Kekeringan Ekstrem, Warga Swiss Dilarang Mencuci Mobil hingga Menyiram Taman

Kekeringan Ekstrem, Warga Swiss Dilarang Mencuci Mobil hingga Menyiram Taman
Sejumlah mobil hangus terbakar setelah kebakaran hutan dan lahan di kota pesisir Omis, Kroasia Selatan, Jumat (14/8/2026). Karhutla itu dipicu kekeringan dan panas ekstrem yang melanda Eropa, beberapa waktu terakhir. (ANTARA/XINHUA/PIXSELL/Ivo Cagalj)

Medianusantara.site, BERN Kekeringan dan panas ekstrem yang melanda wilayah Eropa beberapa waktu terakhir membuat sejumlah pemerintah daerah di Swiss mengambil langkah krusial untuk penghematan air. Bahkan, masyarakat setempat dilarang mencuci mobil, menyiram taman, serta mengambil air dari sungai untuk petani.

Dinas cuaca nasional MeteoSuisse mengumumkan peringatan kekeringan tertinggi pada tingkat empat untuk seluruh wilayah Swiss pada pekan lalu, Agustus 2026. Karena itu, hampir seluruh 26 wilayah kanton Swiss menetapkan pembatasan penggunaan air.

Menurut laporan harian Blick yang dikutip Antara, Minggu (16/8/2026), otoritas Kanton Aargau, yang berbatasan dengan Jerman, melarang warga menyiram taman, mengisi kolam renang, dan mencuci kendaraan.

Pemerintah setempat juga melarang petani mengambil air dari sungai, sehingga menimbulkan masalah serius bagi petani yang mengeluhkan terjadinya situasi kritis. Langkah serupa juga ditetapkan pemerintah Kanton Basel.

Sementara itu, tingkat air di Danau Zurich menurun secara signifikan. Kekeringan panjang dan ekstrem di Eropa ini juga berdampak pada tingkat air di Danau Constance serta Sungai Rhein Hilir. Sejumlah perusahaan pelayaran terpaksa membatalkan layanan di sejumlah rute.

Masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan di Swiss tengah, seperti Gunung Pilatus dekat Kota Lucerne, terpaksa mengandalkan pasokan air minum dari mobil tanker atau traktor karena mengeringnya sumber mata air setempat.

Air Sungai Turun ke Titik Terendah

Pemerintah Kota Solothurn juga melarang petani mengambil air dari sungai hingga waktu yang belum ditentukan. Sungai dan aliran air di seluruh Swiss mengalami penurunan hingga tingkat yang sangat rendah.

Menurut media Swiss Info yang mengutip kantor berita Keystone-SDA, seperti dilansir Antara, Kantor Federal untuk Lingkungan (FOEN) mencatat titik terendah sepanjang sejarah di 11 stasiun pemantauan. FOEN mengatakan antara 1 April dan 31 Juli, sekitar seperlima stasiun pemantauan mencatat level air terendah yang pernah terjadi pada periode tersebut dalam setahun.

Menurut FOEN, level air di banyak badan air di sebelah utara Pegunungan Alpen sangat rendah sehingga kondisi seperti itu biasanya hanya terjadi sekali dalam 2-10 tahun, dan dalam beberapa kasus hanya terjadi sekali dalam 30-100 tahun atau bahkan lebih jarang.

Selain sungai dan aliran air, danau juga terdampak gelombang panas dan kekeringan ekstrem di Eropa, dengan level air yang sangat rendah tercatat di Danau Constance, Danau Walen, Danau Zurich, Danau Zug, dan Danau Maggiore.​​​​​​​ FOEN mengatakan Swiss masih memiliki sumber daya air yang melimpah namun perubahan iklim akan mengubah ketersediaannya. 

