Medianusantara.site, BOYOLALI — Sebanyak 112 kasus kebakaran terjadi di Kabupaten Boyolali sepanjang September 2026. Dari seratusan kasus tersebut, mayoritas merupakan kebakaran lahan atau sebanyak 92 kejadian.
Kabid Damkar Satpol PP Boyolali, Supriyono, mengatakan total sebanyak 117 kebakaran ditangani oleh Damkar Boyolali. Sebanyak lima kejadian kebakaran BKO ke daerah lain, sehingga total ada 112 kejadian kebakaran di Boyolali.
Ia mengungkap sebanyak 177 kejadian terjadi sepanjang September 2026 dan didominasi kebakaran.
“Pada September memang meningkat total, ada 112 kejadian kebakaran di Boyolali, mayoritas adalah kebakaran lahan yaitu ada 92 kasus,” kata dia kepada Espos, Jumat (2/10/2026).
Supri meminta masyarakat untuk tidak sembarangan membakar lahan dan membuang puntung rokok sembarang.
Dia juga mengimbau masyarakat tidak membakar tanaman untuk membuka lahan.
Supri mengatakan total kebakaran yang ditangani Damkar Boyolali dari Januari hingga September di Boyolali mencapai 264 kasus. Pada Januari ada 7 kebakaran, Februari ada 2 kasus, Maret ada 6 kasus, April ada 1 kasus, Mei ada 10 kasus, Juni 20 kebakaran, Juli ada 45 kebakaran, Agustus ada 61 kasus, dan September 112 kasus.
“Kami juga melakukan BKO ke sejumlah daerah, pada Mei 1 kebakaran, Juni 1 kebakaran, Juli tiga kebakaran, Agustus 6 kebakaran, dan September 5 kebakaran,” kata dia.
Supri mengatakan penyebab kebakaran lahan itu mayoritas karena kelalaian manusia. Ketika ada yang membakar sampah atau lahan tidak dipastikan api benar-benar padam saat ditinggalkan.
“Bisa jadi ada yang sengaja membakar lahan untuk mempercepat proses dan mengurangi biaya. Saat mau membersihkan lahan luas, ketika dicarikan pekerja nilainya bisa jutaan. Kalau dibakar sekali sulut selesai. Ada juga yang enggak sengaja,” kata dia.
Faktor Alam
Kebakaran lahan paling banyak terjadi di wilayah Boyolali bagian utara salah satunya Wonosegoro, lalu Mojosongo, dan Ngemplak. Selain itu, faktor alam seperti rumput yang kering hanya sebatas pendukung kebakaran. Gesekan kayu karena alam lalu terbakar memang bisa terjadi, akan tetapi kemungkinannya kecil.
Selain itu, kebakaran lahan juga bisa bergeser menjadi kebakaran bangunan terlebih ketika angin kencang sehingga api cepat merambat. “Kami terus mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu memastikan api benar-benar padam [saat membakar sesuatu]. Lalu, kami juga membuat surat edaran ke kecamatan agar menginformasikan masyarakat agar berhati-hati terkait kebakaran lahan,” kata dia.
Penyebab kebakaran lainnya adalah korsleting listrik. Ia meminta masyarakat tidak menumpuk stop kontak listrik. Selalu juga mengecek kompor sebelum keluar rumah.
Kerugian akibat kebakaran itu, Supriyanto menyebut paling besar di Manyaran, Karanggede, di mana ada 12.000 ekor ayam besar dan 14.000 anak ayam yang mati terpanggang dengan nilai kerugian sekitar Rp1 miliar.
“Untuk yang di Ngemplak ada sekitar 15.000 ekor ayam dengan umur ayam sekitar sepekan,” kata dia.
Damkar Boyolali kini memiliki empat Pos Damkar. Pos Damkar pusat di kantor Satpol PP Boyolali dengan tiga armada pemadam kebakaran, lalu masing-masing satu truk pemadam ada di Pos Wonosegoro, Pos Marhaen, dan Pos Klego.
Apabila terjadi kebakaran dalam skala kecil, masyarakat dapat melakukan pemadaman awal menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) atau peralatan sederhana yang tersedia. Khusus kebakaran tabung gas, langkah pertama yang dapat dilakukan ialah menutup tabung menggunakan kain atau handuk basah serta memutus aliran listrik sebelum melakukan penanganan lebih lanjut.
“Ketika ada kebakaran, selain ditangani sendiri, segera hubungi Damkar Boyolali melalui nomor 0276-321313 atau WhatsApp 0822-9730-1113,” katanya.

Leave a Reply