TNI AU Kerahkan Pesawat CASA untuk Perkuat OMC Tangani Karhutla Kalbar

TNI AU Kerahkan Pesawat CASA untuk Perkuat OMC Tangani Karhutla Kalbar
Foto udara karhutla di Kelurahan Sepan, Penajam Paser Utara, Kaltim, pada Rabu (19/8/2026). (ANTARA/ HO- BPBD Kabupaten PPU)

Medianusantara.site, PONTIANAK – TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat CASA A-2117 dari Skadron Udara 4 untuk memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Komandan Lanud Supadio, Marsma TNI Sidik Setiyono, di Sungai Raya, Jumat (21/8/2026), mengatakan pesawat tersebut didatangkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, untuk mendukung pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat.

“Pengerahan alutsista tersebut menjadi langkah strategis TNI AU dalam memperkuat dukungan operasi udara untuk membantu mengendalikan potensi karhutla di wilayah Kalimantan Barat,” katanya.

Menurut Sidik, OMC merupakan bagian dari penanganan terpadu yang tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga mengupayakan kondisi cuaca yang mendukung pencegahan dan pengendalian karhutla.

Ia mengatakan TNI AU melalui Lanud Supadio terus mengoptimalkan berbagai kemampuan dan sarana yang tersedia untuk mendukung penanganan karhutla, termasuk melalui water bombing dan operasi udara.

“Penanganan karhutla membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan sinergi. TNI AU melalui Lanud Supadio akan terus mengoptimalkan seluruh kemampuan yang kami miliki, baik melalui water bombing, OMC maupun dukungan operasi udara menggunakan pesawat CASA A-2117,” katanya.

Pesawat CASA A-2117 dari Skadron Udara 4 digunakan untuk mendukung pelaksanaan OMC melalui penyemaian bahan semai pada awan yang memenuhi persyaratan guna meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Kehadiran pesawat tersebut menambah kekuatan operasi udara dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat yang sebelumnya telah didukung patroli udara, water bombing, dan OMC.

Sidik mengatakan seluruh dukungan udara akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan kebutuhan penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Menurut dia, sinergi antarlembaga menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat dan kualitas lingkungan.

“Upaya tersebut menjadi wujud nyata komitmen TNI AU untuk senantiasa hadir memberikan dukungan dalam menjaga keselamatan masyarakat sekaligus melindungi lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

12.880 Personel Gabungan Dikerahkan

Kementerian Kehutanan mengerahkan sebanyak 12.880 personel gabungan dalam operasi pemadaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan yang kini telah memasuki hari ke-48 penanganan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Mustiko, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan operasi intensif tersebut melibatkan personel Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, serta unsur masyarakat terkait.

“Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang,” kata dia.

Dia menjelaskan khusus dari unsur Kemenhut, ada sebanyak 758 personel Manggala Agni yang dikerahkan di lapangan, terdiri atas 265 personel di Kalimantan Barat, 208 di Kalimantan Tengah, 174 di Kalimantan Selatan, dan 111 di Kalimantan Timur.

Kemenhut juga menyiagakan 45 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan untuk memperkuat area rawan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Skema penanganan karhutla yang dilakukan secara terpadu itu memanfaatkan pemadaman darat, pembasahan lahan gambut, serta dukungan udara berupa patroli dan penyiraman air dari udara atau water bombing.

“Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca telah dilaksanakan sebanyak 45 kali penerbangan dengan menyemai 45 ton bahan semai guna merangsang pertumbuhan awan hujan,” cetus Yudho.

Fokus Perlindungan Keselamatan Warga

Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan penanganan karhutla yang panjang ini berfokus pada perlindungan keselamatan warga serta efektivitas tim di garis depan. Ia sekaligus mengimbau perusahaan dan masyarakat untuk memperketat penjagaan guna mencegah munculnya titik api baru.

Kemenhut mengonfirmasi berdasarkan data sementara, total luas karhutla di Kalimantan mencapai puluhan ribu hektare, dengan rincian 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare di Kalimantan Tengah, 2.715 hektare di Kalimantan Timur, dan 400 hektare di Kalimantan Utara.

Memasuki pekan ketujuh operasi, Kemenhut menerapkan skema rotasi personel, pemeriksaan kesehatan rutin, penguatan logistik, serta pembuatan sumur bor darurat di sekitar lokasi kebakaran untuk mempermudah pasokan air pemadaman.

“48 hari operasi menunjukkan beratnya pekerjaan menghadapi karhutla, tetapi semakin banyak kebakaran yang bisa kita cegah sejak awal, semakin kecil risiko yang harus ditanggung masyarakat dan lingkungan,” kata Dwi Januanto.

Kemenhut, menurut dia, secara prinsip telah menjalankan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam menghadapi periode rawan karhutla dengan memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan kemampuan merespons kebakaran sejak dini.

Kerja Manggala Agni bersama MPA, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, sukarelawan, dunia usaha, dan masyarakat ini dinilai menjadi kekuatan penting untuk menjaga hutan sekaligus melindungi kesehatan, keselamatan, ruang hidup, dan aktivitas ekonomi masyarakat dari dampak kebakaran.

“Pemerintah mengajak seluruh pihak menjaga wilayahnya, menghindari aktivitas yang dapat memicu api, dan segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sebelum meluas,” cetusnya.

Leave a Reply