Diketahui, Eropa sedang menghadapi periode terpanasnya dalam beberapa tahun terakhir, dengan Spanyol, Portugal, Prancis, Italia, dan Yunani terdampak paling parah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah Eropa pada Jumat (14/8/2026) waktu setempat.

Karhutla terjadi mulai dari Kroasia dan Prancis hingga Jerman dan Belgia, memaksa ribuan orang mengungsi serta membebani layanan kedaruratan. Di Kroasia, karhutla besar melanda area berhutan dan permukiman di sekitar kota wisata Omis pada malam hari.

Menurut kepolisian setempat pada Jumat, satu jenazah telah ditemukan di lokasi kejadian dan sedikitnya 40 orang terluka. Api mulai berkobar pada Kamis (13/8/2026) malam waktu setempat dan menjalar dengan cepat. Sedikitnya 1.000 orang dievakuasi dari daerah terdampak.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Di Prancis barat daya, karhutla akibat kekeringan ekstrem di Eropa mulai berkobar pada Kamis dan telah menghanguskan sekitar 1.100 hektare lahan dan memaksa lebih dari 500 orang meninggalkan rumah mereka.

Prancis juga sedang menghadapi gelombang panas baru, dengan 83 departemen berada di bawah peringatan oranye akibat suhu panas pada Jumat dan 57 departemen menghadapi risiko tinggi karhutla.

Begitu juga Inggris yang tengah berjuang mengatasi karhutla besar di West Midlands, di mana 19 rumah hancur dan 18 rumah lainnya rusak di Stourbridge. Negara itu mencatat suhu tertinggi sepanjang tahun ini pada Kamis, dengan suhu sementara mencapai 38,1 derajat Celsius di Inggris bagian selatan.

Di Spanyol, kebakaran di Provinsi Huelva di wilayah selatan telah berlangsung selama lebih dari sepekan dan masih belum dapat dikendalikan. Kebakaran lainnya di Provinsi Huesca, wilayah timur laut, berulang kali memburuk sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari waktu setempat.

Di Jerman bagian barat, karhutla memaksa sekitar 1.800 orang mengungsi dari rumah mereka pada malam hari. Helikopter dan peralatan militer dikerahkan untuk membantu memadamkan kebakaran, sementara para saksi mata menggambarkan situasinya sebagai mengkhawatirkan dan mengatakan abu berjatuhan dari langit.

Rencana Tanggap Darurat

Di Belgia bagian timur, kebakaran hutan akibat kekeringan dan panas ekstrem di Eropa pada Jumat mendorong otoritas setempat mengaktifkan rencana tanggap darurat tingkat provinsi. Institut Meteorologi Kerajaan Belgia pada Jumat tetap memberlakukan peringatan panas tingkat oranye.

Di Serbia, sebanyak 25 kebakaran lahan terbuka masih aktif di berbagai wilayah negara tersebut pada Jumat, dengan empat lokasi menghadapi kebakaran serius. Kebakaran di kawasan Deliblatska Pescara (Deliblato Sands) telah meluas hingga mencakup lebih dari 2.500 hektare.

Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa memperkirakan bahaya kebakaran yang “sangat ekstrem” di sejumlah besar wilayah di Eropa tengah dan timur pada 13-19 Agustus, membentang dari Jerman dan kawasan Alpen melalui Polandia hingga Balkan.

Kondisi sangat ekstrem juga diprediksi terjadi di sejumlah wilayah kecil di Inggris bagian selatan, Irlandia, Prancis bagian utara, dan Swedia bagian selatan, sementara bahaya kebakaran ekstrem diperkirakan melanda sejumlah wilayah Prancis dan Semenanjung Iberia yang lebih luas.

Layanan darurat di seluruh Eropa tetap siaga seiring gelombang panas terus melanda, sementara otoritas mendesak warga di wilayah yang terancam untuk mematuhi perintah evakuasi dan mengambil langkah-langkah pencegahan guna mengantisipasi kebakaran lebih lanjut.

Leave a Reply