Operasi Militer Israel di Gaza Meningkat, PBB Sebut 40% Pengungsi Lebanon Balik

Operasi Militer Israel di Gaza Meningkat, PBB Sebut 40% Pengungsi Lebanon Balik
Tenda-tenda pengungsian di Kamp Nuseirat, Gaza, dipenuhi sampah dan limbah yang memicu munculnya tikus serta meningkatkan risiko penyakit bagi anak-anak dan warga terdampak konflik. (Istimewa/WAFA)

Medianusantara.site, GAZA — Pasukan Israel meningkatkan operasi militer di sejumlah wilayah Jalur Gaza, termasuk Khan Younis, Rafah, dan Kota Gaza. Serangan berupa penembakan artileri, penghancuran rumah serta infrastruktur sipil, dan penargetan kawasan permukiman memaksa puluhan keluarga mengungsi.

Berdasarkan laporan kantor berita Palestina WAFA, pasukan Israel pada Selasa (30/6/2026) melancarkan sedikitnya empat operasi penghancuran besar-besaran yang menyasar rumah-rumah dan infrastruktur sipil di wilayah timur serta timur laut Khan Younis.

Penembakan artileri juga menghantam wilayah barat laut Rafah, sementara kendaraan militer Israel melepaskan tembakan ke kawasan timur Khan Younis.

Di Kota Gaza, pasukan Israel dilaporkan meledakkan robot berisi bahan peledak yang ditempatkan di kawasan permukiman di lingkungan Tuffah, timur laut kota. Ledakan itu disertai tembakan intens dari kendaraan militer serta ledakan sporadis di lingkungan Shuja’iyya dan Tuffah.

Serangan juga meluas ke wilayah timur Beit Lahia di Jalur Gaza utara dan kawasan Atatra di barat laut Kota Gaza.

Sumber-sumber medis melaporkan sedikitnya delapan warga Palestina, termasuk dua anak, tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka pada Senin.

Menurut otoritas kesehatan setempat, jumlah korban tewas sejak pelanggaran gencatan senjata pada Oktober 2025 mencapai 1.045 orang, sementara 3.380 lainnya terluka.

Secara keseluruhan, korban tewas sejak konflik pecah pada 7 Oktober 2023 dilaporkan mencapai 73.058 orang, dengan 173.488 orang lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sekitar 40 persen dari lebih dari satu juta warga Lebanon yang mengungsi akibat serangan Israel telah kembali ke daerah asal mereka.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, mengutip data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengatakan perkembangan tersebut menjadi langkah penting menuju pemulihan, meski ribuan orang masih bergantung pada bantuan kemanusiaan.

“Ini menandai langkah penting menuju pemulihan, namun ribuan orang masih mengungsi dan terus bergantung pada bantuan kemanusiaan,” kata Dujarric.

Ia menegaskan proses kepulangan harus berlangsung secara aman, sukarela, dan bermartabat, serta para pengungsi yang kembali tetap harus memperoleh akses terhadap bantuan kemanusiaan.

Dujarric juga mengatakan Program Pangan Dunia (WFP) bersama mitranya telah menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau di Lebanon selatan.

Israel melancarkan serangan terbaru di Lebanon pada awal Maret 2026 dan hingga kini masih mempertahankan pasukannya di wilayah tersebut meski telah ada kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.

Leave a Reply