Kaspersky Ungkap AI Makin Banyak Dimanfaatkan untuk Operasi Kejahatan Siber

Kaspersky Ungkap AI Makin Banyak Dimanfaatkan untuk Operasi Kejahatan Siber
Ilustrasi kejahatan siber

Medianusantara.site, JAKARTA — Perusahaan penyedia solusi keamanan siber, Kaspersky, mengungkapkan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan malware dan berbagai tingkatan operasi kejahatan siber.

Pemanfaatan AI untuk kejahatan siber itu mencakup phishing massal maupun tertarget, deepfake, pengembangan malware, pengumpulan intelijen sumber terbuka berbasis AI, hingga otomatisasi operasi kejahatan siber.

Pada 2022, AI terutama digunakan sebagai asisten pengetahuan untuk pengembangan malware. Kemudian, pada 2023 dan 2024, AI semakin dimanfaatkan untuk mendukung penulisan kode, pengintaian atau reconnaissance, serta phishing.

Memasuki 2025, AI telah terintegrasi ke dalam alur kerja pengembangan malware yang lebih luas. Perkembangan ini berpotensi berlanjut ke tahap berikutnya, yakni pengembangan malware yang bersifat agentic, yaitu malware yang dapat melakukan berbagai aktivitas secara lebih otonom.

Peneliti Keamanan di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Ahmad Fareed Fauzi Mohamad Radzi, mengatakan pelaku ancaman memanfaatkan AI untuk mendukung pengintaian, penelitian kerentanan, pembuatan alat eksploitasi, debugging kode, serta berbagai tahapan lain dalam operasi siber ofensif.

“Evolusi ini mempertegas perlunya para profesional keamanan siber, peneliti, dan pendidik untuk memahami bagaimana AI diadopsi oleh pelaku ancaman, sehingga dapat memperkuat pertahanan dan bersiap menghadapi ancaman siber generasi berikutnya,” kata Ahmad dalam Kaspersky Academic Summit di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kaspersky juga mengidentifikasi sejumlah indikator teknis yang dapat membantu peneliti mengenali malware yang dibuat menggunakan AI. Indikator tersebut antara lain komentar kode yang berlebihan, nama variabel yang umum, keluaran bergaya tutorial, pesan berisi emoji, serta modul dan API yang bersifat halusinasi atau tidak nyata.

Peran Manusia Semakin Penting

Di sisi lain, Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, menilai kemampuan AI yang semakin tinggi, baik dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, membuat peran manusia semakin penting.

“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat,” kata Evgeniya.

Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, industri, dan sektor publik diperlukan untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan bagi masa depan digital yang tangguh. Kaspersky menilai penguatan pendidikan keamanan siber dan pengembangan sumber daya manusia menjadi elemen penting untuk memastikan transformasi digital tetap aman, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya bagi Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menambahkan perkembangan AI telah mengubah sifat ancaman siber dengan sangat cepat. Menurut Nezar, AI menjadi faktor perubahan signifikan dalam keamanan siber.

Kerentanan terkait AI juga menjadi kategori risiko yang tumbuh paling cepat dalam setahun terakhir. Nezar mengatakan penipuan siber yang didukung deepfake dan rekayasa sosial otomatis telah melampaui ransomware sebagai kekhawatiran utama di tingkat pimpinan perusahaan secara global.

“Kita sudah melihat hal ini terjadi di Indonesia. Gelombang penipuan berbasis AI yang berkontribusi terhadap kerugian senilai Rp9,1 triliun tidak mengandalkan trik-trik sederhana. Penipuan tersebut menggunakan suara sintetis yang meniru orang-orang terdekat, identitas investasi palsu, dan pesan otomatis yang beroperasi dalam skala yang tidak mungkin dicapai oleh jaringan penipu manusia tanpa bantuan teknologi,” kata Nezar.

Menurutnya, AI tidak menciptakan ancaman tersebut dari nol, tetapi mempercepat kecepatannya, meningkatkan realisme, dan memperluas jangkauannya. Nezar mengatakan perkembangan ancaman tersebut membuat keamanan berbasis AI perlu dibangun secara adaptif dan berkelanjutan.

Membangun Sistem Keamanan

Salah satu pendekatan yang didorong adalah Security by Design, yaitu menempatkan aspek keamanan sejak tahap awal perancangan sistem atau platform digital, bukan setelah terjadi insiden. Nezar juga menekankan pentingnya membangun sistem keamanan yang dapat menjangkau masyarakat luas.

Menurutnya, sistem deteksi penipuan berbasis AI dan intelijen ancaman yang diterapkan secara nasional tidak hanya ditujukan bagi perusahaan atau lembaga keuangan. Sistem tersebut, kata dia, perlu dapat digunakan hingga oleh pemegang kartu SIM di desa.

Hal itu mencakup kebutuhan terhadap infrastruktur antipenipuan yang dapat diakses publik, penyaringan di tingkat telekomunikasi, serta verifikasi berbantuan AI pada titik masyarakat melakukan transaksi. “Kita juga perlu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil untuk memperkuat kemampuan menghadapi ancaman siber berbasis AI,” kata Nezar.

Sebelumnya, Kaspersky menemukan lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak berbasis AI agent sepanjang tahun 2026. Ancaman tersebut dinilai meningkatkan risiko serangan siber karena AI agent bergantung pada berbagai kerangka kerja pihak ketiga, API, dan plugin.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, Adrian Hia, mengatakan perkembangan AI turut membuka lapisan baru dalam rantai pasok keamanan siber. Ketergantungan AI agent terhadap komponen pihak ketiga membuat satu komponen yang dikompromikan berpotensi menyebarkan ancaman ke sistem lain.

“Kaspersky telah mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak AI agen. Karena agen secara dinamis bergantung pada kerangka kerja pihak ketiga, API, dan plugin, satu ketergantungan hulu yang dikompromikan dapat menyebar ke seluruh sistem hilir, secara dramatis memperluas permukaan untuk sabotase siber dan spionase siber,” kata Hia dalam keterangannya pada Senin (10/8/2026). 

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul Kaspersky: AI Percepat Pengembangan Malware dan Operasi Kejahatan Siber.

Leave a Reply