Medianusantara.site, TEHERAN – Iran dan Oman terus melanjutkan perundingan mengenai mekanisme pelayaran di Selat Hormuz kendati proses tersebut menghadapi sejumlah faktor yang memperumit keadaan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan perundingan dengan Oman masih berlangsung serius. Kedua pihak terus bertukar pandangan untuk mencari mekanisme yang dapat menjamin kepentingan masing-masing sekaligus menyelesaikan persoalan terkait jalur pelayaran internasional.
“Perundingan antara Iran dan Oman terus berlangsung secara serius, dengan kedua pihak bertukar pandangan dalam pernyataan bersama,” kata Baghaei dalam konferensi pers, Senin, diberitakan Antara.
Menurut dia, Iran dan Oman telah menunjukkan tekad untuk mengembangkan mekanisme yang dapat menjamin kepentingan kedua pihak. Namun, proses tersebut tidak berjalan mudah karena dipengaruhi sejumlah faktor.
Baghaei menyebut setidaknya ada tiga hal yang memperumit perundingan, yakni kerumitan isu yang dibahas, keterlibatan banyak pihak, serta upaya sejumlah negara untuk mengganggu proses tersebut.
Perundingan Iran dan Oman berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu titik sensitif dalam konflik kedua negara karena jalur tersebut berkaitan dengan lalu lintas kapal-kapal komersial internasional.
Pada Sabtu, pemerintah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan terkait rute pelayaran di Selat Hormuz setelah melakukan negosiasi teknis dengan Oman selama beberapa pekan.
Namun, perkembangan tersebut mendapat sorotan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump bahkan mengancam akan menyerang Oman jika negara tersebut dinilai mengganggu negosiasi Amerika Serikat dan Iran.
“Jika Oman menghalangi, kami akan bom mereka sampai habis,” kata Trump kepada Fox News, Senin, saat ditanya mengenai posisi Oman dalam negosiasi terkait Iran dan Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan Washington memiliki saluran komunikasi langsung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
“Kami punya saluran belakang dengan IRGC. Kami berbicara secara langsung dengan pejabat IRGC di Iran,” kata Trump.
Di tengah ketegangan tersebut, Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran. Ia mengatakan Iran seharusnya mengangkat “bendera putih tanda menyerah”.
Trump juga menggambarkan Iran sebagai “pemain poker yang baik, tetapi mereka sekarat”.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata dengan Iran yang dicapai pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, militer Amerika Serikat melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara di Timur Tengah. Teheran juga menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata.
PBB Dorong Diplomasi
Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat dan Iran segera melanjutkan pembicaraan untuk mencari penyelesaian konflik.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Guterres meminta kedua negara kembali melakukan negosiasi untuk mencapai penyelesaian yang damai dan berkelanjutan.
“[Guterres] mendesak Republik Islam Iran dan Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi menuju penyelesaian damai dan berkelanjutan sesegera mungkin,” kata Dujarric dalam konferensi pers, Senin.
Guterres juga meminta Washington dan Teheran menurunkan retorika serta berupaya mencegah kembali pecahnya aksi militer.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika periode negosiasi selama 60 hari yang ditetapkan Trump berdasarkan ketentuan Kesepakatan Iran yang ditandatangani di Versailles pada 18 Juni telah berakhir.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington dan Teheran, dengan bantuan sejumlah mediator Timur Tengah, berupaya menyepakati persyaratan baru untuk mengakhiri konflik.
Namun, Trump pada 9 Agustus mengatakan Washington bernegosiasi dengan Teheran dengan setengah hati. Ia juga menyebut kondisi ekonomi Iran diduga semakin memburuk.
Erdogan Ikut Dorong Negosiasi
Dorongan agar konflik diselesaikan melalui diplomasi juga datang dari Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan. Erdogan mendesak Trump memaksimalkan jalur diplomasi untuk mengurangi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta melanjutkan negosiasi.
“Erdogan mencatat pentingnya memaksimalkan diplomasi dalam mengatasi ketegangan antara Iran dan AS, menyatakan harapan untuk melanjutkan negosiasi, dan menyatakan bahwa Turki akan terus mendukung upaya untuk mencapai perdamaian,” demikian pernyataan administrasi kepresidenan Turkiye, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan dalam percakapan melalui telepon dengan Trump. Keduanya membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan global.
Dalam pembicaraan tersebut, Erdogan juga mengatakan Ankara bersama Pakistan dan Arab Saudi menunjukkan sikap tegas dalam menjaga stabilitas dan keamanan regional melalui kerangka perjanjian pertahanan bersama yang ditandatangani ketiga negara.
Erdogan turut membahas situasi di Jalur Gaza. Ketika berbagai pihak berupaya memasuki fase kedua proses perdamaian di Gaza, tindakan otoritas Israel terhadap Palestina disebut semakin meningkat.
Ia menegaskan Turkiye akan terus mendukung upaya membangun perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut sekaligus mendorong langkah-langkah pembangunan kembali Jalur Gaza.
Dengan demikian, negosiasi Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz kini berlangsung di tengah tekanan geopolitik yang lebih luas. Di satu sisi, kedua negara berupaya mencari mekanisme untuk menjaga jalur pelayaran internasional. Di sisi lain, ancaman Amerika Serikat serta desakan dari PBB dan Turkiye menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari upaya meredakan konflik Washington dan Teheran.

Leave a Reply