Medianusantara.site, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia kembali mengkhawatirkan seiring meningkatnya titik panas dan memburuknya kualitas udara, terutama di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat 534 titik panas terpantau pada Rabu (19/8/2026). Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 314 titik.
“Wilayah perhatian titik panas di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, dan Jambi,” tulis Kemenhut melalui akun resmi Instagramnya.
Kemenhut menegaskan titik panas atau hotspot tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran. Data tersebut merupakan indikasi awal yang tetap perlu dipantau dan diverifikasi langsung di lapangan.
Dampak karhutla juga mulai terasa terhadap kualitas udara. Berdasarkan pemantauan kualitas udara, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan berada dalam kategori tidak sehat.
Beberapa titik di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan bahkan masuk kategori sangat tidak sehat akibat tingginya konsentrasi PM2,5.
Skala kebakaran tahun ini juga cukup besar. Kemenhut mencatat luas karhutla secara nasional hingga Juli 2026 mencapai sekitar 202.004 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen berada di area penggunaan lain (APL).
Kondisi tersebut terjadi di tengah fenomena El Niño yang meningkatkan risiko kebakaran karena membuat sejumlah wilayah mengalami kondisi yang lebih panas dan kering.
Komitmen Kemenhut
Dilansir laman resminya, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan komitmen Kemenhut untuk memperkuat kesiapsiagaan dan pengendalian karhutla di tengah kondisi anomali iklim El Niño 2026. Hal tersebut disampaikan Raja Juli dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Dalam paparannya, Raja Juli menjelaskan kondisi El Niño 2026 menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi terjadinya karhutla di Indonesia. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Niño saat ini telah aktif dengan intensitas sangat kuat.
Indeks anomali suhu permukaan laut wilayah Nino3.4 tercatat sebesar +2,19. BMKG juga memprediksi puncak intensitas El Niño 2026 berpotensi mencapai level sangat kuat.
“Kalau kita lihat data BMKG, El Niño tahun ini datang lebih cepat dari perkiraan awal dan saat ini sudah berada pada intensitas sangat kuat. Bahkan kondisi ini memiliki kemiripan dengan El Niño tahun 2015 yang menjadi salah satu tahun dengan kejadian karhutla terbesar,” ujar Raja Juli.
Namun, Raja Juli berharap kondisi tersebut dapat dikendalikan bersama melalui kesiapsiagaan, kerja sama, dan respons cepat seluruh pihak.
Ia juga mengungkapkan perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang mempercepat terjadinya El Niño. Berdasarkan data, siklus El Niño terjadi setiap empat tahunan dan diperkirakan baru akan kembali terjadi pada 2027. Namun, faktanya El Niño dengan intensitas tinggi sudah terjadi satu tahun lebih cepat.
“Climate change is real, ternyata justru lebih cepat satu tahun,” imbuhnya.
Raja Juli mengatakan luas karhutla pada 2026 memang mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun non-El Niño. Hingga periode Januari-Juli 2026, luas karhutla lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2019 dan 2023, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan 2015.
Provinsi dengan luasan karhutla terbesar hingga Juli 2026 antara lain Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau.
“Angka ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan kita belum selesai. Pengendalian karhutla bukan hanya tugas Kementerian Kehutanan, melainkan tugas bersama semua pihak,” jelas Raja Juli.
Selain memantau luas kebakaran, Kemenhut terus melakukan deteksi dini karhutla melalui pemantauan titik panas sebagai indikator awal potensi kebakaran.
Kementerian juga melakukan berbagai langkah antisipasi dan penanggulangan, mulai dari penerbitan surat edaran kepada pemerintah daerah, penguatan koordinasi nasional, apel kesiapsiagaan, aktivasi posko siaga darurat karhutla, operasi pemadaman, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia Manggala Agni.
Kemenhut juga membentuk Satgas Supervisi Pengendalian Karhutla, membangun War Room Karhutla, melakukan revitalisasi sarana dan prasarana pengendalian karhutla, serta melaksanakan operasi pemadaman darat di enam provinsi prioritas, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Operasi tersebut dilakukan bersama unsur TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan pemerintah daerah.
Kolaborasi juga dilakukan bersama BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), termasuk melalui penguatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan dukungan data iklim dan pemantauan kondisi lapangan.
Kemenhut juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian/lembaga terkait untuk memperkuat langkah pencegahan karhutla.
DPR Soroti Lonjakan Karhutla
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menyampaikan apresiasi sekaligus menekankan pentingnya penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak dalam menghadapi ancaman karhutla 2026.
Meski demikian, Alex memperingatkan Menteri Kehutanan dan jajarannya karena kondisi karhutla tahun ini cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut luas kawasan terbakar meningkat 366 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Komisi IV DPR RI juga meminta strategi penanganan karhutla lebih dimaksimalkan dan diperbaiki jika diperlukan. Pemerintah diminta tidak kalah cepat dengan peningkatan titik panas dan lebih mengutamakan upaya pencegahan.
Dari sisi dukungan anggaran, Kemenhut memastikan penguatan pendanaan pengendalian karhutla melalui berbagai sumber pembiayaan.
Raja Juli menegaskan pemerintah akan terus memperkuat pencegahan, deteksi dini, respons cepat, hingga penegakan hukum terhadap pelaku penyebab karhutla.

Leave a Reply