Medianusantara.site, GROBOGAN — Peron di Stasiun Kedungjati, Kabupaten Grobogan, mendadak berubah menjadi panggung budaya, Jumat (25/9/2026) siang. Pertunjukan teaterikal yang mengisahkan perjalanan kereta api di Indonesia dari masa ke masa tersebut mengundang rasa penasaran masyarakat.
Momen pertunjukan nostalgia perjalanan panjang transportasi kereta api tersebut menjadi bagian dari perayaan 81 tahun PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan 159 tahun perjalanan kereta api di Tanah Air.
Babak dalam cerita teaterikal itu dibuka dengan proses pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia Semarang-Tanggung pada masa Hindia Belanda. Cerita ini menjadi bagian dari peristiwa sejarah penting karena dari jalur tersebut, moda transportasi kereta api terus berkembang dan menghubungkan berbagai daerah di Tanah Air.
Suasana pertunjukan berubah menggelitik ketika cerita memasuki masa setelah kemerdekaan. Adegan stasiun kereta api yang masih semrawut diperagakan melalui kehadiran pedagang asongan, pengamen, copet, hingga penumpang yang tertipu calo tiket mengundang gelak tawa penonton.
Di balik pementasan tersebut, para pemain Teater Gemati Kota Semarang berusaha membawa penonton menyusuri perubahan wajah perkeretaapian. Dari kereta yang pada awalnya banyak digunakan untuk mengangkut komoditas hingga perlahan menjadi moda transportasi masyarakat dengan layanan yang semakin modern.
Sutradara Teater Gemati Semarang, Kartikawati, mengatakan membawakan cerita sejarah perkeretaapian menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemain. Menurutnya, kisah perjalanan kereta api merupakan cerita penting yang perlu diketahui masyarakat sebagai proses pembelajaran.
“Cerita-cerita epik dan sejarah seperti ini perlu diketahui masyarakat. Mereka harus bangga punya transportasi kereta api. Perasaan kami senang bisa membawakan (sejarah) kereta api di depan umum,” ucap perempuan yang akrab disapa Kartika kepada Espos, Jumat.
Kartika memaparkan pertunjukan teaterikal itu dimainkan dalam tiga babak yang menceritakan perjalanan pengelolaan perkeretaapian dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang hingga pengambilalihan oleh rakyat Indonesia setelah kemerdekaan.
Untuk menyiapkan pertunjukan tersebut, Teater Gemati melakukan riset sekaligus berkoordinasi dengan PT KAI. Materi berupa linimasa dan alur sejarah diberikan sebagai rujukan agar cerita yang ditampilkan sesuai dengan perjalanan sejarah perkeretaapian.
“Cerita masih ada copet, pedagang asongan itu masuk masa setelah proklamasi. Jadi dulu riweh banget, banyak yang harus dibenahi. Tapi setelah itu banyak perbaikan. Saya harap orang yang menonton menjadi paham dan menghargai apa yang dipunya sekarang,” ungkap Kartika.
Teaterikal Hidupkan Kembali Sejarah Kereta Api
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Hakim, mengatakan teaterikal tersebut menjadi cara untuk menghidupkan kembali memori masyarakat mengenai sejarah perkeretaapian, khususnya perjalanan jalur kereta api di wilayah Daop 4 Semarang.
Perjalanan 159 tahun perkeretaapian tidak hanya bisa dikenang melalui catatan sejarah, tetapi juga disampaikan melalui pertunjukan untuk memberikan visualisasi perkembangan moda kereta api dari masa ke masa.
“Historical tadi itu ingin kami hidupkan kembali. Kami ingin mengulang memori masyarakat terkait sejarah adanya jalur perkeretaapian di Indonesia, khususnya yang ada di wilayah Daop 4 Semarang,” tutur Luqman.
Luqman menyebut wajah layanan kereta api mulai banyak berubah sejak 2009. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan saat itu, pola pikir pegawai diubah agar tidak lagi sekadar berorientasi pada produk, tetapi lebih mengutamakan kebutuhan dan kenyamanan penumpang.
“Dulu mindset kami masih product oriented. Kami hanya menjual produk kepada masyarakat, mereka mau silahkan, nggak juga ya sudah. Tapi ketika Pak Jonan datang, pelan-pelan diubah mindset pegawai operator kereta api menjadi customer oriented,” tandasnya.

Leave a Reply