Kebutuhan Gentengisasi Jateng Capai 4,7 Juta, Baru 21 UKM Ditunjuk

Kebutuhan Gentengisasi Jateng Capai 4,7 Juta, Baru 21 UKM Ditunjuk
Perajin menjemur genting di salah satu rumah industri di sentra kerajinan genteng Meteseh, Boja, Kendal, Jateng, Kamis (4/1/2018). (JIBI/Daerah/Antara/Aditya Pradana Putra)

Medianusantara.site, SEMARANG — Kebutuhan genteng untuk Program Gentengisasi di Jawa Tengah (Jateng) diproyeksikan mencapai 4,7 juta keping. Kendati demikian, dari 61 usaha kecil dan menengah (UKM) yang tercatat dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), baru 21 UKM yang ditunjuk untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Sebanyak 21 UKM genteng yang ditunjuk tersebar di delapan kabupaten, yakni Banyumas, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Jepara, Grobogan, Sukoharjo, dan Magelang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng, July Emmy, mengatakan produsen genteng di Jawa Tengah sebenarnya berjumlah ribuan, meskipun yang tercatat dalam SIINas hanya 61 UKM.

“Kalau angka pasti sulit diidentifikasi karena produsen genteng belum diwajibkan untuk uji keandalan dan SNI [Standar Nasional Indonesia]. Tapi mestinya ada ribuan [lebih dari 61 usaha], contoh Kebumen itu ada sentra UMKM [genteng],” kata Emmy kepada Espos, Jumat (9/10/2026).

Kendati terdapat ribuan UKM genteng, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng untuk sementara hanya menunjuk 21 UKM guna memenuhi kebutuhan Program Gentengisasi. Pemilihan tersebut didasarkan pada kualitas produk dan kemampuan produksi.

“Kalau yang ditunjuk untuk program, ada 21 UKM di delapan kabupaten. [Pertimbangan ditunjuk] ya kapasitas dan kualitas,” jelasnya.

Mengenai permintaan pasar, Emmy menyebut kebutuhan genteng untuk Program Gentengisasi bisa mencapai 4,7 juta keping. Dengan demikian, peluang bagi UKM lainnya untuk ikut memasok genteng masih terbuka lebar.

“Jadi memang peluang masih terbuka sangat lebar,” katanya.

Disinergikan dengan Program 3 Juta Rumah

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jateng, Boedyo Dharmawan, mengatakan Program Gentengisasi akan disinergikan dengan Program 3 Juta Rumah. Pada tahap awal, pemanfaatan genteng lokal diarahkan untuk proyek bedah rumah pemerintah.

“Selanjutnya kami akan mencoba, barangkali ada pengembang atau developer yang kita dorong untuk ikut juga mendukung program gentengisasi ini dengan memanfaatkan genteng pada proyek-proyek perumahan mereka,” kata Boedyo.

Terpisah, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan Program Genteng Jawa Tengah sedianya diluncurkan pada akhir November 2026. Dia meminta pelaksanaan program yang menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) itu disiapkan secara realistis dengan memperhitungkan kemampuan produksi, distribusi, dan pembiayaan.

Luthfi juga meminta kebutuhan genteng pada tahap awal disesuaikan dengan kemampuan produksi industri lokal. Dalam pembahasan, muncul opsi pemenuhan sekitar 600.000 keping terlebih dahulu, sedangkan kebutuhan berikutnya dipenuhi secara bertahap.

“Langkah ini dapat memperluas pasar genteng produksi Jawa Tengah, sekaligus mendorong penggunaan produk lokal dalam pembangunan perumahan,” kata Luthfi dalam keterangannya.

Pemprov Jateng kini tengah menyiapkan peningkatan kualitas dan kapasitas produksi UKM tersebut. Upaya itu antara lain dilakukan melalui pengujian mutu, pendampingan penerapan SNI dan SIINas, serta peningkatan kapasitas produksi.

Melalui standardisasi dan peningkatan kapasitas tersebut, Luthfi berharap genteng lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan program pemerintah, tetapi juga memiliki daya saing lebih kuat untuk memasuki pasar perumahan yang lebih luas.

Leave a Reply