu. Ia sengaja membawa botol kosong dari rumah untuk diisi air tersebut.
Rencananya, air yang didapat akan ia campurkan untuk mandi. Ia meyakini melalui doa dan kepercayaan masing-masing, air tersebut akan mendatangkan kebaikan. ”Biar mendapat berkah. Kalau keinginan saya pribadi ya sehat walafiat dan rezeki melimpah. Itu saja,” ujarnya.

Leave a Reply