Dokter Rumah Sakit UNS Solo Ingatkan Risiko Diabetes pada Anak Obesitas

Dokter Rumah Sakit UNS Solo Ingatkan Risiko Diabetes pada Anak Obesitas
Ilustrasi anak obesitas. (freepik.com)

Medianusantara.site, SOLO — Dokter Spesialis Anak sekaligus Konselor Laktasi dari Rumah Sakit (RS) UNS Solo, dr Aisya Fikritama A, SpA, mengingatkan obesitas pada anak harus diwaspadai karena membawa risiko masalah kesehatan.

Ia menekankan kondisi tubuh gemuk pada anak tak boleh hanya dipandang sebagai persoalan penampilan atau tumbuh kembang biasa, melainkan menyimpan ancaman penyakit kronis, salah satunya diabetes tipe 2.

“Anak dengan obesitas berisiko mengalami tekanan darah tinggi, gangguan kolesterol, resistensi insulin sampai diabetes tipe 2, dan perlemakan hati. Mereka juga lebih berisiko mengalami gangguan tidur, seperti sleep apnea,” terang dr Aisya saat memberikan keterangan kepada Espos, Selasa (25/8/2026).

Tidak hanya menyerang fisik, obesitas juga memukul kondisi psikologis anak. Menurut dr Aisya, anak yang mengalami obesitas sangat rentan mengalami krisis kepercayaan diri hingga menjadi target perundungan (bullying) di lingkungannya.

“Yang penting disadari, semakin dini obesitas terjadi dan semakin lama berlangsung, risiko masalah kesehatan saat dewasa juga bisa semakin besar,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan obesitas pada anak adalah masalah yang sangat kompleks dan jarang dipicu oleh satu faktor tunggal. Namun, penyebab paling dominan adalah gaya hidup, yakni ketidakseimbangan antara asupan energi yang masuk dengan aktivitas fisik.

Menurutnya, anak-anak masa kini kerap mengonsumsi makanan dengan kalori berlebihan. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, makanan cepat saji (fast food), serta produk ultra-proses sering kali tidak diimbangi dengan gerak fisik yang cukup.

Jangan Diet Ketat

Selain itu, faktor kebiasaan keluarga, pola tidur, genetik, hingga kondisi medis tertentu turut mengambil peran. Meski kondisi obesitas menyimpan banyak risiko penyakit kronis, dr Aisya melarang para orang tua untuk memberikan diet ketat secara sembarangan kepada anak. 

Ia menjelaskan langkah pertama yang harus dilakukan jika anak telanjur obesitas adalah berkonsultasi ke dokter anak untuk menilai profil pertumbuhan dan kondisi kesehatannya. Menurutnya, penanganan yang paling krusial justru harus dimulai dari pembiasaan di rumah, dengan melibatkan peran aktif seluruh anggota keluarga.

Anak harus mulai dibiasakan menyantap makanan bergizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi makanan dan minuman tinggi gula dan ultra-proses. Selain itu, tidur yang cukup dan teratur juga harus dijaga.

“Jadi fokusnya bukan sekadar menuntut ‘anak harus kurus’, tetapi bagaimana anak bisa tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi di kemudian hari,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, masalah obesitas anak di Kota Bengawan tergambar melalui hasil riset dari Yayasan Gita Pertiwi yang dilakukan pada 2025-2026. Sebanyak 30,9% siswa tingkat SD dan SMP di Kota Solo terindikasi mengalami kondisi gemuk atau obesitas.

Direktur Program Yayasan Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, memaparkan tingginya angka tersebut didapat dari riset yang melibatkan 11 sekolah negeri maupun swasta di Solo, dengan total sekitar 330 siswa sebagai responden.

“Metodenya, kami melakukan pengukuran tinggi dan berat badan anak-anak yang sama secara berkala, bekerja sama dengan mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi. Dari analisis data tersebut, ketemulah angka 30,9 persen siswa mengalami gemuk atau obesitas,” urai Titik saat acara Media Briefing di Solo, Kamis (20/8/2026).

Leave a Reply